Surat Terakhir Buat Ibu yang Tercecer di Bawah Rimbun Pohon Cengkeh

Oleh: Amatus Bhela

Mengawali tulisan ini, dari isi hati terdalam, saya menyampaikan turut berduka, sekaligus prihatin atas tragedi memilukan, terjadi pada diri seorang bocah berinisial YBS (10), yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Peristiwa  yang menyedot perhatian publik, terjadi pada Kamis (29/01/2026) di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu’, Kabupaten Ngada. Berita pilu ini viral di berbagai media, baik lokal maupun nasional. YBS adalah siswa kelas IV SDN Rutowaja, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu’, Kabupaten Ngada.

Ada hal yang menggugah perasaan dan menggores nurani saya dan mungkin Anda (pembaca), ketika membaca dan menyelami tulisan tangan bocah YBS sendiri, berisi pesan singkat, namun sarat makna, pada secarik kertas kumal, dengan huruf anak seusia SD kelas IV, ditemukan di sekitar Lokasi kejadian. (Kompas.id 2/2/2026).

Untaian kata-katanya ia rangkai dalam Bahasa ibu, bahasa Bajawa. Perkenankan saya mengutip tulisan itu:

KERTAS TI’I MAMA RETI

MAMA JAO’ GALO MATA

MAE’ WOE RITA NEE’ GAE NGAO’  EE

MOLO MAMA

Artinya:

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA, JIKA AKU MATI

JANGAN KAU TANGISI AKU, JUGA JANGAN  MENCARI AKU E…

AKU PAMIT MAMA

(Ini saya terjemahkan secara bebas sesuai konteksnya)

 

Saat mengetik kata demi kata isi  surat bocah YBS dalam tulisan ini, tidak terasa air mata merembes dari kelopak mata, lalu jatuh perlahan, telusuri wajah saya.  (Maaf,  perasaan saya terlanjur jatuh direngkuh kesedihan). Menyadari ini, saya pun segera mengusapnya dengan tisu putih yang biasa tersimpan di balik  laptop. Malu ketahuan sang istri yang tengah duduk tidak jauh dari meja kerja saya. Istri saya sempat bertanya dengan nada mencari tahu,” sedang tulis apa, bapa? “Tentang anak SD yang bunuh diri ”, jawab saya singkat sambil menyembunyikan keharuan. 

Saya mencoba berdiam diri sesaat, sebelum jari-jemari saya kembali beraksi, menyentuh tuts-tuts laptop. Ada rasa penasaran dan memunculkan pertanyaan demi pertanyaan, seakan menggugat nurani saya. Mengapa YBS, seorang bocah, baru berusia 10 tahun, tega mengakhiri hidupnya yang seharusnya masih sangat panjang? Mengapa YBS dibiarkan memikul beban perasaannya sendiri yang begitu berat, padahal ia memiliki seorang ibu, walau tanpa ayah lagi, dan nenek, walau sudah usia senja? Mengapa YBS tidak mau bercerita tentang derita yang ia alami kepada teman, kepada guru-gurunya di sekolah? Mengapa YBS membiarkan kegetiran perasaannya disimpan dalam hati dan pikirannya sendiri? Mengapa dia tidak mau menangis sekuat-kuatnya agar guru-gurunya, teman-temannya, tetangganya tahu, bahwa dia sangat membutuhkan perhatian dan bantuan? Masih banyak pertanyaan terngiang-ngiang dalam alam bawah sadar saya. Mengapa dan mengapa.

Pada saat yang sama, pikiran saya pun melayang jauh hingga ke wilayah seputaran  Kecamatan Jerebuu’. Tiga tahun silam, saya dari kampung halaman Ruto, Kecamatan Inerie, melewati wilayah Jerebuu’ menuju Bandara Turelelo  So’a. Kala itu saya sempat memotret pemandangan dari bukit, ujung Kampung Wisata Megalitikum Bena dengan obyek Desa Jerebuu’ (ibu kota kecamatan),  Desa Nenowea dan Naruwolo sejauh lensa kamera mampu merekamnya. Saya menyaksikan topografi kecamatan Jerebuu’ yang  berbukit dan memiliki lembah yang menghijau, serta  punya ngarai yang terpampang sejauh mata memandang. Desa Nenowea adalah kampung halaman bocah YBS. Setahu saya,  sejak tahun 1980-an, Desa Nenowea  dikenal sebagai daerah  penghasil cengkeh. Apakah julukan itu masih bertahan hingga saat ini, saya tidak tahu. Namun, imajinasi saya menjadi “ambyar” dan paradoksal, ketika  YBS justru mati karena gantung diri pada  pohon cengkeh. Ya,  cengkeh, tanaman yang bunganya harum mewangi, bernilai jual tinggi, bahkan menjadi ikon tanaman perdagangan kebanggaan masyarakat Desa Nenowea. 

