Banyak dari kita masih berinteraksi dengan leluhur, meski tubuh mereka telah lama kembali kepada tanah, jauh sebelum langkah kita mengenal dunia. Dalam keyakinan kita, tak hanya nama para leluhur yang tetap tinggal di antara ingatan dan berdiam dalam rumah ataupun benda peninggalan, ataupun dalam cerita yang diwariskan dan dalam kebiasaan yang diam-diam diwariskan, tetapi jejak bahkan roh mereka kadang masih menemani perjalanan kehidupan generasi sesudahnya. Kita menyebut nama mereka karena percaya, di balik dunia yang terlihat, ada dunia lain tempat keberadaan mereka tetap berlangsung.
Karena itu malam kadang membuka jalan yang tidak terlihat, lalu dari alam mimpi, wajah lama datang Kembali untuk menangis, tersenyum, berbicara, atau hanya memandang dari kejauhan. Pagi kemudian menutup kembali pintu itu, lantas kita terbangun dengan perasaan bahwa seseorang baru saja hadir. Entah itu ingatan, kesadaran yang bekerja dalam tidur, atau sesuatu dari dimensi yang belum kita mengerti, tetapi sudah sejak dahulu banyak dari kita percaya bahwa dunia roh tidak sepenuhnya terpisah dari dunia manusia.
Barangkali memang ada batas yang hanya tipis antara kita dan para leluhur. Seperti hutan menyimpan sunyi dan batu menyimpan usia, dan mata air membawa suara yang tidak selalu terdengar di antara pepohonan yang berdiri seperti penjaga, maka dalam keheningan alam manusia sering merasakan sesuatu yang lebih tua daripada dirinya, sesuatu yang memang tidak berbicara melalui kata, tetapi hadir melalui perasaan.
Kita memang belum mengetahui seluruh rahasia keberadaan, karena materi dapat berubah dan energi bergerak dari satu keadaan menuju keadaan lain, sehingga kesadaran sendiri masih menjadi ruang yang sangat dalam. Kita belum mampu mengukur seluruh pengalaman batin manusia, sehingga kematian tetap menyisakan pertanyaan: apakah tubuh yang berhenti berarti keberadaan juga berakhir?
Di ruang pertanyaan itulah kita juga bisa memahami fakta kehadiran dan keberadaan Yesus.
Yesus pernah berjalan di dunia, berbicara kepada manusia, menyentuh kehidupan mereka. Yesus mengajarkan kasih, berdiri di tengah penderitaan, lalu kemudian mengalami kematian melalui penyaliban. Kematian Yesus menjadi bagian dari sejarah yang terus diceritakan manusia.
Kemudian soal kisah kebangkitan. Ada yang percaya, ada yang ragu, ada yang skeptis, bahkan ada yang menganggapnya sulit diterima. Namun para murid Yesus mempertahankan kesaksian tentang keberadaan-Nya setelah kematian meski mereka menghadapi ancaman, penderitaan, dan kematian.
Kesaksian para murid mengenai keberadaan Yesus setelah bangkit dari kematian tidak berhenti ketika nyawa mereka terancam. Di sinilah kita mesti bertanya, apa yang membuat mereka begitu teguh? Apa yang membuat kematian tidak mampu membungkam mereka? Kita mungkin dapat memperdebatkan detail kisahnya, tetapi keberanian mereka tetap menyisakan pertanyaan, apa tidak mustahil jika ada ribuan orang yang yang rela mati hanya untuk mempertahankan kebohongan soal interaksi mereka bersama Yesus setelah kebangkitan-Nya dari kematian?.
Dari kebangkitan Yesus, kematian tidak lagi tampak sebagai dinding terakhir, dan karenanya kubur tidak lagi menjadi batas mutlak. Tubuh dapat berakhir, tetapi kehidupan mungkin memiliki ruang lain yang tidak terlihat.
Barangkali demikian pula para leluhur. Mereka tidak lagi berjalan di antara kita seperti dahulu, namun mungkin keberadaan mereka bergerak dalam ruang yang tidak kita kenal. Mereka mungkin hadir melalui mimpi, melalui intuisi, melalui ingatan, melalui keheningan, atau melalui sesuatu yang hanya dapat dirasakan oleh jiwa.
Karena itu kita terus berkomunikasi dengan mereka, menyebut nama mereka. Kita berdoa di tempat mereka, mengunjungi tempat-tempat yang pernah mereka tinggali, menyimpan benda-benda yang pernah disentuh, juga menjaga cerita mereka agar tidak ditelan waktu.
Bukan karena kita mengetahui seluruh rahasianya, tetapi justru karena kita tidak mengetahuinya.
Misteri memberi ruang bagi kemungkinan. Dan Bunda Maria, Ibu yang melahirkan Yesus, juga berada di antara mereka yang telah mendahului kita. Bunda Maria pernah hidup dalam Sejarah, pernah berjalan di dunia yang sama dengan kita, pernah berada dalam zaman ketika Yesus hadir di tengah manusia. Namanya kemudian terus bergerak melewati waktu, sebagaimana nama para leluhur kita terus bergerak melalui ingatan anak cucu.
Bunda Maria telah lama meninggalkan dunia yang kita kenal, namun namanya tidak ikut hilang, kisahnya tetap hidup, keberadaannya tetap menjadi bagian dari kesadaran manusia. Bunda Maria menjadi salah satu nama dari masa yang telah berlalu, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan manusia yang hidup sesudahnya.
Sebagaimana manusia terus menyebut nama mereka yang telah mendahuluinya, nama Bunda Maria pun tetap dipanggil melintasi zaman. Kita tidak lagi melihat tubuhnya dan tidak mendengar suaranya sebagaimana manusia pada zamannya, tetapi namanya tetap hadir dalam ingatan, dalam doa, dan dalam kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bunda Maria telah melewati dunia yang kita kenal, namun keberadaannya tidak berhenti hanya karena tubuhnya telah lama meninggalkan dunia itu. Di antara jarak waktu dan misteri keberadaan, manusia tetap membuka ruang bagi kemungkinan bahwa mereka yang telah mendahului kita tidak sepenuhnya terputus dari kehidupan.
Mungkin alam menyimpan jejak mereka, mungkin kesadaran menjadi jembatan, mungkin mimpi membuka pintu sesaat, dan mungkin doa menembus jarak yang tidak dikenal oleh tubuh. Kita hanya tidak mengetahui bagaimana semua itu bekerja. Dan kita juga hanya mengetahui bahwa manusia sejak dahulu tidak pernah benar-benar berhenti memanggil mereka yang telah pergi.
Dan mungkin suatu hari nanti, kita pun akan menjadi bagian dari mereka, Ketika tubuh kita akan kembali kepada tanah. Nama kita akan menjadi ingatan, jejak kita akan hidup dalam mereka yang datang kemudian, dan pasti seseorang akan menyebut nama kita dalam keheningan, juga menemukan kita dalam mimpi.
Mungkin keberadaan memang tidak berakhir, hanya berganti ruang. Mungkin kematian hanyalah perpindahan dari sesuatu yang terlihat menuju sesuatu yang belum mampu kita lihat. Dan, di antara semua nama yang telah mendahului kita, Bunda Maria tetap tinggal, berdiri dalam sejarah, dalam ingatan, dan dalam kisah Yesus.

