Wisata Astronomi atau Astrowisata tidak sepopuler dengan wisata alam lainnya seperti; pantai, gunung, danau, air terjun atau tempat bersejarah. Astrowisata merupakan wilayah wisata yang memiliki kekhasan yakni menikmati keindahan cakrawala langit dengan menyandingkan antara mengamati langit di malam hari seperti stargazing bersama astrofotografi dengan berwisata alam disertai aspek pengetahuannya atau nilai edukasi.
Belum lama ini, saya berjumpa dengan tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dipimpin oleh Dr. Chatief Kunjaya, M.Sc bersama Tim yang terdiri dari 3 dosen dan tiga mahasiswa. Tim ini melakukan peninjauan dan observasi selama enam hari (10 Juni s.d 16 Juni 2026) untuk dijadikan sebagai bahan kajian dan rekomendasi bahwa Sabu sangat layak menjadi salah satu tempat yang paling ideal sebagai tujuan astrowisata di NTT, bahkan di Indonesia, selain gunung Timau di Lelogama Kabupaten Kupang. Kepada penulis, dosen senior yang biasa disapa Dr Kun, menjelasakan berbagai perspektif, mengapa Sabu menjadi tempat yang direkomendasikan untuk dikembangkan sebagai spot astrowisata.
Menurut Dr. Kun, Sabu sangat berpotensi menjadi tempat tujuan wisata asronomi, karena jumlah hari cerahnya tertinggi bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di NTT khususnya dan Indonesia umumnya. Dibandingkan misalnya dengan gunung Timau di Kabupaten Kupang yang kini sudah dibangun Observatorium terbesar di Asia Tenggara, jumlah hari cerahnya kira-kira 67 persen. Dibandingkan lagi dengan Observatorium Bosscha di Lembang Bandung, Jawa Barat, jumlah hari cerahnya hanya 45 persen. Sedangkan Sabu memiliki hari cerah jauh lebih tinggi yakni mencapai 75 persen.
Berdasarkan fakta yang ada, maka Dr. Kun berpendapat bahwa Sabu adalah tempat yang sangat strategis dan memiliki potensi paling bagus untuk dijadikan sebagai tujuan wisata astronomi untuk dikembangkan di NTT ke depan. Namun demikian, ia tidak menafikan daerah lain seperti Rote, Kupang, Rinca di Manggarai Barat untuk dikembangkan sebagai astrowisata walau tidak sebagus Sabu.
Menjadi catatan saat ini ialah masyarakat umum belum mengenal dan memahami tentang apa itu astrowisata. Memang kini sebagian kecil masyarakat NTT sudah mengetahui adanya Observatorium yang dibangun di kawasan gunung Timau, di Kecamatan Lelogama, Kabupaten Kupang. Observatorium di Lelogama merupakan terbesar di Asia Tenggara. Konon alat pengamat benda langit ini belum beroperasi karena masih ada hal teknis yang harus disempurnakan. Meski demikian, dari Gunung Timau, karena pencerahannya minim polusi cahaya, pengunjung dapat menikmati dan menyaksikan keindahan Bimasakti (Milky Way) beserta rasi bintang di bentangan langit bagian Selatan.
Astrowisata Belum dikenal Masyarakat Umum
Kehadiran Tim dari ITB tentunya sangat membantu pemangku kepentingan, baik pemerintah provinsi NTT, maupun pemerintah kabupaten, khususnya pemerintah Kabupaten Sabu Raijua untuk mendukung pengembangan astrowisata lewat pembangunan infrastruktur. Selain itu perlu dukungan dunia usaha atau pemilik modal agar berinvestasi demi mendukung dan merealisasikan astrowisata sebagai salah satu potensi daerah yang bisa menggerakan roda perekonomian masyarakat lokal .
Dr. Kun kepada penulis mengungkapkan, ia pada tahun 2025 pernah bertemu gubernur NTT Melkianus Lakalena dan sudah memperkenalkan prospek Sabu sebagai tempat yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata astronomi. Menurutnya, Gubernur menyambut baik dan tertarik kalau astrowisata dapat dikembangkan di NTT, khususnya di Sabu. Sambutan positif juga datang dari bupati Sabu Raijua, Krisman Bernard Riwu Kore,SE,MM. Menurut pandangan pakar Astronomy ITB ini, bahwa dalam pengembangan astrowisata alam, misalnya pengamatan langit, kalau banyak gangguan awan atau hujan maka para wisatawan akan kecewa. Untuk itu, ia bilang, kita harus mencari tempat yang probabilitas cerahnya tinggi, dan yang tertinggi hari cerahnya itulah NTT, khususnya di Sabu.
Dalam tinjauan dan evaluasi Tim ITB seperti dijelaskan kepada penulis, sebetulnya Sabu bukan menjadi prioritas, namun pengembangan astrowisata di NTT akan dimulai dari Sabu, ungkap Dr. Kun. Selain Sabu, potensi astrowisata yang sudah mulai digarap adalah Astrowisata Timau yang sudah dirintis oleh salah satu dosen astronomi ITB Dr. Anfan. Beliau bersama timnya sedang mengembangkan tempat astrowisata di gunung Timau, apalagi didukung dengan keberadaan observatorium di sana.
Pertanyaannya, apa sesungguhnya aktivitas pengunjung dalam berastrowisata? Bukan mustahil, ada relatif banyak orang yang senang dengan keindahan langit. Mungkin saja bagi orang Sabu, orang Kupang, keindahan langit itu biasa-biasa saja. Padahal sesunguhnya, bagi orang tertentu, keindahan langit bersama isinya adalah sesuatu yang istimewa. Sekedar contoh seperti disampaikan Dr. Kun kepada penulis, pada 2024 ia membawa teman-temannya (wisatawan dari Jakarta). Kata mereka, “ kami belum melihat galaksi. Apa sih galaksi itu? Apakah seindah yang di foto itu? Ternyata, setelah mereka melihatnya sendiri, betapa mereka mengaguminya dan mengatakan indah sekali! Di Sabu, pada malam hari itulah, mereka bisa menikmati keindahan langit, menikmati cahaya bintang-bintang, bahkan mereka merasa betah. Ini salah satu testimoni dari wisatawan yang datang dari kota metropolitan Jakarta, yang mana di sana tentu mereka tidak pernah akan menemukan keindahan cakrawala langit seperti yang dialami di Sabu. Itulah keunggulan astrowista di NTT, kususnya Sabu. Jadi jika astrowisata dikelola dengan baik dan professional dan didukung dengan fasilitas dan infrastrukur yang memadai, maka tidak akan ada tempat lain yang menyainginya.
Untuk mendukung dan menarik wisatawan astronomi, perlu ada fasilitas pendukung yang perlu dikembangkan. Khusus aktivitas melihat, mengamati atau menyaksikan bintang di langit, pengunjung bisa menggunakan teropong atau tanpa teropong. Kalau yang sudah lazim digunakan adalah yang namanya Stargazing, yaitu kegiatan mengamati langit pada malam hari untuk menikmati keindahan bintang, planet, dan fenomena kosmik lainnya. Aktivitas seperti ini sangat popular di Indonesia, karena menawarkan penglihatan obyek dan momen raksasa. Tentu ini akan terjadi ketika lokasi pengamatannya minim polusi cahaya.
Pada tahun 2024, Dr. Kun memperkenalkan Star Bathing. Star Bathing adalah aktivitas wisata atau relaksasi menikmati langit malam yang dipenuhi bintang secara mendalam. Itu lebih dari sekedar melihat (Star Gazing). Ia menjelaskan lebih lanjut, Star Bathing itu tidak menggunakan peralatan apa-apa, tidak membutuhkan pengetahuan astronomi. Hanya menikmati suasana saja. Itu pun banyak yang suka. Bahkan Star bathing itu sudah banyak dibahas di media-media Internasional, seperti di jurnal BBC, Majalah Vox, Majalah Chaina Daily Post. Media-media ini memuat artikel-artikel yang membahas tentang manfaat dari Star Bathing berkaitan dengan kesehatan mental. Kalau orang bekerja di kota, sering dikejar-kejar waktu , target ini target itu, harus cepat selesai, orangnya jadi stress. Adanya Star Bathing itu, stressnya dilonggarkan membuat hatinya lebih tenang,” ujar dosen yang menyelesaikan doktoralnya bidang Astronomy di Jepang pada penulis.
Selain Star Bathing, tahun ini (2026), Dr. Kun memperkenalkan lagi satu bidang yang ia sebut Star Fishing. Star Fishing adalah kegiatan memancing di tengah laut dengan panduan bintang-bintang sebagai acuan arah. Artinya, wistawan yang mau melaksanakan Star Fishing, disarankan belajar terlebih dadulu tentang navigasi bintang, tentang rasi apa saja, bagaimana menggunakan rasi-rasi untuk menentukan arah (timur, barat, utara, atau Selatan).
Sebenarnya, dalam praktek nelayan tradisional, mereka sudah menggunakan Star Fishing. Dalam konteks masa kini, Star fFsing justru ingin mengulangi atau mempraktekkan kembali bagaimana orang-orang dahulu membaca arah di langit. Sekarang orang sudah sulit mengenal arah secara konvensional, karena sudah tidak belajar. Tentu harus belajar. Kalau sekarang sudah ada GPS (Global Positioning System). Jadi dalam Star Fishing, memberi pengalaman kepada wisatawan, bagaimana nelayan zaman dahulu pergi ke tengah laut pada malam hari dengan panduan bintang-bintang sebagai petunjuk arah. Karena pada zaman dahulu tidak ada listrik, tidak ada GPS, tidak ada internet. Mereka bergantung pada alam. Nah, ini memberikan pengalaman itu, memberikan pengalaman suasana itu kepada wisatawan. Kalau sekarang kita pergi agak jauh, mau kembali mudah. Banyak lampu-lampu di pulau. Dulu tidak ada. Semuanya gelap. Kalau semuanya gelap bagaimana menentukan arah. Kalau sekarang sudah tidak digunakan lagi (membaca arah bintang secara konvensional), tapi memberikan pengalaman kepada wisatawan, bagaimana orang dulu melakukan hal itu seperti itu), ungkap dosen pencetus mata kuliah Astrowisata pada FMIPA ITB.
Apa yang dilakukan Dr. Chatief Kunjaya, M.Sc bersama Tim dari ITB dalam upaya pengembangan Astrowisata di NTT, yang mana dapat dimulai dari Sabu dan Gunung Timau di Lelogama Kabupaten Kupang, sepatutnya di respon positif oleh pemerintah daerah baik pemerintahan provinsi NTT maupun Kabupaten. Selama ini terkesan masyarakat, bahkan pemerintah lebih mengagungkan keindahan pantai sebagai tujuan wisata. Padahal ada potensi alam yang tersedia oleh semesta yang dapat dipromosikan dan didayagunakan untuk menarik wisatawan yakni keindahan cakrawala langit dan isinya. Dia ada di Sabu dan di gunung Timau. Kalau bukan sekarang kapan lagi?