Seperti diwartakan berbagai media, mayat bocah YBS ditemukan tergantung pada pohon cengkeh. Pohon itu berada hanya berjarak sekitar 3 meter dari pondok di mana ia dan neneknya tinggal. Tidak disebutkan, apakah pohon cengkeh itu milik orang tuanya atau neneknya. Andaikan pohon itu milik orang tua atau neneknya, apakah selama ini pohon  itu tidak berbunga, sehingga bisa dipetik untuk dijual.  Untuk diketahui, Lipus salah seorang warga setempat, menuturkan, sebelum bunuh diri, YBS meminta uang kepada ibunya, untuk membeli buku dan pena. Sayangnya, permintaan YBS tidak dipenuhi, karena ibunya ketiadaan uang. Ini kisah  yang memilukan. Ternyata, masih ada orang tua tidak mampu hanya untuk  membelikan buku tulis dan pena buat anaknya. Mungkinkah jawaban mamanya membuat YBS kecewa? Apakah jawaban ibunya membuat YBS merasa diri bersalah, karena telah memberi beban hidup pada ibunya, karena ayahnya telah tiada? Atau masih banyak setumpuk persoalan yang tersimpan dan menghimpit perasaan bocah YBS yang malang ini? Mengapa YBS justru memilih pohon cengkeh menjadi tempat ia mengakhiri hidupnya? Dan masih banyak pertanyaan, mengapa dan mengapa! Bagi saya, peristiwa ini adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat ironi dan paradoksal. Pohon cengkeh, pohon kebanggan masyarakat Nenowea, yang dapat menghasilkan uang, ternyata menjadi salah satu pohon pilihan YBS untuk mengakhiri perjalanan hidupnya, karena terhimpit kesulitan ekonomi ibunya. Terlalu sedih untuk dicerna!

Menurut  Lipus Djio (47), ayah dari salah satu teman bermain bocah YBS, menuturkan, beliau mengenal baik korban,  karena YBS sering bermain barsama anaknya. Ditambahkan lipus dalam kesaksiannya, kondisi keluarga korban menghadapi banyak tantangan, membuat YBS lebih memilih tinggal di pondok bersama neneknya.  Menurut Lipus, YBS kurang mendapat kasih sayang orang tua. Ini terjadi karena ayah korban meninggal dunia ketika YBS masih dalam kandungan. Diceritakan pula, sebelum bunuh diri, YBS meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Sayangnya, permintaan YBS tidak dipenuhi, karena ibunya tidak punya uang. Kisah sedih yang menampar perasaan kita semua. (Bdk.Kompas.id 2/2/2026).

Kesaksian Lipus dan gambaran peristiwa kematian bocah YBS dan ada peristiwa bunuh diri anak usia dini  pernah terjadi di tempat  lain, tentu menjadi isyarat, bahwa masih ada persoalan  yang menimpa dan dialami dalam dunia kehidupan anak-anak sekitar kita masa kini. Sayangnya, ternyata penderitaan beban psikologis anak-anak usia dini, masih ada yang  tidak terdeteksi oleh kita: pemerintah setempat, tokoh masyarakat, tokoh umat, guru-guru, tentangga, dan  orang tua itu sendiri. 

