Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang, Josefina M. D. Getha, S.T., M.M., menegaskan bahwa event budaya bukan sekadar ruang hiburan dan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi sarana memperkuat daya pikir, merawat identitas budaya, mempererat kebersamaan serta menggerakkan ekonomi masyarakat. Hal itu disampaikannya saat membuka secara resmi Event Budaya Tingkat Kelurahan Nefonaek Tahun 2026, Kamis (6/8/2026) malam.
Festival budaya yang mengusung tema “Merajut Kebhinekaan, Melestarikan Budaya, Menguatkan Persatuan” tersebut digelar Pemerintah Kelurahan Nefonaek, Kecamatan Kota Lama, di lapangan bola Kelurahan Nefonaek dan berlangsung selama tiga hari, 6-8 Agustus 2026.
Menurut Josefina yang akrab disapa Evie, kegiatan tersebut merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Kota Kupang di bawah kepemimpinan Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Serena Francis, khususnya dalam bidang kebudayaan dan kepariwisataan.
Ia mengatakan, melalui festival budaya, berbagai potensi dan aset seni budaya daerah dapat terus diwariskan dan dilestarikan kepada generasi muda. Karena itu, kegiatan budaya harus dilihat lebih jauh dari sekadar pertunjukan.
“Event budaya tidak hanya hiburan semata, tetapi strategis dalam memperkuat daya pikir, merawat identitas, mempererat persaudaraan dan menggerakkan ekonomi masyarakat serta semangat gotong royong,” kata Evie.
Ia berharap kegiatan semacam itu dapat memacu semangat pengurus RT/RW dan pemerintah kelurahan untuk terus membangun lingkungan yang rukun, kreatif, bersih dan saling peduli.
“Kita yakin event ini memacu semangat gotong royong karena budaya yang hidup melahirkan masyarakat yang kuat, dan masyarakat yang kuat akan membawa kemajuan bagi daerahnya. Itulah semangat yang akan membawa kita mewujudkan Kota Kupang sebagai Kota Kasih, rumah bersama yang maju, mandiri, sejahtera dan juga berkelanjutan,” ujarnya.
Pesan tentang kebhinekaan tersebut tampak dalam rangkaian pertunjukan yang melibatkan pelajar, mahasiswa, orang muda, orang tua, seniman dan kelompok kesenian dari berbagai latar belakang.
Para pelajar dan mahasiswa tampil memeriahkan panggung budaya dengan aneka tarian dan lagu daerah. Persembahan Lion Dance yang dibawakan orang muda bersama para orang tua juga menjadi salah satu penampilan yang menarik perhatian masyarakat.
Salah satu pertunjukan yang mencuri perhatian warga adalah Tarian Sekar Jagat dari etnis Bali di Kota Kupang. Selain itu, suasana festival semakin semarak dengan persembahan lagu-lagu daerah oleh San Jose Choir.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan para seniman, budayawan, tim kesenian serta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang memanfaatkan momentum festival untuk memasarkan berbagai produk mereka.
Lebih dari 10 stand UMKM dibangun warga lokal untuk menjajakan aneka kuliner khas Nusa Tenggara Timur maupun kuliner Nusantara, termasuk produk pangan lokal, makanan dan minuman serta berbagai produk ekonomi kreatif dan cenderamata.
Bagi masyarakat yang membuka lapak, festival budaya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka peluang ekonomi secara langsung. Christin, salah seorang warga Kelurahan Merdeka yang menjual aneka kue, mengaku mendapatkan omzet sekitar Rp350.000 hanya dalam waktu empat jam berjualan sejak sore.
“Terima kasih Pemerintah Kota Kupang, Pak Wali dan jajaran, juga Pemerintah Kelurahan Nefonaek yang menghadirkan kegiatan ini. Semoga besok jualan kami ludes,” ujar Christin bersama rekannya.
Hal serupa dirasakan Marni, salah seorang penjual minuman segar. Ia mengaku memperoleh pendapatan sekitar Rp350.000 hingga pukul 20.00 WITA dari dagangannya.
“Lumayan, Kak. Hingga jam 8 malam ini dapat Rp350.000,” ujarnya kepada media.
Kehadiran UMKM dalam festival tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan budaya dapat menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat.
Festival Budaya Nefonaek ternyata tidak hanya menarik perhatian warga Kota Kupang. Seorang wisatawan asing asal Spanyol bernama Emanuel turut hadir dan menyaksikan seluruh rangkaian pertunjukan budaya.
Emanuel sedang melakukan perjalanan wisata mengelilingi Bali dan Nusa Tenggara. Ia berada di Kota Kupang selama dua hari dan sebelumnya berencana melanjutkan perjalanan ke Flores melalui pintu masuk Maumere.
Namun, rencana tersebut berubah setelah penerbangan terganggu pascaletusan Gunung Api Ile Lewotobi. Ia kemudian mengalihkan penerbangannya ke Ende dan selanjutnya melanjutkan perjalanan hingga Labuan Bajo.
