Kerinduan yang mendalam dari seorang Katolik adalah hari dimana ia menerima komuni pertama. Komuni pertama adalah suatu peristiwa penting sebagai tanda bahwa ia telah menerima tubuh dan darah Kristus. Ketika menerima komuni pertama orang sungguh percaya bahwa ia telah menyambut Tubuh dan Darah Yesus Kristus dalam sakramen Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi terjadi transsubstansiasi dimana roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Orang yang tidak percaya mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa atau itu hanya sebagai simbol untuk mengenang peristiwa perjamuan malam terakhir. Sehingga perayaan Ekaristi sering diabaikan oleh sebagian umat katolik. Hal ini berbanding terbalik dengan acara syukuran atau pesta komuni pertama yang lebih meriah sehingga menarik perhatian dibandingkan dengan perayaan Ekaristi itu sendiri. Ada suatu kekeliruan yang dihadapi yaitu ketika syukuran penerimaan sakramen selalu ada pesta tetapi orang tidak setia merayakan Ekaristi pada hari minggu. Ada begitu banyak orang yang dijumpai ditenda sukacita komuni pertama tapi tidak dijumpai dalam Gereja. Satu pertanyaan yang harus direnungkan adalah mengapa banyak orang datang ke pesta komuni pertama tetapi tidak banyak yang pergi ke gereja pada hari minggu?
Salah satu kencenderungan masyarakat modern mencari sesuatu yang bersiafat lahiriah yaitu keramaian dan pesta pora tetapi tidak mau mencari hal-hal spiritual yang meneduhkan jiwa dan menyegarkan dahaga akan Tuhan. Pesta lebih menarik perhatian karena disana ada makanan yang melimpah, ada hiburan dengan musik yang keras, ada pertemuan dan perjumpaan dengan kerabat kaluarga. Hal ini bersifat horizontal karena ada perjumpaan dengan sesama yang dirasakan dan menikmati moment itu dengan berfoto bersama, menikmati makanan yang dihidangkan hingga menikmati alunan musik yang berdentum keras. Sebaliknya dalam perayaan Ekaristi ada perjumpaan batiah seorang personal secara vertikal dengan Allah dan horisontal dengan sesama. Dalam perayaan Ekaristi menuntut keheningan, kekhusukan dan penghayatan agar berjumpa dengan Yesus. Kehadiran Yesus Kristus dalam perayaan rupa rati dan anggur yang akan disambut oleh umat beriman hendaknya membawa sukacita dan kedamaian dalam diri dan sesama.
Selain itu budaya lokal masyarakat NTT yang cenderung untuk mengadakan pesta setiap kali menerima sakramen sebagai bentuk syukur dan kebahagiaan. Ada nilai positif yang dijumpai dalam setiap pesta itu yaitu memperkuat dan pempererat hubungan dengan keluarga dan sesama. Ada sukacita dan kebahagian yang dibagikan dalam bentuk lahiiah itu. namun, ada juga nilai negatif yang dijumpai disana yaitu menggeser makna perayaan Sakramental dalam Ekaristi menuju perjumpaan sosial dan hiburan lahiriah. Hal lain lagi adalah biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit untuk mengadakan pesta. Seolah-olah kebahagiaan itu dibalut dibalik krisisnya ekonomi keluarga. Kebahagiaan sesungguhnya bukanlah terletak pada budaya pesta tetapi dalam ketenangan dan kedamaian batin.
Persoalan lainnya yang dihadapi adalah kecenderungan untuk mempersiapkan dan memamerkan pesta komuni pertama tetapi lupa untuk mempersiapkan kerohanian diri dan keluarga dalam menerima sakramen. Kebiasaan menyibukan diri dengan pakaian, dekorasi dan makanan untuk pesta tetapi lupa akan sesuatu yang paling penting yaitu persiapan batin untuk menerima Yesus dalam sakramen Ekaristi. Orang tua berusaha untuk memberikan yang terbaik sampai lupa akn tugas utamanya yaitu mendidik dan membina iman anak-anak. Calon penerima komuni pertama sibuk dengan penampilannya sendiri sampai lupa akan pemahaman pribadi akan pentingnya perayaan Ekaristi dan menerima komuni setelah peristiwa komuni pertama ini. Padahal, menurut konsili Vatikan II dalam dokumen Lumen Gentium nomor 1 menyatakan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak dari seluruh kehidupan kristiani. Dalam perayaan Ekaristi, terjadi pengenangan kembali akan kehidupan Yesus, sengsara, wafat dan kebangkitan. Dalam perayaan Ekaristi Yesus sungguh hadir dalam mengorbankan diri sehingga perayaan itu bukan perayaan ritual yang terus dilaksana setiap hari.
