Persatuan dan Kesatuan: Harapan di Tengah Penderitaan Flores

Oleh: Aprianus Tulu

17-Agustus 2026, Indonesia memasuki usia Ke-81 tahun. Beberapa waktu lalu, menjelang HUT Kemerdekaan Indonesia, masyarakat Indonesia di berbagai tempat ikut memeriahkan dengan mengadakan berbagai lomba bukan saja sebagai hiburan semata, atau euforia HUT Kemerdekaan Indonesia, tetapi lebih dari itu ada semangat persatuan dan kesatuan sebagai sesama manusia, dan juga sebagai warga Negara Indonesia. Namun sebelum itu tepat pada tanggal 15 Agustus-2026, dua hari sebelum perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia, tepat pukul 05.58 WITA terjadi gempa dengan kekuatan 7.7 Magnitudo, yang berpusat di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dan juga beberapa wilayah sekitar.

Gempa dengan kekuatan 7.7 Magnitudo ini, dirasakan oleh masyarakat di seluruh Pulau Flores. BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami beberapa menit setelah peristiwa itu terjadi. Banyak masyarakat yang bergegas untuk menyelamatkan diri. Akibat dari peristiwa gempa ini, berbagai rumah warga, serta tempat umum, mengalami kerusakan parah, dan lebih dari itu ada korban yang luka-luka, hingga meninggal dunia karena tertindih reruntuhan bangunan yang rubuh. Ada duka mendalam yang dialami bukan hanya oleh masyarakat Flores, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

Peristiwa ini tentu menimbulkan trauma bagi banyak orang, terutama mereka yang secara langsung mengalami peristiwa ini. Rumah-rumah yang hancur, korban yang berjatuhan, luka-luka, dan meninggal dunia, pendidikan yang harus dihentikan sementara waktu, serta mereka yang berhenti bekerja untuk kelangsungan hidup sehari-hari karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, menimbulkan penderitaan, dan kehilangan harapan menjelang perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia beberapa waktu lalu. Banyak masyarakat sekitar yang tekena dampak bencana, mencari tempat perlindungan di setiap pengungsian. Hingga saat ini ada ribuan kali gempa susulan yang terjadi di berbagai tempat wilayah Flores.

Penderitaan ini adalah bentuk realitas dalam kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Berbagai cara manusia menanggapinya pun tentu beragam. Di tengah penderitaan ini, satu-satunya yang manusia miliki adalah harapan akan sesuatu yang baik.

Kepedulian dan perhatian dari sesama tentu memiliki peran penting dalam situasi seperti ini. Gempa ini tidak hanya mengguncang Flores, tetapi juga mengguncang tanggung jawab nurani, dan moral setiap manusia, tentang apa yang perlu dilakukan bagi sesama yang sedang berada dalam situasi sulit dan penderitaan. Demikian jika masyarakat Indonesia tidak memiliki kepedulian, dan perhatian maka dengan sendirinya kesatuan dan persatuan runtuh di tengah HUT Kemerdakaan. Tetapi sebaliknya bahwa yang terjadi tidak demikian.

Peristiwa ini banyak menarik perhatian, kepedulian dari berbagai pihak, bukan saja pemerintah Indonesia, tetapi juga masyarakat Indonesia dari berbagai daerah, bahkan kancah internasional. Berbagai bantuan datang dari berbagai tempat oleh karena kepedulian banyak orang. Bantuan dalam bentuk makan, minum, obat-obatan serta berbagai kebutuhan lain yang diberikan tentu penting bagi kelangsungan hidup saudara-saudari kita di Flores. Banyak tenaga kesehatan, relawan, pihak dari berbagai organisasi turun langsung ke lokasi, melewati berbagai medan sulit yang terkena dampak bencana untuk menjalankan misi kemanusiaan. Semua kerja keras ini bukan hanya bentuk tindakan menjalankan tugas sesuai profesi masing-masing, tetapi adalah bentuk pengabdian, kepedulian, perhatian yang menjunjung tinggi martabat manusia, sebagai ciptaan Tuhan. Tindakan saling mendoakan, dan membantu menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia dengan bijaksana dan secara bertanggung jawab mampu mewujudkan persatuan dan kesatuan.

Persatuan dan kesatuan bukan hanya tentang hidup bersama dalam perbedaan, atau partisipasi dalam upacara, dan kegiatan lain menjelang HUT Kemerdekaan Indonesia beberapa waktu lalu, tetapi lebih dari itu ada bentuk nyata persatuan, dan kesatuan, ada solidaritas, dan tanggung jawab moral yang mendukung, serta menjunjung tinggi kemanusiaan di tengah penderitaan. Selain itu berbagai kepedulian ini juga menampilkan suatu bentuk tindakan sosial yang menghadirkan pengaharapan, di tengah penderitaan bahwa selama masih ada sesama manusia, siapa pun tidak berkekurangan. Kehidupan sosial yang tentram adalah bentuk kehidupan yang mampu mempertahankan persatuan, dan kesatuan di tengah berbagai tantangan yang ada, kapan saja dan di mana saja.

Segala bentuk tindakan yang mendukung kemanusiaan di Flores tentu adalah bentuk tindakan  nyata yang terus menghadirkan pengharapan di tengah penderitaan, sehingga saudara-saudari kita tidak merasa sendirian, putus asa, sebaliknya mereka mampu menemukan pengharapan yang membawa inspirasi, dan mampu merasakan bahwa ada makna dan wujud kemerdekaan yang nyata, yang menyentuh segala bentuk kehidupan manusia, bukan saja tentang bebas dari penjajahan, tetapi ada bentuk kepeduliaan, perhatian, solidaritas dari sesama masyarakat Indonesia yang terus  mendukung keberlanjutan kehidupan.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang