Ikatan Mahasiswa Pelajar Lembor (IMAPEL) Kupang melantik 39 pengurus periode 2026–2027 dengan Efaldino Lalu sebagai ketua umum. Pelantikan berlangsung di Hotel Wilma Penfui, Jalan Doktor Herman Johannes, Kupang, Sabtu 24/10/2026.
Pelantikan tersebut mengusung tema “Berjalan Sejajar, Belajar Bersama: Menjadikan IMAPEL Ruang Bertumbuh untuk Pemimpin Masa Depan.” Tema ini menekankan pentingnya persatuan, kesetaraan, dan pembelajaran bersama dalam membangun organisasi yang mampu melahirkan pemimpin muda berintegritas.
Kegiatan itu dihadiri Dewan Pembina, Dewan Penasihat, alumni, serta perwakilan organisasi kepemudaan (OKP). Rangkaian acara meliputi pembacaan struktur kepengurusan, pengucapan janji pengurus, sambutan sejumlah pihak, serta prosesi adat Manggarai berupa torok tae.
Dalam pidatonya, Efaldino menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan, melainkan awal dari tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlangsungan organisasi dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ia menilai generasi muda perlu mengambil peran aktif dalam merespons perubahan yang berlangsung di Manggarai Barat, terutama dalam sektor pariwisata dan pembangunan. Mahasiswa dan pelajar, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi penonton di daerah sendiri, tetapi perlu terlibat dalam menentukan arah masa depan daerah.
“Manggarai Barat butuh anak muda yang tidak hanya pandai bicara, tapi siap memberi dampak nyata. Mari kita jadikan kepengurusan ini sebagai rumah belajar yang kokoh untuk masa depan kita bersama,” ujar Efaldino.
Ia kemudian menjabarkan tiga nilai utama yang menjadi pijakan kepengurusan baru.
Pertama, berjalan sejajar atau lonto leok, yakni membangun organisasi dengan menempatkan setiap anggota secara setara, saling menghargai, dan tidak meninggalkan siapa pun dalam perjalanan bersama.
Kedua, belajar bersama, yaitu menjadikan organisasi sebagai ruang bertukar gagasan, mengembangkan pemikiran kritis, dan meningkatkan kepekaan terhadap persoalan sosial.
Ketiga, ruang bertumbuh, yakni membangun lingkungan organisasi yang mendorong pembentukan pemimpin muda yang cerdas, berprinsip, dan tetap berakar pada budaya.
Torok Tae, Merawat Persaudaraan dan Budaya Manggarai
Nilai kebersamaan dalam pelantikan tersebut juga tercermin melalui torok tae, ungkapan adat Manggarai yang disampaikan oleh Tus selaku pembawa torok dalam rangkaian kegiatan.
Ungkapan adat tersebut memuat doa dan harapan bagi pengurus yang baru dilantik agar mampu menjaga persatuan, memperkuat persaudaraan, dan mempertahankan keberlangsungan IMAPEL Kupang.
Pesan yang terkandung di dalamnya menempatkan organisasi bukan sekadar sebagai wadah berkumpul, melainkan rumah bersama yang membutuhkan komitmen seluruh anggota. Kepengurusan menjadi penggerak, sedangkan kekuatan organisasi bertumpu pada keterlibatan dan solidaritas anggotanya.
Penggunaan torok tae juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan nilai budaya Manggarai dalam kehidupan mahasiswa dan pelajar di perantauan. Melalui tradisi tersebut, identitas budaya tetap mendapat ruang di tengah dinamika kehidupan organisasi dan perkembangan zaman.
Alumni Ingatkan Pentingnya Kepekaan Sosial
Sementara itu, Dewan Penasihat IMAPEL Kupang yang diwakili Gusti Ferdy mengingatkan pentingnya kepekaan mahasiswa dan pelajar terhadap persoalan masyarakat, baik di Manggarai Barat, Manggarai Timur, maupun Manggarai.
Menurut pesan yang disampaikannya, kesadaran terhadap persoalan sosial perlu diterjemahkan ke dalam program dan tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya kepengurusan baru untuk menyusun program kerja yang lebih baik sekaligus merangkul seluruh anggota. Semangat berjalan sejajar harus diwujudkan dalam kebersamaan agar anggota tidak terpecah dan tetap bergerak menuju tujuan organisasi.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan organisasi tidak cukup diukur melalui pelantikan dan pembentukan struktur. Konsistensi menjalankan program, keterlibatan anggota, serta kemampuan merespons kebutuhan masyarakat juga menjadi bagian penting dari tanggung jawab kepengurusan.
Menjadikan IMAPEL sebagai Rumah Belajar
IMAPEL Kupang berawal dari kelompok diskusi mahasiswa asal Lembor yang kemudian berkembang menjadi organisasi pada 18 Mei 1984. Organisasi ini dibentuk untuk mempererat persaudaraan dan menyatukan mahasiswa serta pelajar dalam visi bersama.
Setelah mengalami masa kevakuman, IMAPEL kembali diaktifkan pada 2016 melalui inisiatif sejumlah mahasiswa dan alumni.
Kini, kepengurusan periode 2026–2027 menghadapi tanggung jawab untuk melanjutkan perjalanan organisasi, memperkuat solidaritas, serta membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan kapasitas anggotanya.
Tema “Berjalan Sejajar, Belajar Bersama” menjadi pijakan bagi pengurus untuk membangun organisasi yang tidak hanya berorientasi pada jabatan, tetapi juga pada proses pembelajaran, pengabdian, dan pembentukan karakter.
Ke depan, program organisasi diharapkan mampu mempererat persaudaraan, meningkatkan kemampuan anggota, serta mendorong keterlibatan mahasiswa dan pelajar dalam menjawab persoalan masyarakat, khususnya di Manggarai Barat.
Pelantikan 39 pengurus IMAPEL Kupang menjadi awal dari tanggung jawab tersebut. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan semangat persatuan dan pembelajaran bersama ke dalam kerja organisasi yang konsisten serta manfaat yang dapat dirasakan anggota dan masyarakat.
Dengan demikian, IMAPEL diharapkan tidak hanya menjadi tempat mahasiswa dan pelajar asal Lembor berkumpul di Kupang, tetapi juga menjadi ruang untuk bertumbuh, membangun kepemimpinan, dan mempersiapkan generasi muda yang mampu berkontribusi bagi daerah asalnya.
(Hans Sahagun)
