Mempersiapkan diri menghadapai Ujian Akhir Sekolah, kelompok siswa katolik SMA Negeri 1 Kupang Barat merayakan perayaan ekaristi (misa) di gereja Stasi Santa Maria Fatima Batakte, Kupang Barat pada Senin (30/3/2026).
Misa dipimpin Pastor co-Paroki Romo Marselinus Soge, dihadiri kepala sekolah, para guru, serta orang tua siswa.
Dalam kotbah, Romo Celo, demikian sapaan untuk Romo Marselinus Soge, menekankan bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan membawa kita kepada apa yang dikatakan bonum commune (Bahasa latin), yang artinya kebaikan bersama yakni kebaikan untuk diri tetapi juga kebaikan untuk menyebar meluas kepada banyak orang.
“Namun banyak terjadi, semakin banyak manusia justru dialah yang menghancurkan tatanan kebaikan.” tekan Romo Celo dalam khotbahnya.
Kepada para siswa Romo Celo mengingatkan, proses pendidikan dimulai dari tingkat dasar hingga sekolah lanjutan, sehingga pengetahuan yang didapat harus bisa diserap. Dan, tekan Romo Celo, yang penting adalah lewat pendidikan bisa menjadi orang bijaksana, rendah hati, loyal dan setia seperti nabi Yesaya.
“Proses Pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan SMA, sebentar lagi tamat, maka ilmu pengetahuan harus diserap. Dunia tidak kekurangan orang-orang profesional, tidak kekurangan orang-orang hebat, tidak kekurangan orang-orang pintar. Dunia hanya kekurangan orang-orang bijaksana, orang-orang baik yang dikatakan dalam bacaan pertama yang mana Yesaya sebagai hamba Tuhan. Hamba Tuhan itu, dia rendah hati, dia loyal, dia setia.” khotbah Romo Celo.
Romo Celo menegaskan lebih lanjut bahwa perlu ada keseimbangan antara kecerdasan intekltual dan kecerdasan emosional sehingga para siswa dituntut tidak hanya punya nilai baik, tetapi bisa menjadi manusia yang utuh, yang nilai atau karakternya juga terintegrasi dalam diri.
“Nilai itu angka dalam seperjuangan, tetapi terpenting adalah efek dari nilai itu, efek dari pembelajaran kita saat di sekolah.” tegas Romo Celo.
Sebagai peneguhan kepada para siswa, Romo Celo mengungkapkan, bahwa oleh kepercayaan dan lewat doa serta perayaan ekaristi (misa), anak-anak diberi rahmat dan peneguhan ketika menghadapi arus perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang semakin kuat dan menantang.
“Kita sekalian percaya dan berdoa dalam bentuk perayaan ekaristi ini supaya adik-adik sekalian, itu diberikan Rahmat dan pemahaman bahwa pendidikan itu penting di zaman modern, dan teknologi semakin berkembang, arus persaingan semakin deras dan sangat kuat. Sekarang ini dunia serba instan, AI lebih pintar dari manusia.” demikian Romo Celo mengingatkan.
Sebelum mengakhiri kotbahnya, ia meminta kepada para siswa agar hidup disiplin.
“Saya meminta kepada adik-adik sekalian, ingat kata murid dan disiplin. Murid dan disiplin itu hal yang menyatu. Disiplin asal katanya disipulus dalam Bahasa latin, artinya murid. Tetapi murid selalu berhubungan dengan disiplin. Orang yang berhikmat dia pandai, disiplin. Disiplin itu penting. Disiplin itu soal ketaatan. Ketatan itu juga menyangkut soal moral. Orang yang moralnya baik, itu beriman dan punya ketaatan.“ ujarnya.
Romo Celo menyampaikan harapannya semoga para siswa yang akan mengikuti ujian akhir sekolah, dapat mengikutinya dengan baik. Kepada para guru ia meminta agar bisa mendampingi anak-anak, mendampingi mereka yang lemah, menguatkan mereka ketika mereka menyerah, mengasihi dan mengasuh mereka, karena kini mereka sedang berada di masa remaja. Para siswa tidak hanya dibimbing mangasah otak tetapi juga hati dan pikiran sehingga terintegral dengan moral. Dengan demikian akan membentuk manusia yang bukan hanya lulus tetapi menjadi orang bijaksana dan menjadi orang baik.
Kepala SMA negeri 1 Kupang Barat, Hendrikus M. Buan, S,Pd menyampaikan terima kasih kepada Romo Celo yang bersedia untuk melayani ibadat dalam rangka persiapan ujian akhir sekolah bagi para siswa.
Dalam sambutan singkatnya, Hendrik Buan mengungkapkan bahwa ibadat bagi para siswa merupakan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan.
“Ibadat ini adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Walaupun kita sudah mengajar anak-anak kita, kita sudah pimpin, mereka sudah belajar, tetapi Tuhan pasti campur tangan dalam segala kegiatan, di dalam setiap perjuangan mereka untuk menyelesaikan studi. Jadi kita perlu merendahkan diri di hadapan Tuhan, Tuhan sendiri akan membimbing melalui ujian yang akan anak-anak ikuti.” Ungkapnya.
Ditegaskan pula, bahwa ujian yang dikuti bukan hanya lulus tetapi isinya dan kualitasnya yang penting. Oleh karenanya, ia mengingatkan kepada anak-anak agar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kepada orang tua agar mengawasi anak-anaknya agar tidak pergi ke pesta ke mana-mana, agar terhindar dari hal yang tidak diingikan.
“Bapa mama, menjelang ujian ini jangan kasih ijin mereka (anak-anak) ke pesta, ke mana-mana lagi tak usah lagi. Ada banyak hal bisa terjadi.” pintanya.
(Amatus Bhela)
