Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh sebagai simbol perjuangan pekerja dalam menuntut keadilan, kesejahteraan, dan hak-hak dasar mereka. Namun di Nusa Tenggara Timur, peringatan itu sering kali terasa sebatas seremoni tahunan. Spanduk dipasang, pidato disampaikan, tetapi kehidupan sebagian besar buruh masih jauh dari kata sejahtera.
Pertanyaannya sederhana, tetapi mengusik: apakah buruh di NTT benar-benar sudah merdeka?
Jawabannya tampaknya masih pahit.
Realitas dunia kerja di NTT menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Data menunjukkan sekitar 72–74 persen tenaga kerja di NTT berada di sektor informal. Mereka bekerja sebagai petani kecil, nelayan tradisional, pedagang kaki lima, buruh harian, dan berbagai pekerjaan lain tanpa jaminan penghasilan tetap maupun perlindungan sosial yang memadai.
Secara statistik mereka memang disebut “bekerja”, tetapi dalam kenyataan sehari-hari, banyak dari mereka tetap hidup dalam kecemasan dan keterbatasan. Mereka bekerja setiap hari, namun belum tentu mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak.
Di sinilah ironi itu muncul: tidak semua orang yang bekerja mendapatkan kesejahteraan.
Sektor informal di NTT bukan lagi sekadar alternatif pekerjaan, melainkan telah menjadi jebakan kemiskinan. Pendapatan yang rendah, pemasukan yang tidak menentu, dan minimnya akses terhadap jaminan sosial membuat banyak pekerja sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.
Hal ini terlihat jelas dari angka kemiskinan di NTT yang pada tahun 2025 masih berada di kisaran 18,60 persen. Artinya, lebih dari satu juta warga masih hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pekerjaan belum otomatis menghadirkan kehidupan yang layak bagi masyarakat.
Sayangnya, kondisi seperti ini sering tertutupi oleh narasi keberhasilan pemerintah mengenai turunnya angka pengangguran. Padahal, memiliki pekerjaan tidak selalu berarti memiliki kehidupan yang sejahtera. Banyak warga di NTT tetap miskin meski bekerja setiap hari.
Persoalan ini juga berkaitan erat dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia serta terbatasnya akses pendidikan dan pelatihan keterampilan. Ketika kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan formal semakin sempit, masyarakat akhirnya terdorong masuk ke sektor informal demi bertahan hidup.
Akibatnya, tercipta sebuah lingkaran yang terus berulang: pendidikan yang rendah melahirkan pekerjaan informal, pekerjaan informal menghasilkan pendapatan rendah, dan pendapatan rendah kembali memperkuat kemiskinan.
Di sisi lain, persoalan pekerja migran asal NTT juga memperlihatkan wajah lain dari ketidakmerdekaan buruh. Berulang kali publik mendengar kabar tentang pekerja migran asal NTT yang mengalami kekerasan, eksploitasi, bahkan meninggal dunia di luar negeri. Situasi ini menunjukkan bahwa bagi sebagian masyarakat, merantau bukan lagi pilihan, melainkan keterpaksaan akibat sulitnya memperoleh kehidupan layak di daerah sendiri.
Karena itu, Hari Buruh seharusnya tidak diperingati sebatas seremoni atau slogan tahunan. Momentum ini perlu menjadi ruang refleksi untuk mempertanyakan kembali keberpihakan negara terhadap pekerja kecil.
Apakah pemerintah benar-benar hadir melindungi buruh? Ataukah para pekerja justru dibiarkan berjuang sendiri dalam sistem yang tidak memberi kepastian hidup?
Kemerdekaan buruh tidak cukup hanya diukur dari adanya pekerjaan. Buruh disebut merdeka ketika mereka memiliki pekerjaan yang layak, upah yang manusiawi, perlindungan sosial, dan kepastian masa depan.
Selama sebagian besar pekerja di NTT masih hidup dalam ketidakpastian, maka Hari Buruh belum sepenuhnya menjadi perayaan kemerdekaan bagi mereka.
Meski demikian, harapan tetap ada. Pemerintah perlu membuka lebih banyak lapangan kerja formal, memperluas akses pelatihan keterampilan, memperkuat perlindungan bagi pekerja informal, serta memastikan jaminan sosial benar-benar menjangkau masyarakat kecil.
Tanpa langkah-langkah nyata itu, para buruh di NTT akan terus bekerja keras tanpa pernah benar-benar keluar dari lingkaran ketidakpastian.
Dan selama kondisi tersebut masih berlangsung, setiap tanggal 1 Mei bukan hanya menjadi perayaan Hari Buruh, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan pekerja di NTT masih panjang dan belum selesai.
