SMAN 1 Kupang Barat Jadi Role Model One School One Product

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur di bawah kepemimpin Emanuel Melkiades Laka Lena, belum lama ini meluncurkan program One School One Product (OSOP). Spirit utama dari program OSOP adalah mendorong setiap satuan Pendidikan di wilayah provinsi NTT, agar mampu menghasilkan produk unggulan yang berbasis potensi lokal, sebagai sarana penguatan ekonomi sekolah dan berimbas pada ekonomi kerakyatan. Program ini tentu selaras dengan harapan bahwa satuan pendidikan (baca SMA/SMK) bisa bertransformasi mejadi ruang lingkup inovasi yang tidak hanya menonjolkan kemampuan akademik, tetapi mampu mengembangkan potensi diri dan karakter siswa dalam berwirausaha (interpreneurship).

Kepala Sekolah, Hendrikus M. Buan, S.Pd.

Dalam rangka menyambut Program OSOP, media ini menemui kepala SMA Negeri 1 Kupang Barat, Hendrikus M. Buan, S.Pd di ruang kerjanya, Kamis (30/04/2026) untuk memperoleh komentar dan tanggapannya tentang budi daya ubi ungu yang menjadi ikon sekolah dalam program OSOP dimaksud. Menurutnya, untuk mendukung program ini (OSOP) tentunya  memulai dari satuan pendidikan.

“Satuan Pendidikan di SMA negeri 1 Kupang Barat, kita mulai dengan one student one product.  One Student One Product diterapkan dengan tujuan untuk mendukung One School One Product.  Kegiatannya adalah pengembangan ubi ungu yang  merupakan ikon SMA Negeri 1 Kupang Barat” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa sekolah telah mempersiapkan 5000  bibit ubi ungu untuk budi daya melalui dua media; masing-masing melalui media polybag sebanyak 3000 dan yang ditanam langsung sejumlah 2000 di atas lahan seluas 5000m2. Penanaman langsung di tanah menggunakan media dengan sistem pembuatan lubang dengan ukuran 1 x 1 m2. Setiap  lubang diberi campuran pupuk organik, tanah humus dan sekam. Perbandingannya 5 tanah, 2 sekam dan 1 pupuk  organik. Setiap lubang ditanam 10 stek anakan ubi ungu. Sedangkan pada polybag ditanam 2 sampai 3 stek. 

Menurut Hendrikus, ketika ditanya tentang jangka waktu antara mulai menanam hingga usia panen, ia meyakni bahwa dalam waktu tiga bulan ubi ungu sudah dapat dipanen hasilnya.

“Untuk usia produksi ubi ungu, dalam waktu tiga bulan hasilnya sudah  dapat kita panen.  Mei, Juni, Juli, dan bulan  Agustus hasilnya dapat dipanen dan taksasi hasil,  setiap dua polybag kita bisa memperoleh minimal 1 kg ubi ungu. Sedangkan untuk tanam langsung di tanah hasilnya antara 4-5 kg.” ungkapnya dengan yakin.

Salah satu Kelompok  Usaha Sekolah.

One Student One Product

Dalam usaha memperoleh produk yang variatif, kepala sekolah Hendrikus, memiliki rencana untuk mengembangkan ubi ungu sebagai bahan dasar menjadi beberapa produk makanan berkualitas agar terwujud One Student One Product. Caranya adalah mengolah ubi ungu dalam bentuk kripik, pudding dan yang lainnya.

“Rencana kita, hasilnya kita tidak menjual mentah, karena dalam rangka  mendukung OSOP, semua ubi ungu akan diolah lagi sehingga mendapat One Student One Product.  Kalau langsung jual ubi, berarti semua siswa produknya hanya satu, katanya. Nanti diolah dalam bentuk beberapa jenis produk, baik itu kripik ubi ungu, pudding ubi ungu, kemudian makanan-makanan lain yang bahan dasarnya dari ubi ungu.” ungkap Hendrikus dengan nada optimis.

