Gerakan Anak Muda Hindu Se-Indonesia Himpun Rp50,65 Juta, Relawan Salurkan 6 Ton Bantuan untuk Korban Gempa di Flores

Solidaritas anak muda Hindu dari berbagai daerah di Indonesia bergerak membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Melalui gerakan kemanusiaan yang dikoordinasikan dari NTT, total donasi yang berhasil dihimpun mencapai Rp 50.650.000

Aksi kemanusiaan tersebut dilaksanakan oleh Tim Relawan Hindu Dharma Peduli Flores, yang merupakan tim gabungan bentukan DPP Peradah NTT dan KMHDI NTT.

Donasi yang terkumpul kemudian diwujudkan dalam berbagai kebutuhan pokok dan perlengkapan bagi masyarakat terdampak bencana. Total bantuan yang dibawa mencapai sekitar 6 ton dan diangkut menggunakan dua kendaraan menuju Desa Waling dan Desa Gololalong, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

‎Tim relawan memulai perjalanan dari Kupang pada 3 September 2026 menggunakan kapal feri ASDP menuju Pelabuhan Aimere. Setibanya di Pulau Flores, tim langsung melanjutkan perjalanan darat menuju Kecamatan Borong untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

‎Bantuan yang disalurkan meliputi beras, air mineral, mie instan, sabun, biskuit, susu, sosis, minuman kemasan, minyak kayu putih, minyak telon, popok bayi, pembalut perempuan, vitamin dan obat-obatan, hingga terpal untuk kebutuhan masyarakat pascabencana.

‎Dalam proses penyaluran bantuan, Tim Relawan Hindu Dharma Peduli Flores turut berkoordinasi dengan unsur TNI dan Polri. Perjalanan serta kegiatan di lokasi juga didampingi oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas Kecamatan Borong.

Kehadiran tim mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. Di Desa Waling maupun Desa Gololalong, para relawan diterima secara adat oleh kepala desa bersama masyarakat setempat. Bahkan, kedua desa menggelar upacara adat Kepok khas Manggarai sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih kepada para relawan yang telah datang membawa bantuan.

Masyarakat menyampaikan rasa bahagia dan antusias atas kedatangan Tim Relawan Hindu Dharma Peduli Flores. Berdasarkan informasi yang diterima tim dari masyarakat setempat, bantuan yang datang menjadi sangat berarti karena akses bantuan ke wilayah mereka masih terbatas.

‎Ketua DPD Peradah NTT, Putu Satria Muloyadi, mengatakan gerakan tersebut merupakan wujud nyata kepedulian generasi muda Hindu terhadap persoalan kemanusiaan tanpa melihat perbedaan latar belakang masyarakat yang terdampak.

‎“Gerakan ini lahir dari rasa kemanusiaan dan semangat persaudaraan. Bantuan yang kami bawa bukan hanya berasal dari masyarakat NTT, tetapi merupakan hasil gotong royong anak-anak muda Hindu dan para donatur dari berbagai daerah di Indonesia. NTT menjadi pusat gerakan penggalangan dan penyalurannya, tetapi semangat solidaritasnya datang dari seluruh Indonesia,” ujar Putu Satria.

Menurutnya, nilai terbesar dari gerakan tersebut bukan hanya terletak pada jumlah bantuan yang disalurkan, melainkan pada hadirnya rasa persaudaraan di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit pascabencana.

‎“Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban masyarakat dan membantu memenuhi kebutuhan mereka selama proses pemulihan. Kami ingin menunjukkan bahwa ketika saudara-saudara kita menghadapi bencana, anak muda Hindu harus hadir dan mengambil bagian dalam kerja-kerja kemanusiaan,” lanjutnya.

‎Senada dengan itu, Ketua KMHDI NTT, Putu Eka Saputra, menegaskan bahwa aksi tersebut menunjukkan kekuatan gotong royong generasi muda Hindu ketika dikonsolidasikan untuk kepentingan kemanusiaan.

“Penggalangan dana ini adalah gerakan bersama anak muda Hindu se-Indonesia yang pusat konsolidasinya berada di NTT. Dari semangat gotong royong tersebut kita berhasil menghimpun donasi sebesar Rp50,65 juta dan menyalurkan kurang lebih enam ton bantuan kepada masyarakat terdampak. Ini membuktikan bahwa solidaritas yang dibangun bersama dapat menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat,” kata Putu Eka.

‎Putu Eka menambahkan, kehadiran relawan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan material masyarakat. Tim juga berupaya membantu pemulihan psikologis, khususnya bagi anak-anak yang mengalami ketakutan dan trauma setelah bencana.

‎Di sela-sela kegiatan penyaluran bantuan, para relawan mengajak anak-anak Desa Waling dan Desa Gololalong mengikuti sejumlah kegiatan hiburan seperti bernyanyi, bermain, dan menari bersama.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk menciptakan kembali ruang kegembiraan bagi anak-anak sekaligus membantu mengurangi sisa-sisa trauma setelah mengalami gempa bumi.

‎“Bencana bukan hanya meninggalkan kerusakan secara fisik, tetapi juga rasa takut, terutama bagi anak-anak. Karena itu kami tidak ingin hanya datang membawa sembako. Kami ingin hadir, menemani, mengajak mereka kembali tersenyum dan perlahan menjemput kembali kedamaian yang sempat hilang akibat bencana,” ujar Putu Eka.

‎Setelah menyelesaikan rangkaian penyaluran bantuan, tim menempuh perjalanan kembali melalui Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende, sebelum menyeberang dari Pelabuhan Ende menuju Kupang. Tim dijadwalkan tiba kembali di Kupang pada Senin, 7 September 2026, setelah menjalankan misi kemanusiaan selama lima hari.

Tim Relawan Hindu Dharma Peduli Flores berharap bantuan yang dihimpun melalui solidaritas anak muda Hindu se-Indonesia tersebut dapat meringankan beban masyarakat, membantu proses pemulihan pascabencana, serta menguatkan kembali semangat masyarakat untuk bangkit.

Gerakan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa di tengah bencana, solidaritas kemanusiaan harus melampaui sekat organisasi, daerah, suku, maupun agama. Bagi Peradah dan KMHDI NTT, kehadiran generasi muda di tengah masyarakat yang sedang mengalami kesulitan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial sekaligus pengabdian kepada bangsa.

 

(Hans Sahagun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *