Entri, Bocah Pengantar Belanjaan Ingin Jadi Tentara

Oleh: Amatus Bhela

Siang itu, Sabtu (7/3/2026) cuaca kota Kupang cukup cerah, walau kadang sang surya tersembunyi dibalik awan yang bergerak perlahan ke arah barat. Dari arah timur,  jalur jalan Eltari menuju pasar Kasih Nakoten Kupang,  saya mengurangi kecepatan mobil dan berbelok perlahan menuju tempat parkiran yang hanya beberapa meter dari jalan masuk menuju pasar.

Di depan mobil berdiri seorang  pria paruh baya, sang juru parkir, dengan suara setengah berteriak: “ Maju…. lagi…lagi, kiri sedikit… terus.. ya…stop! Saya ikuti saja perintah si memandu agar mobil dapat terparkir sesuai lajurnya.

Ketika membuka pintu mobil, tak disangka, di hadapan saya berdiri seorang bocah pria. Usianya lebih kurang 10 tahun. Postur tubuhnya cukup ideal dengan ukuran fisik seorang anak seusianya. Ia mengenakan kaus oblong dan celana pendek berwarna hitam. Cukup rapi. Wajahnya sediktit kusam, namun memancarkan aura ramah. Rambutnya ikal, sayang tak tertata rapi.

Sambil mendongak lehernya mengarah ke wajah saya, ia menawarkan diri untuk menemani saya ke pasar, agar apa yang akan saya belanja nanti biar ia yang  memikulnya.

“ Mau beli apa opa, nanti  beta yang bawa sa.“

“  O… tidak usah anak. Saya cuma mau beli beberapa buah alpokat di dekat situ. Lain kali saja kalau belanjaan banyak e…” Jawab saya sambil menepuk-nepuk bahunya. Tepukan saya paling tidak sekedar meredam rasa kecewanya. Si bocah ini kembali  ke tempat ia duduk semula, di teras depan sebuah gerai yang hari itu tertutup.

Saya terus menuju pasar untuk membeli alpokat, buah yang menjadi makanan favorit saya. Sementara si bocah itu duduk sendirian, termangu, sambil menanti siapa saja yang akan turun dari mobil dan hendak berbelanja di pasar. Merekalah yang akan ditawari jasanya oleh si bocah sebagai pembawa barang belanjaan demi mendapat bayaran, walau mungkin ‘tak seberapa.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 12.45 Wita.

Sambil menenteng tas kresek berisi beberapa buah alpokat, saya kembali ke tempat parkir. Di sana, perasaan dan mata saya kembali tergoda mencari sosok bocah yang sebelumnya menawarkan jasanya untuk menemani saya ke pasar.

Saya tersentak. Si bocah itu ada di sana. Di depan gerai.  Tubuh mungilnya terbaring, terentang menengadah ke langit. Kedua kaki bersandal jepit terbujur lurus, sejajar anak tangga teratas dari teras gerai itu. Kedua tangan menyilang di atas dahinya. Dalam baringan di atas lantai teras, tubuhnya tidak beralasakan apa-apa.

Ya… di depan gerai itu, ia membaringkan tubuhnya. Mungkin ia lelah, atau sekedar melemaskan tubuhnya yang sejak tadi, menanti harapan yang belum juga tergapai. Atau bisa saja, ia sedang bermimpi, menitipkan catatan-catatan angannya lewat awan, yang sedang berarak di bentangan  cakrawala untuk di bawa ke pemilik semesta alam. Itu semuanya hanyalah ilusi  yang singgah sebentar  dalam nurani saya atas kehadiran si bocah di hadapan saya saat itu.

Dengan langkah perlahan, saya mendekatinya. Suasananya memang lengang. Tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Maklum, hari Sabtu adalah hari libur untuk semua instansi pemerintah dan sekolah. Cuma ada lima mobil yang terparkir.

Dengan perlahan, saya menepuk kedua tangannya yang menyilang menutupi dahinya. Ia sedikit kaget, terbangun dan tak disangka, ia tertawa kecil sambil mengusap kedua matanya.

“Adik capek?” tanya saya sambil mengelus kepalanya.

“Sonde opa, beta hanya baring sa.” ujarnya singkat.

Saya mengambil posisi duduk persis di sampingnya.

“Adik nama siapa?” tanya saya membuka obrolan kami siang itu. “Enti”, Ante?”

“Bukan opa, Entri” balas bocah itu mengoreksi kesalahan saya menyebut namanya.

“Oh Entri.” kata saya mengulangi menyebut namanya. Maklum, kualitas pendengaran saya sejujurnya sudah sedikit terganggu karena faktor usia.

Entri, ternyata siswa kelas lima salah satu SD di Kecamatan Kota Raja, kota Kupang. Ia anak bungsu dari enam bersaudara. Entri terlahir dari keluarga sederhana. Ibunya kini tidak bersema mereka. Kata Entri, ibunya pergi merantau ke Sulawesi. Ia sendiri tidak tahu, di Sulawesi bagian mana atau kota mana. Kini, ia bersama ayah dan ke empat saudaranya. Kakak Perempuan nomor dua telah meninggal. Ayahnya kini mencari nafkah untuk keluarga dengan berjualan sirih pinang di pasar Kasih Naikoten. Pendapatan dari jualanan sirih pinang tentu relative tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Dengan kondisi seperti inilah mendorong niat seorang bocah Entri untuk membantu sang ayah.

Saya, dengan Bahasa yang sederhana dan berusaha untuk tidak melukai perasaan Entri, menggali suasana hati dan kehidupan keluarganya. Dikisahkan, ia bangun pagi pukul 05.00 membantu kakaknya sejauh apa yang dapat ia lakukan. Lalu mempersiapkan diri ke sekolah. Sarapan pagi yang saban hari ia nikmati adalah sepiring nasi putih dan sambal. Tidak lebih dari itu.

Baginya, sudah sangat cukup untuk memberi energi baru. Saya bertanya kepadanya, apakah hari ini Entri bolos sekolah?

“Tidak opa, hari ini pulang sedu (lebih awal) jam 10.00, karena hari Sabtu. Kalau Senin sampai Jumat, pulangnya jam 12,00.”

“Jadi setelah jam sekolah, adik ke sini untuk bantu mama-mama atau bapak yang mau belanja?”

“ Iya opa.

“Tapi adik makan ko tidak sebelum ke sini (pasar)?”

“ Sudah makan MBG, opa,” ungkapnya sambil tersenyum.

“ Enak makan MBG?”

“Enak.. opa.”

“Kenyang?”

“Iya, kenyang, opa” jawanya.

Dari obrolan, akhirnya saya tahu, Si Entri menawarkan jasanya kepada siapa saja membawa belanjaan, terpenting ia bisa memperoleh “bayaran” untuk ikut menopang penghasilan sang ayah yang mengais rezeki lewat berjualan sirih pinang. Dengan polos Entri mengakui, hasil yang ia peroleh setiaphari, mulai siang hingga menjelang malam, tidak lebih dari Rp. 20.000. Kadang Rp.10.000, atau Rp. 15.000.

Bagi saya, kekuatan bocah Entri adalah ketulusan dan kejujuran, serta kecintaannya pada ayah dan saudara-saudaranya. Hasil “kerjanya” entah berapa rupiah yang ia dapatkan, seutuhnya diserahkan kepada sang ayah. Tidak seseperpun ia ambil untuk dirinya sendiri. Bayangkan, anak seusia Entri, memiliki kepekaan, dan tanggung jawab, yang sesungguhnya belum dapat dimiliki oleh bocah seusianya.

Bagaimana dengan waktu belajar? Pertanyaan yang sempat saya utarakan ini, dengan enteng ia mengakui bahwa ia belajar atau mengerjakan PR di rumah, setelah kembali dari pasar. Menurutnya, ia berada di pasar mulai waktu pulang sekolah hingga kembali ke rumah pkl. 18.00 atau pkl. 19.00 Wita. Tentu saya mengamini saja apa yang ia bilang. Namun sangat manusiawi jika Entri bisa saja tidak bisa  belajar, karena kelelahan. Bayangkan saja, sejak pukul 07.00 hingga pkl. 12.00 ia harus di sekolah. Selanjutnya ke pasar untuk mengejar sedikit rupiah, lalu kembali ke rumah pada sore atau malam hari. Antara kekaguman dan keprihatinan  pada bocah Entri, lebur menjadi satu dalam perasaan dan pikiran saya.

Dari kisah yang saya rengkuh saat bercakap dengan Entri, walau hanya sesaat, ada satu hal yang ingin saya dapatkan darinya yakni tentang mimpi apa yang ingin ia raih. Siapa tahu, ada mimpi yang  datang bukan dalam tidur lelapnya, tapi dalam angan yang ingin dia raih.

“Adik masih punya semangat mau sekolah terus?”

“Ya opa, saya mau SMP, terus SMA dan nanti mau jadi tentara”, ujarnya dengan suara perlahan tapi jelas terdengar.

“Opa senang mendengar cita-citamu mau jadi tentara. Kalau begitu, adik harus rajin belajar, jaga kesehatan, hormati orang tua, guru, kakak-kakak”, kata saya sambil menepuk-nepuk punggungnya, sebagai motivasi buatnya.

Ada hal yang paling mengiris perasaan saya adalah usia Entri yang masih sangat muda. Ia  bocah yang kini harus ikut merasakan dan turut mengambil beban hidup dari pundak sang ayah demi menopang keluarga. Semestinya bocah seusianya, berkesempatan menikmati masa bermain bersama teman-teman sebaya. Entri pada usianya 10 tahun, tidak seharusnya memilih cara hidup seperti saat ini. Apa mau dikata. Kondisi kehidupan dalam keluargalah memaksanya untuk ikut berkontribusi mengatasi keterbatasan ekonomi keluarga.

Semoga Entri dalam perjalanan hidupnya ke depan, dibukakan jalan terbaik menuju masa depan, meraih mimpinya yang kini tersimpan dalam diam. Sebuah mobil Expander putih perlahan masuk parkiran. Entri dengan sigap berdiri hendak menuju mobil itu. Saya segera meraih telapak tangannya, menyelipkan sedikit selembar rupiah, walau hanya bisa untuk mengobati rasa kecewanya, karena ia tidak sempat menemani saya membeli alpokat, buah kesukaan saya.

Sementara dari mobil Expander, turun seorang opa dan oma, beserta seorang ibu muda meneteng sebuah tas belanja. Entri segera menemui mereka, lalu berjalan beriring menuju pasar. Dalam hati saya berharap, Entri akan memperoleh belanjaan opa dan oma, sehingga ia pun akan memperoleh rezeki untuk diserahkan pada ayahnya hari ini.

Ketika mereka menghilang dari pandangan, saya pun menghidupkan mesin mobil dan pergi.

Ada kata-kata Entri yang masih terngiang dalam perjalanan pulang: Saya Mau Jadi Tentara”. Semoga tercapai cita-citamu, anak! Tuhan Yesus memberkatimu!