Ada yang berubah dalam politik kita: ambisi berkuasa semakin meluas, sementara kapasitas untuk memimpin justru kian tipis.
Gila kuasa tak lagi menjadi penyakit politisi. Ia menjangkiti pengusaha, artis, aktivis, agamawan, tokoh masyarakat—siapa saja yang merasa memiliki cukup uang, ketenaran, pengaruh, atau jaringan untuk masuk ke gelanggang kekuasaan.
Tak ada yang salah dengan keinginan mengabdi melalui kekuasaan. Yang mengkhawatirkan adalah ketika keinginan memimpin tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan memikul kepemimpinan.
Ketika kapasitas tidak cukup, tersedia dua modal yang semakin ampuh: uang dan pencitraan.
Uang membeli akses, jaringan, bahkan suara. Politik uang membuat suara rakyat diperlakukan sebagai komoditas: calon membeli, pemilih menerima, lalu transaksi itu disebut mandat.
Jadi jangan terlalu cepat mengatakan bahwa rakyat telah memilih seorang pemimpin. Bisa jadi sebagian dari mereka terlebih dahulu telah dibeli sebagai pemilih.
Tak punya rekam jejak, bangun manipulasi. Tak punya visi, bangun slogan. Tak punya prestasi, bangun popularitas.
Tak punya kemampuan eksekusi, bangun kesan ketulusan.
Begitulah popularitas disebangunkan dengan kemampuan, ketenaran dianggap rekam jejak, dan ketidakcakapan dibuat tak terlihat.
Padahal negara tak dikelola dengan kesan. Ia membutuhkan kemampuan membaca persoalan, menentukan arah, mengambil keputusan, menggerakkan institusi, dan mengubah visi menjadi hasil.
Ironinya, kita sedang mengalami inflasi ambisi sekaligus deflasi kapasitas. Politik menjadi perlombaan mendapatkan kekuasaan sebelum seseorang membuktikan bahwa ia mampu mengembannya.
Yang satu membeli suara rakyat. Yang lain membeli imajinasi rakyat.
Keduanya sama-sama membeli kepercayaan.
Di situlah gila kuasa menemukan bentuknya: cukup uang, cukup citra, cukup suara—lalu jadilah pemimpin.
Padahal memenangkan suara dan memimpin negara adalah dua pekerjaan berbeda. Yang pertama bisa dibantu uang dan pencitraan; yang kedua menuntut visi, kapasitas, rekam jejak, karakter, dan kemampuan bekerja.
Kita kebanjiran orang yang ingin berkuasa, tetapi kekurangan orang yang sungguh-sungguh layak memimpin.
