Kolaborasi pemangku kepentingan untuk meningkatkan mutu Pendidikan di satuan Pendidikan, SMA Negeri 1 Kupang Barat mengadakan kegiatan In House Training (IHT) selama tiga hari, terhitung mulai Rabu, 2 September hingga Jumat, 4 September 2026. IHT berlangsung di Aula SMA Negeri 1 Kupang Barat dengan jumlah peserta 48 guru.
Kegiatan IHT dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMA/SMK PKLK, Dra. Yosefina Mai, M.Pd, mewakili kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT. Dalam arahannya, Yosefina mengajak segenap guru peserta IHT untuk merefleksi diri masing-masing, sejauh mana tugas yang diemban selama setahun berlalu.
“Hari ini kita betemu dalam rangka In House Training. Untuk apa? Untuk merefleksi perjalanan kita selama satu tahun, bagaimana mengumpulkan kekuatan kita, melihat kelemahan kita dalam perjalanan kemarin, tahun ajaran kemarin.” ujarnya.
Ditegaskan lebih lanjut, bahwa lewat In House Training, para guru dikuatkan kembali dalam kaitannya dengan kompetensi sebagai seorang guru.
“Momentum khusus demi penguatan guru-guru terkait kompetensi. Ada empat kompetensi: pertama pedagogi, kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional.”
Menurutnya, empat kompetensi ini yang melilit dan membingkai tugas para guru. Untuk itu, Yosefina mengajak peserta IHT untuk serius mengkuti kegitan agar mendapatkan penguatan hingga sampai pada implementasinya. Ia sangat mengharapakan agar setelah IHT para guru mendapat penguatan sehinga dapat membangun pola bagaimana menghadapi agenda penting pada bulan Oktober mendatang yakni menghadapi Assesmen Nasional berbasis Kompetensi dan Tes Kompetensi Akademik yang terukur yakni 3 mata Pelajaran wajib dan dua mata Pelajaran pilihan.
“Kita yakin di bulan oktober, apa yang bapak ibu persiapakan melalui strategi-strategi yang akan disampaikan oleh pemateri-pemateri, pasti di Okteober itu anak-anak kita khususnya di kelas 12, mereka punya presatasi lebih dari tahun 2025.” ungkapnya optimis.
Kepada kepala sekolah dan para guru peserta IHT, Yosefina menyampaikan harapan bahwa kepala Dinas Pendidikan akan datang dan hadir sebagai bentuk dukungan kepada para guru.
“Bapak kepala dinas akan datang, hanya waktu kita belum tahu, apakah lewat zoom, atau datang langsung. Saya sudah sampaikan kepada bapak kadis bahwa sekolah itu ( SMA Negeri 1 Kupang Barat, red) ada kelebihan. Mereka itu SMA plus SMK.” bilang Yosefina disambut aplaus para guru.
Sebelum menutup sambutannya, ia menuntut agar pihak sekolah menunjukkan bukti sebagai SMA plus SMK berupa hasil buah karya siswa.
“Buktinya mana. Buktinya kalau kami datang dan lihat secara langsung yang tadi bapak Hendrik (kepala sekolah, red) sudah sampaikan bahwa ada produk-produk, ada es teler, es cream yang bahan dasarnya ubi ungu, ada olahan rumput laut. Untuk launching buku kita undang bapak Kadis untuk datang langsung.” janji ibu kabid kepada peserta IHT.
Untuk diketahui, dalam run down kegiatan IHT, dirangkaikan juga dengan rencana Launching Buku Karya para guru, pegawai dan siswa oleh kepala Dinas Pendidikan Porv. NTT sebagai bentuk implementasi Genta Belis. Berhubung kepala dinas berhalangan, rencana peluncunran buku dimaksud ditunda, sambil menanti informasi lebih lanjut.
Kepala SMA Negeri 1 Kupang Barat, Hendrikus Martinus Buan, S.Pd menyampaikan bahwa IHT merupakan upaya untuk menguatkan dan meningkatkan kompetensi guru sebagai seorang cendekia.
“Kegiatan kita ini merupakan suatu upaya dalam rangka pengembangan kompetensi guru. Kenapa, karena guru itu dituntut untuk memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan. Yang nanti disebut dengan guru adaptif, tidak boleh menjadi guru mal adaptif. Kegiatan ini dilakukan agar menjadi guru hebat, itu bukan saja mengajar di kelas, tetapi tentang kesadaran untuk terus belajar. Belajar untuk bagaimana bisa hadir di tengah-tengah siswa sebagai insan cendekia. Jadi kalau insan cendekia itu akan dirindukan setiap waktu. Jadi kalau kita tidak masuk kelas, atau karena masuk kelaspun dengan tidak siap, itu akan mengganggu siswa.” ungkap Hendrik mengingatkan.
Ditegaskan juga bahwa adanya kegiatan IHT artinya guru belum memiliki kompetensi. “Kegiatan ini bukan berarti kita belum memiliki kompetensi, tapi bagaimana kompetensi itu terus diperbaharui, terus dihidupkan. Seperti komputer terus direfresh. Karena kita lama hadir di kelas, selalu menjadi seorang yang perlu dicontohi, ditiru dan diingat siswa. Oleh karena itu kalau hari ini ada guru yang mengajar menggunakan cara kemarin, itu berarti guru itu akan membawa anak ke masa depan yang tidak baik. Mengapa? Karena cara kemarin itu sudah tertinggal. Memang mungkin tidak seluruhnya tertinggal, tetapi bagaimana menjadi guru yang adaptif, itu sangat penting untuk mengajar di hari ini. Jadi pola yang konvensional itu perlu diubah.” tegas Hendrik di hadapan segenap peserta.
Untuk itu tambah Hendrik, kompetensi professional, pedagogi, sosialnya, kepribadiannya, harus dimiliki seorang guru. Bagaimana kita menyiapkan ini (IHT, red) sehingga berjalan dengan baik. Kami sangat bersyukur mama kabid bisa hadir langsung dalam kegiatan ini. Semua ini bertujuan agar kitab bisa sukses.
Kepada Kabid Pendidikan SMA/SMK PKLK , Hendrik memaparkan produk unggulan SMA Negeri 1 Kupang Barat dalam program One School One Product (OSOP) berupa makanan olahan berbahan ubi ungu dan minyak kelapa murni VCO.
“Kami di sini ada pengembangan kewirausahaan. Sebagai ikon produk di sini adalah ubi ungu, VCO dan produk bawang goreng. Pertimbangannya, bawang di Kupang Barat cukup banyak. Selain itu nanti ada pengembangan pengolahan rumput laut di sekolah. Karena di Kupang Barat rumput laut cukup banyak. Selain itu Kami berencana untuk pameran tahun depan kami juga hadir di harper nanti. Karena itu kamimeminta dukungan fasilitasi untuk label halal.” pinta hendrik.
Literasi bagus, mendukung kemampuan numerasi
Kepala Cabang Dinas Wilayah 1 (Kabupaten Kupang dan TTS) Anna Maria Magdalena Beo Kila, S.IP. dalam paparannya, menekankan pentingnya kemampuan literasi untuk mendukung kemampuan numerasi anak didik.
Ia mengawalinya dengan membaca sebuah puisi berjudul IBU, karya Alfared G. Laibois, siswa kelas XI yang tercantum pada halaman 17 dari Buku Antologi Puisi berjudul Mentari Dari Ufuk Timur. Suasana menjadi hening, sepi ketika puisis IBU dilantunkan dengan nada dan irama sendu.
Usai membaca puisi IBU, Anna Maria mengungkapkan rasa bangga dan kagum. Menurutnya, dalam usianya yang masih kisaran 15 atau 16 tahun, Alfared mampu menuangkan isi hati dan pikirannya lewat sebuah puisi IBU yang sentimentil dan mengharukan.
Selanjutnya ia menekankan betapa pentingnya kemampuan literasi guna mendukung pencapaian kemampuan numerasi.
“Kalau literasi bagus, diharapkan numerasi juga bagus. Numerasi bagus datang dari literasi bagus. Apa yang disampaikan itu terukur, terarah, jelas, sehingga numerasi itu mudah ditangkap.” kata Anna Maria penuh harap.
Lebih lanjut Anna Maria menyentil tentang rendahnya hasil TKA provinsi NTT yang hanya menempati posisi tiga dari bawah untuk level nasional yang terdiri dari 36 Provinsi.
“Jadi kalau numerasi TKA rendah untuk NTT, pertanyaanya banyak. Salah satunya: Apakah literasi kita sangat atau tidak cukup untuk memahami numerasi. Mungkin itu salah satu. Tapi kalau pagi ini kita mendengar tulisan begitu indah oleh anak-anak kita yang umur 15 sampai mungkin 18, mereka menggambarkan sosok ibu seperti ini berarti literasi bagus itu” ungkapnya.
Menurut Anna Maria, ada kaitan yang erat antara literasi dan numerasi. “Jadi jangan omong angka seakan-akan tidak ada hubungan dengan kata. Tidak bisa. Rangkaian kata membuat anak-anak mengerti soal angka. Jadi hubungannya literasi dulu dan diikuti dengan numerasi. Jadi jangan anggap sepele literasi.” ujar Anna Maria mengingatkan.
Gunakan Gawai dengan bijak
Sosok Anna Maria yang berlatar belakang pamong praja terkesan sangan peduli dengan persoalan penyalahgunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari, khususnya anak-anak. Kepada peserta IHT, ia menyinggung tentang surat edaran Menteri Pendidikan nomo 18 tahun 2026, tentang pembatasan penggunaan gawai (handphone) di satuan Pendidikan. Menurutnya, negara sudah sangat serius terhadap dampak yang ditimbulkan oleh gawai sehingga sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk tumbuh kembangnya anak-anak kita.
“Sebenarnya HP ini bagus untuk membantu kita di dunia Pendidikan. Siapa saja bisa tahu apa saja. Persoalannya mau atau tidak, mau tahu minimal berhungan dengan mata pelajaran. Mencari tahu dengan kesadaran sendiri untuk melihat materi yang membantu dan mengembangkan kemudahan bapa ibu dalam proses belajar mengajar.” pinta Anna Maria.
“Peningkatan mutu Pendidikan tidak terlepas dari peningkatan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran dan assesmen. Guru dituntut mampu mengembangkan assesmen yang dapat mengukur kemampuan peserta didik secara komprehensif, termasuk kemampuan memahami, menerapkan, menganalisis, bernalar, dan memecahkan masalah.” demikian disampaikan Obednego Buitlena, S.E., Wakasek Kurikulum SMAN 1 Kupang Barat dalam laporan kegiatan IHT.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa In House Training (IHT) berfokus pada peningkatan kompetensi guru dalam menyusun assesmen bernuansa tes kemampuan akademik (TKA) dengan memanfaatkan hasil analisis rapor Pendidikan. Rapor Pendidikan menjadi salah satu sumber data yang penting untuk membantu sekolah mengidentifikasi kondisi dan capaian pendidikan, melakukan refleksi terhadap permasalahan, serta menentukan langkah perbaikan. Oleh karena itu, lapor Obed, guru perlu memiliki kemampuan untuk menghubungkan data tersebut dengan proses pembelajaran dan assesmen yang dilaksanakan di kelas.
Sepengetahuan media ini, kegiatan IHT sedianya dirangkaikan dengan launching Buku Guru, Pegawai dan murid sebagai wujud nyata dari program GENTA BELIS sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan karya warga sekolah. Sayangnya, launching buku ditunda hingga ada informasi lebih lanjut akan kehadiran kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT.
(Amatus Bhela)
