Berangkat dari upaya membangun generasi muda yang moderat, toleran, dan mampu menghargai perbedaan dalam berbagai lini kehidupan, Tim Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMA Negeri 1 Semau, Desa Otan, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, pada 28–30 April 2026.
Kegiatan PKM tersebut mengusung tema “Gerakan Siswa Moderat: Sosialisasi Cinta Kemanusiaan dan Penghargaan terhadap Perbedaan di Lingkungan Sekolah.” Tema ini dinilai sangat relevan dengan situasi sosial saat ini, ketika generasi muda semakin rentan terpapar paham intoleransi dan radikalisme melalui berbagai ruang sosial, termasuk media digital.
Ketua Tim PKM, Hermin, menyampaikan bahwa kehadiran tim dosen dan mahasiswa di SMA Negeri 1 Semau bukan sekadar menjalankan program akademik, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab moral perguruan tinggi, khususnya Institut Agama Kristen Negeri Kupang, dalam membangun karakter peserta didik.
“Kami berharap siswa tidak hanya memahami pentingnya toleransi dalam teori, tetapi benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat,” ujarnya.

Pihak SMA Negeri 1 Semau juga menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Marice Lasi, menilai sosialisasi seperti ini sangat penting bagi siswa dalam membentuk karakter generasi muda yang mampu hidup rukun di tengah perbedaan.
Menurutnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang pembentukan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan sikap saling menghargai antar sesama. Karena itu, kehadiran tim dosen dan mahasiswa PAK IAKN Kupang melalui kegiatan PKM dinilai memberi kontribusi positif bagi penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena materi yang diberikan sangat dekat dengan kehidupan para siswa saat ini. Anak-anak perlu dibekali pemahaman tentang pentingnya toleransi, menghargai perbedaan, serta membangun sikap moderat sejak dini,” ungkapnya.
Pihak sekolah juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar para siswa semakin memiliki kesadaran menjadi generasi yang damai, bijaksana, dan mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Materi utama dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Ismail E. Natonis dengan moderator Yandry Diana Dethan. Dalam pemaparannya, Ismail menekankan pentingnya menumbuhkan cinta kemanusiaan sebagai fondasi kehidupan bersama di tengah keberagaman.
Menurutnya, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang cerdas dan kreatif, namun juga memiliki sisi negatif seperti keserakahan dan egoisme yang dapat melukai sesama. Karena itu, nilai kemanusiaan harus terus dirawat dan ditanamkan sejak usia sekolah.
Ia mengutip pemikiran bahwa “kebaikan adalah bentuk kemanusiaan terbaik”, sekaligus mengingatkan para siswa agar tidak mudah menghakimi orang lain.
“Kalau kita terlalu sibuk menilai orang lain, kita tidak punya waktu untuk mencintai mereka,” ungkapnya di hadapan peserta PKM.
Dalam sesi tersebut, Ismail juga menegaskan bahwa nilai agama sejatinya tidak boleh dipisahkan dari nilai kemanusiaan. Ketika kemanusiaan dilukai, maka semua orang yang memiliki hati nurani akan ikut merasa tersinggung.
Ia turut mengingatkan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda saat ini. Karena itu, seluruh elemen pendidikan memiliki tanggung jawab bersama untuk mencegah berkembangnya sikap radikal dan intoleran di kalangan pelajar.
Sebagai bagian dari penguatan karakter moderasi, para siswa juga diperkenalkan pada konsep Kurikulum Berbasis Cinta, yakni cinta kepada Tuhan, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada ilmu, cinta lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negara.
Selain itu, siswa diajak memahami nilai-nilai moderasi seperti bersikap adil, mengutamakan musyawarah, menjunjung perdamaian, menolak kekerasan, menghargai budaya lokal, hingga menjadi teladan bagi sesama.
Suasana kegiatan berlangsung hangat, dinamis, dan interaktif. Para siswa tampak antusias mengikuti dialog dan diskusi selama kegiatan berlangsung. Tidak sedikit peserta yang menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka terkait hidup berdampingan dalam perbedaan.
Selain penyampaian materi tentang toleransi dan cinta kemanusiaan, Tim PKM juga melaksanakan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru Institut Agama Kristen Negeri Kupang kepada para siswa SMA Negeri 1 Semau.
Sosialisasi tersebut dibawakan oleh Fransiska Yanti Nggeong selaku anggota Tim PKM sekaligus dosen IAKN Kupang. Dalam pemaparannya, ia memperkenalkan berbagai program studi, peluang beasiswa, serta kesempatan pengembangan diri bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di IAKN Kupang.
Melalui kegiatan ini, Tim PKM berharap lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, semangat persaudaraan, serta kemampuan menjaga harmoni di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Adapun anggota Tim PKM yang terlibat dalam kegiatan di SMA Negeri 1 Semau tersebut yakni Ismail E. Natonis, Mariyanti Adu, Fransiska Yanti Nggeong, Yandry Diana Dethan, Yulius M. Natonis, serta Frigen Rinaldy Lay dari unsur mahasiswa.
(Hans Sahagun)