Untuk mendukung suksesnya program  OSOP, khusus produk ubi ungu sebagai bahan dasarnya, sekolah akan menyiapkan ruang khusus untuk penyimpanan dan kegiatan pengolahannya. “Rencananya kita mempersiapkan ruang khusus untuk pengolahan. Jadi nanti setelah ubi ini dipanen, akan disimpan di tempat yang sejuk, agar ubi ungu  bisa bertahan lama.  Jadi selama proses pembelajaran,  pengolahan (ubi) akan terus berlanjut. Demikian juga persiapan media tanam,  juga akan tetap berlanjut. Jadi tidak putus”. Bilang Hendrikus.

Ibu  guru Nina Fernandes saat memasukan tanah humus dalam polybag.

Kerja Sama dengan Dunia Usaha dan Pihak lain

Menyinggung tentang tenaga pendamping siswa dalam proses produksi ubi ungu menjadi produk unggulan, ia menjelaskan, bahwa para guru juga akan berperan sebagai pendamping. Selain itu, pihak sekolah akan menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan pihak lain terkait.

“Pendamping dalam proses pengolahan, selain oleh para guru, juga akan bekerja sama dengan dunia usaha. Sehingga selain memberikan edukasi terkait pengolahan ubi ungu,  juga bisa memberikan bimbingan bagaimana pemasaran dan sebagainya. Jadi kita akan bekerja sama dengan pihak lain dalam pengembangannya. Berikutnya nanti tentu Dinas Pendidikan (provinsi NTT) akan menjadi  motivator untuk kita. Dan kita juga bekerja sama untuk mendapatkan lisensi halal pada label produk yang akan dipasarkan seperti di mall, super market, NTTMart dan tempat usaha lain, seperti Koperasi Merah Putih di berbagai desa dan kelurahan.  Tentang label halal pada produk, sekolah sudah berkoordinasi dengan ibu kepala bidang  (Kabid) SMA dinas provinsi NTT.” ungkapnya.

Ditambahkan Hendrikus, bahwa pekerjaan persiapan lahan dan media  untuk budi daya ubi ungu telah berlangsung selama dua pekan. Pantuan langsung NTTPos, para guru pegawai nampak membaur bersama para siswa dalam kelompoknya masing-masing ketika menanam dan menggali lubang di hamparan lahan yang berada di sisi barat sekolah. Masing-masing guru, pegawai dan siswa menyiapkan sendiri bibit (stek) ubi ungu. Ribuan polybag terhampar dan tertata rapi di seputaran halaman tengah sekolah dan lapangan basket. Ada yang sudah disematkan stek ubi ungu, ada yang sedang dalam proses pengisian tanah humus dan pupuk organik. Suasana ceria dan penuh semangat terpancar dari wajah para guru, pegawai dan siswa.

Salah satu KUS sedang menyiapkan lubang untuk ditanami ubi ungu.

Keceriaan mereka sangatlah wajar, karena yang menjadi produk unggulan SMA Negeri 1 Kupang Barat sebagai ikon adalah ubi ungu. Belum ada pikiran untuk produk lain. Tahun ini (2026) khusus ubi ungu. Sebenarnya ubi ungu sudah menjadi tanaman khas di lingkungan SMA Negeri 1 Kupang Barat sejak beberapa tahun silam. Hanya saja selama ini belum dilakukan secara serius seperti tahun ini, baik dari aspek persiapan maupun jumlah bibit yang akan ditanam.

Sebagai kepala sekolah, Hendrikus Buan telah mensosialisasikan program OSOP kepada orang tua/wali siswa. Bak gayung bersambut, orang tua/wali siswa sangat respek dan mendukung pilihan budi daya ubi ungu sebagai produk unggulan sekolah dalam rangka mendukung program pemerintah provinsi.

“Program ini telah disosialisasikan kepada orang tua siswa. Respos orang tua sangat positif. Jadi ketika kita melakukan pertemuan dengan orang tua, orang tua juga sangat mendukung, karena  secara tidak langsung kita telah membangun karakter siswa. Dalam hal bagimana bisa bercocok tanam,  bisa budi dayakan ubi ungu. Salah satu poin penting adalah membangun jiwa  interpreneurship (kewirausaan) mereka (siswa) untuk berkembang. Bagaimana memanfaatkan lahan tidur di Kupang Barat ini banyak. Hanya mereka tidak berpikir bagaimana memanfaatkan lahan tidur ini. Mengapa kita mengambil cara menanam dengan dua wadah yakni pakai polybag dan langsung tanam di tanah. Cara ini untuk  memberi pelajaran kepada anak-anak bahwa tidak ada alasan, kalau tidak ada lahan, kita tidak bisa kerja. Polybag ada, tapi kalau  memang ada lahan, bisa ditanam langsung di lahan yang ada. Jadi tidak ada alasan bahwa dia senang menanam, tapi tidak ada lahan.  ‘kan bisa di polybag juga.” tegas Hendrikus.

Sebagian hamparan lahan yang akan ditanami ubi ungu.

Membentuk Kelompok Usaha Sekolah (KUS) dan Sekolah menjadi Laboratrium

Untuk menjamin efektifitas dan rasa tanggung jawab dalam perawatan budi daya ubi ungu, dibentuk kelompok yang terdiri dari para guru, pegawai yang berbaur dengan siswa. “Sistim perawatan, kita sudah membagi dalam kelompok. Ada 75 kelompok, Namanya KUS, Kelompok Usaha Siswa. Total siswa ada 456. Didampingi oleh guru dan pegawai termasuk kepala sekolah juga punya kelompok. Ada jadwal khusus  perawatan. Walau pada Juni dan Juli ada jeda liburan sekolah, aktivitas perawatan tetap berjalan sesuai jadwal yang telah disusun agar  tetap terjaga kesuburannya” kata Hendrikus.

Kepada media ini, kepala sekolah yang punya kegemaran dan kecintaan menanam dan memelihara taman bunga, mengaharapkan agar program OSOP dapat menggerakan anak-anak (siswa) memiliki pola hidup mandiri, memiliki tanggung jawab, sehingga mereka bisa menata masa depan. “Dengan program ini, anak-anak bisa memiliki suatu pola hidup kemandirian, jadi kita beri tanggung jawab. Dari situ kita bisa mengukur, sejauh mana anak-anak bisa memiliki masa depan. Kemandirian mereka itu harus mulai dibangun dari sekolah sebagi laboratorium. Jadi kalau di sini (sekolah) dia bisa belajar dengan baik, itu akan terbawa sampai ke masyarakat dan di dalam keluarga. Harapan kita adalah karakter seseorang bisa hidup dan tidak bergantung pada orang lain. Ada kemandirian. Dalam rangka mendukung OSOP ini, kita  percaya bahwa melalui kerja keras bersama ini, tentu OSOP ini menjadi sesuatu yang akan dikenal nama NTT. Karena semua sekolah akan berusaha untuk memperkenalkan produk masing-masing. Jadi kita akan menyiapkan produk masing-masing dan orang tidak akan cari di mana lagi karena sudah ada di NTTMart. Di situ ada produk siswa. Di sinilah ada nilai tambah dalam dunia Pendidikan. Apalagi ada gerakan sekarang “membangun ekonomi masyarakat”. Selain itu ada koperasi merah putih. Makanya kita harus punya kemasan dan label dan lisensi terkait makanan yang bisa dikonsumsi.  Kita hitung KDKMP di setiap desa, kita datangi dan kita masukan produk itu luar biasa. Di kupang Barat sendiri ada 10 desa dan 2 kelurahan. Kita bisa jadikan sebagai tempat pemasarannya. Kita utamakan dulu ubi ungu.

Kepada media ini, Hendrikus mengungkpakan bahwa pengembangan ubi ungu di SMA Negeri 1 Kupang Barat akan menjadi role model bagi sekolah lain di NTT. Harapan ini mendapat dukungan dari dinas pendidikan provinsi NTT.

“Kita sudah membangun komunikasi dengan pihak dinas. Dan untuk awal penanaman persiapan ubi ungu ini akan dikunjungi  oleh ibu kepala bidang SMA. Rencananya, sekolah kita ini  akan menjadi role model bagi sekolah lain. Tujuannya agar bisa  membagi pengalaman kepada sekolah lain dalam rangka mendukung OSOP. Sekolah lain juga bisa mendapatkan informasi atau juga pandangan bagaimana pengembangan ubi ungu lewat program OSOP ini. Kami sangat senang sekolah ini menjadi role model, sehingga kami mempersiapkan ini dengan sangat serius.” tutup Hendrikus Buan.

 

(Amatus Bhela)