Kita tentu masih ingat kasus bunuh diri (bundir) YBR (10), siswa SD asal desa Nenowea, kecamatan Jerebu’u, kabupaten Ngada yang menghebohkan dan viral hingga level nasional, bahkan hingga ke meja UNICEF.
Hari ini kembali terpetik berita kasus bundir di kabupaten Ngada. Seperti dirilis VoxNTT.com (13/2/2026), telah terjadi satu lagi warga Ngada, seorang ibu muda EN (28), mengakhiri hidupnya, dengan cara meneguk obat serangga cair kemasan satu liter pada Rabu (11/02/2026) sore.
Berita ini tentu sangat mengejutkan dan tidak boleh dijadikan sebagai informasi yang membenarkan tindakan bunuh diri sebagai cara untuk menyelesaikan persoalan.
Kepada siapapun, entah diri kita atau sesama, apabila menghadapai persoalan atau tekanan yang sangat berat dan tergoda untuk melakukan bundir, agar segera mengungkapkan atau menyampaikan beban psikologis itu kepada orang terdekat atau pihak yang kompeten, seperti psikolog atau psikiater. Cara ini adalah jalan keluar untuk membebaskan dan menyelamatkan diri dari resiko terbutruk, seperti bundir yang dapat menimpa diri kita atau orang lain.
Menurut berita, korban EN mengambil jalan pintas bundir karena persoalan dalam keluarga yakni terjadi perselisihan dengan ayahnya sendiri. Digambarkan, bahwa korban EN memiliki sifat cukup temperamental. Hal ini disampaikan kepala pos polisi (kapospol) Bajawa Utara, Barnabas Sogo Kolo, seperti dikutip VoxNTT.
“Korban diketahui memiliki kepribadaian yang cukup temperamental. Korban sempat mengamuk dengan melemparkan sejumlah peralatan dapur, sebelum akhirnya meneguk cairan pembasmi hama dan meninggal dunia”, Jelas Barnabas.
Tindakan nekad korban EN pernah ia lakukan pada tahun 2018, dengan cara yang sama namun, dalam takaran sedikit.
“Tahun 2018 lalu, korban sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan cara serupa namun berhasil tertolong karena dosis obat pembasmi hama yang ia minum masih tergolong kecil,” tambah Barnabas.
Hingga kini, polisi masih mendalami motif EN melakukan tindakan bundiri. Informasi yang sempat dihimpun VoxNtt.com lewat salah satu pegiat medsos asal Ngada, menuturkan bahwa pemicu utamanya adalah karena ketiadaan beras.
Namun hal ini dibantah oleh camat Bajawa Utara, Frederikus Dhoi. Menurutnya, kehidupan korban bekecukupan karena memiliki lahan sawah, punya peralatan dan mesin pertanian. Tempat tinggal pun permanen, memilki kendaraan bermotor sendiri dan hand tractor.
“Kehidupan ekonomi korban boleh dibilang berkecukupan karena memiliki beberapa bidang tanah sawah dan alat-alat mesin pertanian. Mereka sawah paling besar, rumah tembok, punya motor (sepeda motor), punya hand tractor.” tambah Frederikus.
Korban EN meninggalkan tiga orang anak yang masih usia belia. Peristiwa tragis dan memilukan, ini tentu memicu reaksi dan rasa prihatin kita semua.
Wakil ketua DPRD Ngada dari partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Yosef Filius David Jawa, dimuat VoxNtt.com, mengingatkan bahwa kasus kematian akibat bunuh diri di kabupaten Ngada sudah masuk dalam tahap yang mengkwatirkan.
Pernyataan Yosef diperkuat dengan informasi yang disampaikan oleh kepala dinas perlindungan Perempuan dan anak (PPA) yang menyebutkan, angka kasus bunuh diri di Ngada tergolong tinggi. (Sayangnya, PPA tidak menyebutkan berapa angka kasus bundir yang dimaksud tergolong tinggi itu).
(Amatus Bhela)