Meski menginap di Hotel Sotis, Emanuel tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika mendapat informasi mengenai Festival Budaya Nefonaek. Ia pun bergegas datang ke lokasi dan tampak antusias menyaksikan pertunjukan budaya yang berlangsung.
Kehadirannya bahkan menarik perhatian ibu-ibu muda dan anak-anak yang antusias mengajaknya berfoto bersama.
Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kota Kupang Evie Seran juga sempat bersalaman dan berbincang dengan Emanuel. Ia kemudian mengajak wisatawan asal Spanyol tersebut mencicipi salah satu pangan lokal khas Timor, yakni jagung bose.
Tanpa menunggu lama, Emanuel menuju salah satu stand UMKM dan menikmati panganan khas Timor tersebut dengan penuh sukacita.
Momen tersebut menjadi gambaran kecil bagaimana festival budaya di tingkat kelurahan dapat menjadi ruang memperkenalkan seni, tradisi dan pangan lokal kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara.
Sementara itu, Camat Kota Lama, Muhammad Adriyanto Abdul Jalil, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang, khususnya Wali Kota, Wakil Wali Kota dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, atas dukungan terhadap pelaksanaan event budaya tersebut.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada jajaran pemerintah kelurahan, RT/RW, seniman, pelaku usaha dan seluruh warga yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan.
Menurut Abdul, dari 10 kelurahan yang berada di Kecamatan Kota Lama, hingga pelaksanaan Festival Budaya Nefonaek sudah terdapat lima kelurahan yang menggelar event serupa.
Kelima kelurahan tersebut yakni Airmata, Solor, Tode Kisar, Merdeka dan Nefonaek. Sementara lima kelurahan lainnya dijadwalkan menggelar kegiatan serupa hingga September 2026.
“Terima kasih untuk semua, Pak Wali dan Ibu Wakil, Ibu Kadis Pariwisata, juga semua teman Lurah dan RT/RW yang telah memperlancar kegiatan, serta partisipasi warga Kelurahan Nefonaek dan kelurahan lain yang telah menggelar event ini selama tahun 2026,” ujarnya.
Abdul menilai kegiatan tersebut sangat strategis dalam melestarikan budaya kepada generasi muda. Selain itu, festival menjadi ajang menguji kreativitas, merawat keragaman, memperkuat persaudaraan dan persatuan, sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi lokal.
Ketua Karang Taruna Kota Kupang, Roy Henriques, mengatakan berbagai event budaya dan kegiatan kreatif yang digelar Pemerintah Kota Kupang selama ini memberikan ruang yang luas bagi keterlibatan orang muda.
Menurut dia, orang muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut terlibat sejak tahap desain kegiatan, pengelolaan event hingga menjadi pelaku utama dalam berbagai seni pertunjukan.
Roy menilai kegiatan seperti Festival Budaya Nefonaek sarat dengan pesan bahwa generasi muda tidak boleh kehilangan ruang untuk berkreasi.
“Semua bisa lahir dan tumbuh bersama tradisi budaya, semangat belajar dan kreativitas serta pembentukan mental dan karakter melalui ruang-ruang kreatif selain edukasi formal di ruang-ruang kelas dan kampus,” katanya.
Sebagai Ketua Karang Taruna Kota Kupang, Roy bersama jajaran dan kawan-kawannya menyatakan siap mendukung dan mengawal berbagai program Pemerintah Kota Kupang. Ia juga menekankan pentingnya sinergi yang tangguh, kepedulian sosial yang berkeadilan serta kolaborasi aktif pemuda bersama pemerintah dan DPRD dalam menjaga keharmonisan Kota Kupang sebagai Kota Kasih.
Seremoni pembukaan Festival Budaya Tingkat Kelurahan Nefonaek akhirnya tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan sukacita melalui tarian-tarian massal daerah, antara lain Gawi dari Ende-Lio, Dolo-Dolo dari Lamaholot, Kebalai dari Rote Ndao, serta Lion Dance yang berpadu dengan lagu-lagu Ambon Manise.
Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Kota Lama Muhammad Adriyanto Abdul Jalil, S.STP., M.Si., Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Kupang Margaritha Salean, S.E., M.A.P., Ketua Karang Taruna Kota Kupang Roy Henriques, Lurah Nefonaek Yosefina Ungirwalu, Ketua LPM I Made Swarda Putra, para lurah se-Kecamatan Kota Lama, pengurus RT/RW, tokoh agama dan biarawati, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pelajar serta warga Kelurahan Nefonaek.
Dengan panggung yang mempertemukan beragam etnis, generasi, seni, kuliner dan aktivitas ekonomi warga, Festival Budaya Nefonaek menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi titik temu bagi kebersamaan. Dari kelurahan, kebudayaan dirawat; dari masyarakat, kreativitas tumbuh; dan dari kegiatan budaya, roda ekonomi lokal ikut bergerak.
(Tim)

