Pemuda GMIT EL ROY Batakte Kupang Barat Adakan Lomba Tari Kreasi Tradisional

Mengisi kegiatan Bulan Keluarga, HUT ke 79 GMIT, dan Ulang Tahun ke 509 Reformasi, Pemuda GMIT El Roy Batakte Klasis Kupang Barat, mengadadakan Lomba Tari Kreasi Tradisional antar Rayon, dengan Tema: Harmoni Gerak Mempersatukan Keluarga.

Gelaran lomba berlangsung semarak di pelataran gereja dan disaksikan oleh ratusan jemaat pada Senin (12/10’2026) yang dimulai pkl. 19.00 hingga berakhir pada pkl. 22.00 WITA.

Julius Bili, Ketua Pemuda El Roy Batakte.

Ketua Pemuda Gereja EL Roy Batakte,  Julius Bili dalam sambutan singkatnya, berharap melalui ajang Lomba Tari Kreasi Tradisional dan melalui penilaian dan evaluasi tim juri, dapat memberikan nilai tambah bagi peserta, khususnya bidang minat dan bakat, dan  menghargai keberagaman budaya. “Kami berharap, lewat penilian tim juri malam ini, ada pengalaman baru, ada pembelajaran baru yang berharga bagi kami, dalam pengembangan minat dan bakat, serta menghargai  keberagaman budaya dalam masyarakat kita, khususnya di Batakte” ungkap Julius di hadapan peserta lomba dan ratusan jemaat El Roy yang memadati pelataran gereja malam itu.

Khusus kepada peserta lomba, ia menekankan perhatian pada aspek kebersamaan dan kekeluargaan. “Kepada ke 8 (rayon) peserta lomba, kami berharap lewat lomba ini, kebersamaan dan kekeluargaan lebih dipererat, dan lewat dinamika wujud dari harmoni gerakan dalam tarian dapat dirasakan dalam kehidupan kita ” pinta Julius yang ditujukan khusus  kepada peserta lomba.

Juara I Grup Tari dari Rayon 1.
Juara II Grup Tari dari Rayon 7.
Juara III Grup Tari dari Rayon 5.

Ketua majelis jemaat El Roy Batakte, Pdt. Meliana Oematan Benusus, M.Th kepada NTTPos, mengungkapkan rasa bangga atas terselenggaranya Lomba Tari Kreasi Tradisional yang digelar oleh kaum muda.

Menurutnya, lewat lomba tari, anak-anak dapat  melestarikan budaya, selain mempererat kesatuan dalam keberagaman.

“Yang pertama secara pribadi, saya sebagai pendeta bersyukur, karena ketika ada dalam kegiatan ini, anak-anak tidak saja belajar untuk  melestarikan budaya, tapi mereka juga diberikan kesempatan untuk bagaimana bisa menyatukan perbedaan, memberi dampak yang baik ketika ada dalam sebuah persekutuan. Kedua, kami juga berharapa bahwa ketika kegiatan ini dilaksanakan, semua bisa belajar untuk memadukan apa yang ada pada diri mereka, dan bagaimana mereka menselaraskan budaya itu dalam kehidupan dari perbedaan-perbedaan, demi memperkuat sebuah persekutuan” ujar Pdt. Meliana.

Ketua Majelis Jemaat El Roy Batakte, Pdt. Meliana Oematan Benusu, M.Th.

Lebih lanjut ia meminta kepada peserta lomba agar kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan pada Bulan Keluarga (bulan Oktober), tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami juga berharap, dengan  kegiatan ini, keluarga-keluarga dipersekutukan tidak saja pada  bulan keluarga, tetapi juga dalam kehidupan setiap hari.” pungkasnya.

Mariza Lepangkari.

Mariza Lepangkari, salah seorang gadis, aktivis pemuda Gereja El Roy yang juga salah seorang organis gereja, mengungkapkan kebanggaannya atas terselenggaranya Lomba Tari Kreasi Tradisional di gerejanya.

Menurut Mariza, ajang lomba ini dapat membangkitkan gairah kaum muda yang kini sangat dipengaruhi oleh perkembangan dan kemajuan sarana teknologi.

“Sebagai muda-mudi  Kristiani, lomba ini sangat baik karena bisa membangkitkan semangat anak muda yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan zamam” ujarnya.

Kepada media ini, dengan yakin Mariza mengungkapkan bahwa kaum muda El Roy akan lebih peduli pada hasil peninggalan budaya daerah yang masih bisa di nikmati saat ini.

“Selama ini kami lebih fokus pada kemajuan teknologi, sibuk dengan hand phone, sibuk dengan  perkembangan sosial media. Tetapi melalui lomba ini, kami belajar untuk mengenal dengan baik  seperti apa budaya yang beragam yang ada di NTT ini.” bilang Mariza dengan raut wajah ceria.

Mariza berharap,  dengan  adanya lomba ini yang mana tarian tradisional sebagai salah satu peninggalan warisan budaya daerah yang beragam, boleh terus dikembangkan dan dilestarikan, sehingga generasi-generasi yang akan datang bisa mengenal dengan baik  seperti apa uniknya budaya yang kita miliki.

 

(Amatus Bhela)