Berkaitan dengan persitiwa bocah YBS, dosen Prodi. Psikologi FKM Undana Kupang, Abdi Keraf, S.Psi.M.Psi  dilansir Tribunflores.com (30/1/2026), menjelaskan bahwa keprihatinan kita pada peristiwa kematian YBS, bukan hanya karena usianya yang masih belia, tetapi karena “Pesan singkat yang ditinggalkan sang anak”. Menurut Keraf, secara psikologis,  YBS mau menggambarkan perasaan sedih, kebingungan, dan rasa bersalah yang dipendam. Pesan ini tidak juga menggambarkan adanya kebencian mendalam yang terpendam, melainkan suatu ugkapan emosi anak, yang merasa tidak mampu menghadapi situasi yang sedang dialami. Bahkan, menurutnya, pesan ini bukanlah tanda “keinginan untuk mati semata” melainkan isyarat kuat tentang beban emosional yang tidak tertampung. Diperjelas pula, bahwa anak sekecil ini, seakan ingin meminta untuk dimengerti, namun ia tidak menemukan saluran yang aman untuk menyampaikan perasaannya secara langsung.

Saya tersadarkan oleh uraian psikolog Abdi Keraf di atas. Paling tidak, penjelasannya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya utarakan pada awal tulisan ini. Ternyata, tekanan psikologis anak sering bersumber dari hal-hal yang dianggap biasa, seperti rasa malu dibuli verbal mapun non verbal, konflik keluarga, serta ketiadaan ruang yang nyaman secara emosional untuk bercerita. 

Tragedi yang menimpa bocah YBS, adalah persoalan kemanusiaan. Di zaman modern ini, seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat yang mulai menonjolkan individualisme, konsumerisme, hedoisme , bukan saja terjadi pada masyarakat kota, melainkan sudah mulai merambah hingga ke desa-desa. Sadar atau tidak sadar telah berimplikasi buruk terhadap dunia kehidupan anak-anak kita. Untuk itu perhatian dan perlindungan terhadap anak, khususnya perkembangan psikologis mereka, jangan sampai terabaikan. Di sinilah, peran orang tua, para guru dan pemangku masyarakat sangat dibutuhkan. Khusus bagi para guru (sekolah) bersama orang tua (keluarga) hendaknya selalu menjalin komunikasi yang intes dan terbuka.

Walau akhir-akhir ini ada fenomena terjadi konflik antara pihak sekolah dan orang tua, gara-gara ada beberapa kasus, guru dikriminalisasi karena guru dianggap melakukan kekerasan terhadap anak, namun pada sisi yang lain, guru memiliki tanggung jawab moral menjadi “orang tua kedua” dan pembimbing bagi  anak didiknya. Mengutip Keraf, bahwa peristiwa bunuh diri bocah YBS, seharusnya dibaca sebagai pesan untuk kita semua, bahwa anak-anak membutuhkan lebih dari sekedar pengawasan akademik dan disiplin sosial.

Ada pertanyaan masih terngiang dalam pikiran saya: Apakah bocah YBS mengambil jalan pintas gantung diri, dipicu oleh karena ia tidak dapat dibelikan buku tulis dan pena oleh ibunya? Untuk menjawabnya tentu cukup sulit. Karena dari sekilas latar cerita yang disampaikan Lipus tentang bocah YBS, bisa kita bayangkan ada persoalan yang cukup complicated terjadi dalam keluarga YBS. Saya dan Anda (pembaca) bisa mengambil hikmah dari kisah sedih tentang bocah YBS. Peristiwa ini membawa pesan moral yang menggugah nurani kita, agar  saling memperhatikan, mengingatkan dan berbelarasa, khususnya perhatian terhadap kehidupan anak-anak di sekitar lingkungan di mana kita berada.

Saya membayangkan, bukan berprasangka buruk, apakah selama ini bocah YBS sungguh menikmati menu MBG yang ia terima di sekolah, dan ketika ia mengunyah MBG, pada saat yang sama, ia pun telan bersama  kegetiran hidup yang selalu tersimpan di relung hatinya terdalam. Salah satunya adalah  kecemasan, bagaimana ia bisa menulis pelajaran dan mengerjakan PR, karena ketiadaan buku tulis dan sebuah pena.

Selamat jalan bocah YBS menuju rumah Bapa. Saya teringat akan perkataan Yesus:”Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah ( Lukas 18 : 16).

Selaras dengat kata terakhir bocah YBS buat ibunya:”MOLO MAMA, AKU PAMIT”

 

Batakte, 3 Februari 2026

 

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *