Bunda Maria Sebagai Teladan Hidup: Tanggung Jawab Terhadap Panggilan Ekologis Bagi Bumi Flobamora

Oleh: Fr. Aldy Tulu

Karakteristik Bunda Maria

Dalam kisah pada injil Lukas terutama Lukas 1:26-38, menggambarkan tentang bagaimana Bunda Maria menerima kabar gembira dari malaikat Tuhan. Kisah ini tidak sekedar menghadirkan panggilan Allah terhadap Bunda Maria, dan berhenti pada tahap itu. Ada ada suatu karya keselamatan yang universal bagi semua orang setelah peristiwa panggilan itu terjadi. Pertama ada perjumpaan antara Malaikat Tuhan, dan Maria, kemudian perjumpaan antara Maria dan saudaranya Elisabet. Perjumpaan ini bukan sekedar perjumpaan fisik, tetapi perjumpaan yang menghadirkan sukacita, harapan, serta kasih bagi banyak orang. Mengapa demikian? Bunda Maria ketika mengalami perjumpaan, menerima kabar gembira, dan panggilan dari Allah, ada bentuk penyerahan diri secara total sekaligus menjadi gerbang masuk bagi Yesus sebagai Mesias. Pada titik ini Maria harus keluar dari zona nyaman dan memberi diri secara total untuk menjalani kepercayaan yang telah Allah berikan atas dirinya.

Ada kekhasan dalam perjumpaan, misi, dan panggilan yang dialami oleh Bunda Maria. Pertama bahwa Bunda Maria dengan kerendahan hati, penuh keataan, serta kesetiaan, dalam menerima dan menjalani panggilannya. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Kalimat sederhana ini menggambarkan beberapa karakter dalam kepribadian Bunda Maria yaitu, keataan, kerendahan hati, serta kesiapkan hatinya yang total untuk menerima, dan menjalani panggilan Allah yang telah dipercayakan pada dirinya. Pernyataan Bunda Maria yang menggambarkan karakteristik dalam kepribadiannya, masih sangat relevan untuk kehidupan manusia zaman ini, terkait dengan tanggung jawab ekologi demi menjaga keutuhan ciptaan.

Krisis Ekologi Di Tengah Kemajuan

Kehidupan manusia zaman ini, dengan seluruh bentuk perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan yang membantu banyak hal dalam realitas kehidupan manusia rupanya telah menampilkan keberhasilan manusia dalam menggunakan seluruh keistimewaan akal budi, nurani, kehendak bebas, yang telah Allah berikan. Namun di sisi lain, ada berbagai bentuk penyalahgunaan yang membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia, dan seluruh alam ciptaan. Penyalahgunaan dengan seluruh dampak buruk, kemudian pergeseran pada paham antroposentris menampilkan manusia yang mulai melupakan jati dirinya sebagai rekan kerja Allah, dan menyebabkan kerenggangan antara hubungannya dengan Allah dan sesama manusia, maupun ciptaan lain. Manusia berpegang teguh pada pemahaman antroposentrisme, sehingga selalu menempatkan diri sebagai pusat dari segalanya, mengutamakan kepentingan dirinya sendiri, dan membangun suatu pandangan yang keliru terhadap makhluk ciptaan lain seperti alam, hewan, tumbuhan, sebagai objek untuk memenuhi seluruh keinginan dan kepentingannya. Atas pandangan yang keliru ini, manusia menyalahgunakan kehendak bebasnya, tanpa tanggung jawab. Hal ini terlihat dalam realitas kehidupan manusia setiap hari mulai dari hal-hal sederhana seperti, membuang sampah tidak pada tempatnya, hingga hal-hal lain seperti, penebangan pohon secara liar tanpa reboisasi, penggalian tambang, pembukaan lahan besar-besaran untuk kepentingan tertentu tanpa analisis mengenai dampak lingkungan yang mendalam, penggunaan teknologi secara berlebihan yang merusak alam. Akibat dari berbagai tindakan ini munculnya berbagai persoalan seperti polusi, masalah air bersih, hilangnya keanekaragamanhayati, dan lain sebagainya.

Sekitar dua bulan yang lalu pada tanggal 15 Agustus-2026, tepat pukul 05.58 WITA terjadi gempa dengan kekuatan 7.7 Magnitudo, yang berpusat di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dan juga beberapa wilayah sekitar. Setelah peristiwa itu masih ada ribuan kali gempa susulan yang terjadi. Gempa ini meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang, terutama saudara-saudari kita yang mengalaminya dan menjadi korban. Di sisi lain banyak saudara/i di daerah pelosok yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan dan mengonsumsi air bersih, mengalami kekeringan, kegagalan pertanian, dan lainnya. Dalam sudut pandang ilmu pengetahuan hal ini secara umum disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor alamiah, dan faktor sosial karena aktivitas manusia. Peristiwa ini sekaligus menjadi jeritan bumi Flobamora, dan panggilan ekologis bagi seluruh manusia. Peristiwa bencana alam ini, tidak saja mengguncang bumi, tetapi juga mengguncang nurani, menuntut tanggung jawab, dan refleksi kritis manusia, atas relasinya dengan Allah dan sesama ciptaan, manusia, tumbuhan, serta seluruh alam ciptaan.

Dasar Martabat Manusia

Manusia adalah ciptaan Allah, dan manusia secara istimewa disebut sebagai “Imago Dei” merujuk pada pengertian manusia sebagai rupa Allah. Dalam Gaudium et spes disebutkan martabat manusia terletak pada identitasnya sebagai Imago Dei. Hal ini mengarah pada tiga hal mendasar, pertama bahwa manusia memiliki relasi yang erat dengan Allah, kedua manusia memiliki relasi dengan sesama sebagai makhluk sosial, dan ketiga manusia memiliki relasi dengan alam, sebab manusia hidup dan juga bergantung pada alam. Kemudian oleh karena manusia sebagai Imago Dei, manusia mendapat keistimewaan dari Allah, keistimewaan itu nampak pada anugerah dari Allah atas manusia seperti hati nurani, kehendak akal budi, serta kehendak bebas. Allah menganugerahkan seluruh keistimewaan dan menjadikan manusia sebagai rekan kerja-Nya bukan semata-mata sebagai ciptaan, tetapi sebagai rekan kerja Allah untuk mengusahakan, merawat serta memelihara seluruh karya ciptaan-Nya. Manusia tidak diberi keistimewaan dari Allah untuk menjadi penguasa tunggal atas seluruh ciptaan, dan menyalahgunakan kehendak bebas yang telah Allah berikan demi kepentingan dan keinginan dirinya sendiri.

Bunda Maria Sebagai Teladan Untuk Kembali Kepada Akar Sebagai Imago Dei

Bunda Maria melalui hidupnya memberikan teladan bagi segenap manusia untuk kembali kepada akar keberadaan dan martabat manusia manusia sebagai Imago Dei. Sejatinya manusia adalah gambar atau rupa Allah, yang dianugerahi berbagai keistimewaan untuk menjadi rekan kerja Allah dalam mengusahkan, menjaga, dan merawat seluruh alam ciptaan. Pertama Maria oleh karena ketaatannya, ia dipilih dan dipanggil oleh Allah. Melalui ketaatannya Maria mengungkapkan bahwa ia siap bekerja sama dengan Allah atau siap menjadi rekan kerja Allah. Bunda Maria yang memberikan teladan ketaatan dalam mengikuti kehendak Allah, mengajak manusia untuk kembali merendahkan diri di hadapan Allah, memberi diri secara total dengan segenap hati, budi, untuk merawat dan menjaga seluruh alam ciptaan. Manusia harus taat kepada Allah, dalam menjalani seluruh tanggung jawab yang telah Allah percayakan. Kedua, melalui teladan akan kerendahan hati Bunda Maria mengajak agar manusia mampu menurunkan ego akan keinginan, dan prioritas pada kenikmatan sementara dalam pengelolaan sumber daya alam. Manusia perlu sadar bahwa seluruh alam ciptaan di dunia ini adalah milik Allah. Manusia bukanlah pemilik tetap akan semuanya, sehingga tidak punya kebebasan tanpa tanggung jawab dalam menggunakan seluruh sumber daya alam untuk memenuhi keinginan, dan kebutuhan yang bersifat sementara. Kerendahan hati mengantar manusia untuk kembali menyadari bahwa, manusia hanyalah rekan kerja Allah, bukan pengganti Allah atas kepemilikan seluruh karya ciptaan. Ketiga melalui kesiapan serta kesetiaan dalam menerima dan menjalani panggilan Allah, Bunda Maria memberikan teladan bahwa, sebagai Imago Dei, manusia dipanggil secara khusus untuk membantu Allah dalam mengusahakan alam ciptaan. Bunda Maria mengarahkan agar manusia mampu mendobrak, serta membangun keberanian untuk keluar dari zona nyaman yang berdasarkan pada pandangan antroposentrisme, dan memberikan diri dalam menjaga dan merawat bumi. Manusia perlu mengusahakan secara bertanggung jawab, dan tidak menyalahgunakan kehendak bebasnya.

Tanggung Jawab Ekologis Bagi Bumi Flobamora

Bumi Flobamora menjerit, dan membutuhkan suatu bentuk pemulihan secara bertahap dari realitas kehidupan manusia setiap hari. Masyarakat Flobamora perlu menjadi penggerak utama, dalam menjaga keutuhan lingkungan hidup. Panggilan ekologis dari bumi Flobamora mendobrak egoisme, dan prioritas yang keliru terhadap kepentingan sesaat, untuk kembali kepada kewajiban serta tanggung jawab sebagai rekan kerja Allah dalam merawat alam ciptaan. Bunda Maria dengan pribadinya yang taat, setia, rendah hati, serta pemberian diri untuk menerima dan menjalani panggilan Allah, mengajak dan memberikan teladan bagi seluruh masyarakat Flobamora untuk berani keluar dari zona nyaman, dari pandangan keliru yang menjadikan manusia sebagai pusat, dan penguasa atas ciptaan lain.

Sama seperti perjumpaan antara malaikat Tuhan dengan Bunda Maria, perjumpaan Bunda Maria dengan Elisabet, demikian perjumpaan antara sesama manusia harus menghadirkan sukacita yang total, menghadirkan harapan di tengah penderitaan melalui solidaritas, gotong royong, dalam menjalani tanggung jawab sebagai rekan kerja Allah. Perjumpaan manusia dengan seluruh makhluk ciptaan lain di Bumi Flobamora, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, pun harus menghadirkan pengharapan akan kehidupan yang bebas dari eksploitasi, serta tindakan sewenang-wenang yang menjadikan ciptaan lain sebagai objek, atau alat untuk memenuhi keinginan serta kepentingan sesaat masyarakat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *