Smandu Fatbar Lepas 56 Lulusan, Kepsek Yohanes Babang Berpesan: Jujur, Kerja Keras, Rendah Hati, dan Jaga Nama Baik

SMA Negeri 2 Fatuleu Barat (Smandu Fatbar) di Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, melepas 56 siswa kelas XII Tahun Pelajaran 2025/2026 dalam acara pengumuman kelulusan yang berlangsung pada Senin (4/05/2026) pagi di aula serbaguna sekolah.

Kegiatan pengumuman kelulusan dihadiri oleh para siswa bersama orang tua/wali, Ketua Komite dan pengurus Komite SMAN 2 Fatuleu Barat, serta Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GMIT Betel Oelusapi, Pdt. Dorti Nifu Eki. Suasana acara berlangsung penuh haru dan sukacita, yang turut diselingi penampilan siswa berupa monolog, puisi, dan vokal grup.

Ketua Panitia Ujian Akhir Sekolah, Demky A. Ndun, S.Pd., Gr., dalam laporannya menyampaikan bahwa 56 peserta didik telah mengikuti seluruh proses ujian dan memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan, sehingga semuanya dinyatakan lulus.

Ketua Komite SMAN 2 Fatuleu Barat, Christofel Taiboko, dalam sambutannya berharap agar dari 56 lulusan tersebut ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi sehingga menjadi sumber daya manusia yang handal dalam pelayanan masyarakat serta terus membawa nama baik sekolah. Christofel juga meminta orang tua tetap kompak dalam mendukung program sekolah sesuai kesepakatan bersama.

Pesan Kepsek Yohanes Babang: Jujur, Kerja Keras, Rendah Hati, dan Jaga Nama Baik

Kepala SMA Negeri 2 Fatuleu Barat, Yohanes Babang, S.Pd., Gr., dalam sambutannya menggambarkan momen kelulusan sebagai hari yang telah lama dinantikan, yakni hari penentuan setelah tiga tahun perjuangan, di mana keringat, air mata, doa, dan kerja keras akhirnya terjawab.

Kepala sekolah (Kepsek) yang akrab disapa Jack ini mengenang kembali awal perjalanan para siswa pada Juli 2023, saat halaman sekolah dipenuhi siswa baru yang datang dari berbagai daerah seperti Siumatae, Kalali, Nauen, Oelsapi, Bonatama, dan Barate. Yohanes mengenang, ada yang diantar orang tua dengan sepeda motor, ada yang berjalan kaki karena belum ada transportasi, dengan wajah yang campur aduk antara takut dan penasaran.

Menurutnya, dalam kurun waktu tiga tahun atau sekitar 1.095 hari, para siswa mengalami perubahan besar. Mereka yang dahulu malu berbicara di depan kelas kini mampu memimpin upacara, yang sebelumnya memiliki nilai pas-pasan kini dapat membantu adik kelas belajar, dan yang dahulu sering terlambat kini menjadi pengurus OSIS yang disiplin.

Yohanes menegaskan bahwa pendidikan di sekolah tidak hanya sebatas mempelajari mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, atau Fisika, tetapi juga belajar tentang kehidupan, seperti antre, menjaga kebersihan, meminta maaf, menerima kekalahan, serta bangkit dari kegagalan.

Dalam refleksinya, Yohanes mengingatkan firman Tuhan dalam kitab Pengkhotbah pasal 3 ayat 1 bahwa segala sesuatu memiliki waktunya. Ia mengibaratkan perjalanan siswa sebagai proses menanam dan menuai, dari masuk sebagai siswa baru hingga kini keluar sebagai alumni.

Yohanes menyampaikan apresiasi kepada siswa, orang tua, dan guru atas perjuangan bersama hingga mencapai titik perjuangan yang ada, namun ia juga menegaskan bahwa ijazah bukanlah tanda berakhirnya perjuangan, melainkan awal dari perjuangan yang sesungguhnya.

Menurut Yohanes, di luar lingkungan sekolah tidak ada lagi sistem pengawasan seperti di sekolah sebab para siswa akan dihadapkan pada pilihan hidup dan tanggung jawab masing-masing.

“Di luar pagar sekolah ini tidak ada lagi bel masuk pukul 07.15. Tidak ada lagi guru piket yang menjaga di pintu gerbang kalau kalian terlambat. Tidak ada lagi wali kelas yang membuat surat panggilan, tidak ada lagi guru wali yang pergi mencari di rumah kalau kalian tidak hadir. Yang ada hanya kalian, pilihan kalian dan tanggung jawab kalian atas setiap pilihan itu,” pesan Yohanes.

Sebagai bekal, Yohanes lantas menitipkan empat pesan kepada para siswa. Pertama, kejujuran, yang menurutnya merupakan nilai yang sangat mahal dan tidak dapat digantikan.

“Kitab Amsal pasal 12 ayat 22 berkata: Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi orang yang berlaku setia di Kenan-Nya. Lebih baik nilai 70 tetapi hasil kerja jujur, dari pada nilai 100 tetapi hasil dari menyontek. Kejujuran itu mahal anak-anakku. Sekali hilang sulit di dapat kembali. Karakter tidak bisa dibeli dengan apapun,” pesan Yohanes.

Pesan kedua yang disampaikan Yohanes adalah kerja keras, yang diibaratkan seperti tanah Fatuleu Barat yang keras namun tetap dapat menghasilkan jika diolah dengan tekun. Yohanes menyampaikan, “Tanah Fatuleu Barat ini keras. Bapak tau betul. Tetapi bapak juga lihat kalau di cangkul setiap hari , di siram setiap pagi dan diolah dengan baik, jagung tetap tumbuh, padi dan kacang tetap berbuah. Hidup juga begitu. Tidak ada kesuksesan yang jatuh dari langit. Kalau kalian mau dapat hasil, tangan harus mau kotor. Kalau kalian mau sampai jauh kaki harus siap lecet.”

Dalam pesannya yang ketiga, Yohanes meminta para siswa agar selalu rendah hati, dengan tetap mengingat asal-usul dan menghormati orang tua serta tanah kelahiran.

“Setinggi apapun kalian terbang nanti, ingat tanah tempat kalian berpijak. Mungkin lima atau sepuluh tahun lagi ada yang jadi anggota dewan, dokter, polisi, guru, pengusaha atau pejabat. Tetapi tolong kalau pulang kampung jangan menunduk karena sombong. Menunduklah karena hormat pada orang tua dan tanah kelahiran. Orang hebat bukan yang lupa asal, tetapi yang pulang membawa berkat,” pesannya.

Pesan terakhirnya adalah meminta para siswa untuk selalu menjaga nama baik sebagai alumni yang membawa nama sekolah ke mana pun pergi serta menjauhi hal-hal negatif seperti narkoba dan minuman keras.

“Mulai hari ini kalian menyandang nama baru, yakni alumni SMA Negeri 2 Fatuleu Barat. Kemana pun kalian pergi , nama sekolah ini ikut di punggung kalian. Kalau kalian berbuat baik, kami di sini ikut bangga. Kalau kalian tersandung kami disini ikut berduka. Maka jagalah diri. Jauhilah narkoba, minuman keras, dan pergaulan yang merusak. Kalian adalah anak-anak yang dididik dengan doa,” tekan Yohanes.

Kepada orang tua, Kepsek Yohanes Babang menyampaikan terima kasih atas kepercayaan selama tiga tahun serta menegaskan bahwa meskipun tugas sekolah secara formal telah selesai, peran orang tua dalam membimbing anak berlangsung seumur hidup. Ia juga mengingatkan pentingnya kehadiran orang tua sebagai tempat pulang bagi anak di tengah kerasnya dunia luar.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama proses pendidikan, termasuk jika terdapat teguran atau hukuman yang dirasakan berat, yang menurutnya dilakukan semata-mata karena kepedulian terhadap masa depan siswa.

Menutup sambutannya, ia menguatkan para siswa dengan firman Tuhan dari Yeremia 29 ayat 11 tentang rencana damai sejahtera dan masa depan penuh harapan. Ia mengajak para lulusan untuk melangkah dengan iman, kerja keras, dan hati yang bersih, serta tidak takut menghadapi kegagalan.

Ia juga menegaskan bahwa kelulusan 56 dari 56 siswa menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kesatuan hati mampu menghasilkan keberhasilan bersama.

Sebagai penutup, Kepsek Yohanes Babang berpesan agar para lulusan terus melangkah meraih masa depan tanpa melupakan akar di Fatuleu Barat. Ia berharap para alumni dapat kembali membawa cerita keberhasilan dan berkat, serta menjadikan sekolah sebagai tempat pulang kapan pun dibutuhkan.