Pesta komuni pertama juga dianggap sebagai adu gengsi untuk menunjukan status sosial, pretise sosial karena berkembangnya budaya konsumerisme dan hedonisme. Banyak orang berlomba-lomba untuk menunjukan diri sebagai orang yang berada dengan mengadakan pesta yang besar dan meriah. Ada anggapan bahwa orang akan diakui apabila ada pengeluaran yang besar meskipun menyisahkan hutang di bank. Hal ini harus dikritisi dengan saksama karena Gereja selalu mengajarkan keserhanaan, kerendahan hati dan saling melayani. Tidak ada pesta bukan berarti miskin atau tidak mampu tapi karena yang penting dari komuni pertama bukan pestanya tapi sukacita karena telah menerima Tuhan Yesus dalam hati yang harus dihidupi terus menerus dengan setia pada perayaan Ekaristi. Ucapan syukur dan sukacita atas rahmat yang diterima dalam komuni pertama itu juga dirayakan dalam kebersama yang berdaya juga bagi diri dan sesama yang juga bersukacita bersama.
Pesta orang NTT selalu diidentik dengan dentuman musik yang kencang baik itu lagu daerah, lagu pop hingga lagu dansa. Dalam pesta ada berbagai tarian, goyang ragam hingga dansa ditampilkan tapi itu semua mulai tidak seni, indah dan tidak estetik karena orang tidak mengetahui filosofinya. Berbagai gerakan diketahui tetapi apakah hal itu juga berlaku di gereja dalam tata gerak liturgi? Tata gerak liturgi yang baik tidak diketahui hanya ikut-ikutan saja. Jangankan tata gerak liturgi, pergi ke gereja saja tidak. Banyak tempat di gereja yang sudah mulai kosong pada perayaan Ekaristi. Orang banyak berdesak-desak untuk mengikuti perayaan Ekaristi pada perayaan natal dan paskah atau “napas”.
Kenyataan ini menjadi tantangan pastoral bagi untuk berkatekese mengenai komuni pertama dan pentingnya perayaan Ekaristi bagi anak-anak, orang muda dan orang tua. Perlu diberi pemahaman mengenai komuni pertama dan perayaan Ekaristi sebagai perjumpaan untuk menerima Yesus dengan sepenuh hati untuk tinggal dalam setiap orang beriman. Partisipasi aktif dalam kegiatan pastoral menjadi prioritas bukan hanya berpartisipasi dalam dalam tenda pesta.
Pada akhirnya, pesta komuni pertama lebih meriah karena kebiasaan yang mencari kebahagiaan yang lahiriah, pengaruh budaya lokal yang selalu mencari yang menyenangkan semata dibalik kesulitan hidup, pengaruh modernitas berupa budaya komsumtif dan hedonis yang berlebihan, pengaruh adu gengsi yang dilihat sebagai penentuan status sosial, pengaruh kebiasaan untuk pamer di media sosial hingga pengaruh budaya menari, goyang ragam hingga dansa yang kehilangan nilai seni dan estetikanya. Perayaan Ekaristi tetap menawarkan keheningan dan kekhusukan dalam doa, sukacita yang dirayakan dalam kesederhanaan dan kedamaian dalam batin untuk diri dan sesama. Komuni pertama sebagai perjumpaan dan menyambut tubuh dan darah Yesus Kristus. Dalam perayaan Ekaristi juga terjadi perjumpaan yang tidak bisa disangkal oleh orang Katolik. Perayaan Ekaristi sebagai anugerah terbesar yang dicurahkan oleh Yesus Kristus kepada manusia. Dengan demikian, komuni pertama perlu disyukuri dan dirayakan dengan pesta yang sederhana tanpa mengabaikan makna komuni pertama dan perayaan Ekaristi yang mencari puncak sukacita yang selalu dicari dan dirindukan oleh orang kristiani.
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
