Masyarakat Teknologi

Oleh: Aprianus Tulu

Saya menulis ini sebagai refleksi kritis atas kepekaan manusia di era digital. Sebuah pengalaman sederhana suatu waktu ketika berada di kelas sebelum memulai proses belajar, ada beberapa bangku di sudut ruangan masih belum tersusun rapi. Sesaat kemudian, ada seseorang yang mengajak kami untuk bersama-sama merapikan bangku-bangku tadi. Ada suatu pernyataan demikian “masyarakat teknologi” masyarakat yang bergerak seperti halnya teknologi, ketika diperintah ia bergerak, jika tidak maka sebaliknya.

Demikian sepanjang proses belajar berlangsung saya terus merefleksikan hal ini, dan saya sadar bahwa hal ini sering terjadi dan kita manusia sering menganggap  ini sesuatu yang wajar dalam kehidupan sosial. Kalau kita lihat lebih jauh manusia sedang mengalami krisis identitas sebagai homo socialis dan ens rationale yang seharusnya mampu menggunakan kemampuan berpikirnya untuk melakukan sesuatu tanpa harus menunggu untuk diperintah. Kemampuan berpikir harus mendorong kepekaan seseorang akan sesuatu yang penting bagi kelangsungan kehidupannya baik sebagai individu atau makhluk sosial. Fakta sederhana lain yang sering terjadi misalnya, orang akan membuang sampah pada tempatnya ketika sudah ada perintah, tertib lalu lintas ketika telah mendapat tindakan pelanggaran, atau  hal lainnya. Manusia bertindak pertama-tama bukan oleh karena kesadaran dalam dirinya, tetapi karena ada perintah dari luar dirinya.

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Sebagai makhluk sosial manusia melakukan aktivitas di ruang publik, ia bekerja sama dengan sesama yang lain dan pada fenomena ini Ia menampilkan dirinya sebagai makhluk sosial yang tidak hanya hidup bersama oleh karena jumlah tetapi ada bentuk interaksi melalui komunikasi dan kerja sama. Pada awal kehidupan manusia di masa lampau,  terutama ketika belum ada pengaruh dari kehadiran dan perkembangan teknologi  seperti saat ini, masyarakat sosial benar-benar terbentuk melalui komunikasi dan kerja sama misalnya mereka mengolah tanah, membuat tempat tinggal seperti pondok, dan lain sebagainya. Pada momen ini identitas sebagai homo socialis pun benar-benar terwujud. Mereka hidup berdampingan dan beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup.  semua untuk kepentingan bersama tanpa menunggu perintah. Ada kesadaran sebagai dasar aktivitas. Dalam praktek sosial itu, ada kepedulian, perhatian,  serta solidaritas tanpa batasan tertentu. Ini adalah fakta dalam sejarah kehidupan manusia yang sejak awal mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat sepenuhnya mengandalkan kemampuan pribadinya untuk memenuhi seluruh kebutuhannya ia tetap membutuhkan orang lain sebagai rekan. Sebuah kemajuan dalam kehidupan bersama, tercipta bila ada kerja sama dari setiap pihak sebagai makhluk yang saling membutuhkan. Kepekaan antar sesama menjadi prioritas dalam kehidupan sosial.

Ada ungkapan dari Aristoteles demikian “Homo est Animal Rationale” yang berarti manusia adalah binatang yang berpikir. Pernyataan ini menggambarkan sesuatu yang khas tentang manusia sebagai makhluk hidup, dan berbeda dari makhluk hidup yang lain. Kemampuan berpikir ini menunjukkan bahwa dalam melakukan aktivitasnya manusia selalu diterangi oleh akal budinya untuk semakin manusiawi. Manusia dapat bertindak secara mandiri tanpa harus ada perintah dari luar dirinya, ia tahu akan apa yang penting dan apa yang menjadi kebutuhan utamanya. Ia tidak sama seperti mesin yang tidak dapat beraktivitas secara mandiri atau berdasarkan inisiatif.

Masyarakat Teknologi  

Perkembangan dan kemajuan teknologi telah menjalar dalam banyak aspek kehidupan pribadi dan sosial manusia. Aktivitas manusia sehari-hari jarang terlepas dari penggunaan teknologi.  Ada bentuk penggunaan,  ada juga penyalahgunaan. Manusia hidup berdampingan dan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan  teknologi. Saat ini manusia memang menggunakan teknologi untuk aktivitas hidupnya, tetapi beberapa fakta sederhana yang dijelaskan pada bagian awal, mengggambarkan bahwa sadar atau pun tidak secara perlahan manusia mulai menerapkan cara kerja teknologi (mesin yang diperintah) dalam cara hidupnya sendiri. Kita tahu bahwa teknologi adalah mesin yang bekerja berdasarkan perintah dari manusia (pengguna). Teknologi tidak bergerak oleh karena insiatif atau karena kebutuhannya sendiri, tetapi oleh karena kebutuhan, keinginan penggunanya. Perkembangan teknologi saat ini dipandang sebagai sebuah bentuk kemajuan dalam peradaban manusia. Tetapi apakah benar manusia telah benar-benar maju? Seperti apa bentuk kemajuan yang hendak dicapai oleh manusia? atau sebaliknya cara kerja teknologi tanpa kontrol  telah membawa kemunduran pada cara manusia berpikir dan bekerja.

Penggunaan teknologi tanpa sebuah kontrol berpikir yang bijaksana dapat membawa manusia mencapai sebuah chaos, dan meruntuhkan bentuk kehidupan sosial masyarakat. Kita perlu kritis dan sampai pada kekhawatiran akan sebuah kekacauan. Fakta sederhana misalnya orang-orang mulai terpenjara dalam cara berpikir egosentris seperti yang didefinisikan oleh Gregory Bassham “kecenderungan untuk melihat serta memahami kenyataan sebagai yang berpusat pada diri sendiri”. Akibatnya manusia krisis daya tanggap, kepekaan dalam hidup sosialnya. Di sisi lain kekhawatiran harus sampai pada fakta dimana orang merasa sendiri di tengah kebersamaan oleh karena manusia tidak mampu menerapkan pola hidup sosial yang seharusnya. Aktivitas manusia yang awalnya mandiri selalu terdorong oleh karena kemampuan akal budinya, untuk selalu memiliki kepeekaan  akan sesuatu yang menjadi kebutuhan dan kepentingan bersama, kini bergeser kepada manusia yang melakukan aktivitasnya bila mendapatkan perintah, seperti halnya cara kerja teknologi. Cara kerja teknologi berdasarkan perintah telah diterapkan oleh manusia dalam realitas kehidupannya. Ada pergeseran dari “homo sapiens” menuju “homo digitalis”. Bukan saja itu tetapi juga pergeseran realitas kehidupan manusia dari masyarakat sosial, menuju masyarakat teknologi. Ada fenomena erosi nilai sosial, dimana manusia selalu bergantung pada teknologi, dan empati serta kepeduliaan sosial, tidak lagi menjadi prioritas.

Minimnya kepekaan manusia menampilkan krisis kemanusiaan oleh karena individualisme, yang mengaburkan serta menguburkan solidaritas antar sesama. Manusia memang dalam faktanya mampu hidup bersama, tetapi belum mampu secara maximal untuk menerapkan pola hidup sebagai sesama. Pola hidup sebagai sesama berarti manusia tidak hanya hidup bersama secara fisik, tetapi lebih dari itu selalu ada komunikasi intersubyektif  serta kerja sama yang baik untuk saling memenuhi kepentingan bersama. Pola hidup seperti ini tidak mengunggulkan bentuk individualisme ekstrem.

Kembali Kepada Identitas Sebagai Homo Socialis

Kiranya poin ini dapat menjadi refleksi kritis bagi manusia dalam cara berpikir, cara hidup sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Kita dianugerahi kemampuan berpikir dan hal itu membedakan manusia dengan makhluk yang lain.  Kekhasan itu harus selalu membuat kehidupan menjadi lebih baik dalam berpikir, bertindak, serta tidak mudah untuk mendapat pengaruh negatif dari segala bentuk kemajuan teknologi saat ini yang pada dasarnya adalah hasil dari kemampuan berpikir manusia. seperti tertulis dalam pengantar buku “Homo Socialis”, manusia harus kembali kepada akar kemanusiaan sejati sebagai homo socialis makhluk yang menemukan dirinya dalam relasi, solidaritas, dan praksis kebudayaan.

 

 

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira