NTTPos – Sabu Raijua— Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, Profesor dan empat mahasiswa dari National University of Singapore (NUS) melaksanakan kunjungan lapangan ke Pulau Raijua sebagai bagian dari program Impact Experience Project (IEx) yang diselenggarakan oleh NUS College. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi bersama Pemda Sabu Raijua serta Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS).
Pantauan media ini, Dalam kunjungan tersebut, rombongan mengunjungi dua Rumah Inspirasi binaan yayasan GPS di Pulau Raijua, yakni Rumah Inspirasi Tunas Baru serta Taman Baca Tabah Turangga dan Sanggar Seni Tari dan Musik Niki Deo yang terletak di Desa Bolua, Kecamatan Raijua, Sabtu (02/05/2026).
Selain mengunjungi dua rumah inspirasi dan sanggar seni, rombongan yang didampingi ketua Sekaligus pendiri Yayasan GPS, Jefrison Hariyanto Fernando, sala satu Pendiri Yayasan GPS Yulius Boni Geti, para pengurus Yayasan GPS seperti Rivanus Rade Rohi, Nguru Kolo, Sherly Ivona Illu dan Lebe Kolo itu juga mengunjungi dan berbelanja di pusat tenun ikat berbahan pewarna alami dibilangan kelurahan ledeunu.
Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa bersama profesor pendamping berinteraksi langsung dengan pengelola serta peserta program.
Profesor Yueh Siang Chang atau Miss Siang kepada media ini mengatakan bahwa Melalui program Impact Experience Project, mahasiswa NUS diharapkan mampu mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pengalaman lapangan, serta berkontribusi secara nyata dalam menjawab berbagai tantangan sosial di tingkat komunitas, termasuk di wilayah Sabu Raijua.
Dikatakannya, Mereka mempelajari berbagai inisiatif yang telah dijalankan GPS dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan, literasi, dan pelestarian budaya di kalangan generasi muda.
“Kegiatan ini juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara mahasiswa internasional dengan komunitas setempat” ujar profesor siang
Ia menilai, Keberadaan Rumah Inspirasi dan taman baca memberikan manfaat signifikan bagi generasi muda Sabu Raijua, khususnya dalam meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, serta mengembangkan keterampilan dasar seperti komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis. Sementara itu, sanggar seni menjadi ruang penting bagi anak-anak dan remaja untuk menyalurkan bakat di bidang seni tari dan musik, sekaligus menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup dan berkembang.
Ia menjelaskan bahwa, mereka bersama tim bukan kali pertama ke Sabu Raijua ,akan tetapi sudah tiga kali untuk melihat kekayaan budaya dan tenun ikat Sabu Raijua serta berdiskusi banyak hal dengan para pegiat budaya, pegiat literasi, tokoh adat , tokoh masyarakat, para penenun tentang hal-hal yang bisa dikolaborasikan dalam membangun Sabu Raijua kedepan.
Kali ini, kata profesor siang, timnya akan membuat komik cerita rakyat sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Sabu Raijua serta mendukung program literasi budaya yang selama ini digerakkan oleh Yayasan GPS bersama tim.
Ketua Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS) Jefrison Hatianto Fernando menyampaikan harapannya agar ke depan National University of Singapore (NUS) dapat terus menjalin kerja sama dengan GPS dalam mengembangkan berbagai program di bidang pendidikan dan kebudayaan di Sabu Raijua.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Profesor Yueh Siang Chang beserta tim mahasiswa NUS atas kolaborasi yang telah terjalin.
Sebagai organisasi lokal, kata Nando Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS) berperan aktif dalam menginisiasi dan mengelolah berbagai program pemberdayaan masyarakat.
“GPS tidak hanya menyediakan sarana belajar, tetapi juga melakukan pendampingan berkelanjutan, menggerakkan relawan, serta menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan internasional” kata penulis Buku Mitologi dan budaya Sabu Raijua itu.
Saat ini, kata Nando , ada sekitar 4 (empat) rumah inspirasi atau Rumah belajar yang dibina oleh Yayasan GPS, sedangkan ada 3 (tiga) Sanggar Seni yang sementara dibina oleh Yayasan yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kebudayaan itu.
Untuk diketahui bahwa YAYASAN GPS merupakan Yayasan yang telah berdiri sejak tanggal 2 Juni 2015 dan telah menyelenggarakan berbagi kegiatan baik di bidang sosial, pendidikan serta kebudayaan.
