Komunitas ASN Katolik Kementerian Agama Kabupaten Kupang Adakan Kegiatan Ekoteologis di Stasi Batakte

ASN Katolik Kantor Kementrian Agama Kabupaten Kupang, melaksanakan kegiatan yang disebutnya Ekoteologi dengan tema: Merawat Cinta, Menghidupi Iman, Melayani Bangsa. Wujud nyata kegiatannya adalah menanam lebih kurang 80 anakan pohon di lahan gereja, terdiri dari mangga, nangka salak, kelapa, kemiri, jambu dan beberapa jenis anakan pohon lainnya, Jumat, (14/08/2026).

Kegiatan diawali dengan seremoni penyerahan bibit atau anakan secara simbolik dari kepala kantor Kementerian Agama Kabupaten Kupang Aleksander,SH,M.Pd.K kepada pastor co Paroki Stasi Santa Maria Fatima Batakte Romo Marselinus Soge (Romo Cello).

Kepala kantor Kementrian Agama Kabupaten Kupang, Aleksander,SH,M.Pd.K dalam seremoni dimaksud mengungkapkan, kegiatan menanam pohon adalah untuk mendukung program ekoteologi sekaligus menyongsong hari kemerdekaan Republik Indonesia.

“Kita Bersatu hati dalam kegiatan menanam pohon untuk mendukung ekoteologi dan jangan lupa juga kita dalam menyogsong hari kemerdekaan RI ke 81. Peringatan HUT ke 81 RI tahun ini mengusung semangat untuk terus melangkah maju demi kemajuan bangsa dan daerah. Bagi kita di kementrian agama kabupaten Kupang, khususnya melalui seksi Pendidikan Bimas Katolik, makna kemerdekaan tidak boleh hanya berhenti pada seremoni semata. Kemerdekaan sejati juga mencakup kemandirian berkelanjutan dan daya dukung alam tempat hidup kita berpijak.” tegasnya di hadapan puluhan ASN Kementrian Agama yang berbaur bersama umat Batakte.

Kakankemenag Aleksander menegaskan, Kementerian Agama dan gereja adalah mitra, khususnya dalam aspek melestarikan lingkungan hidup.

“Tidak ada umat atau gereja yang tidak kami hadir untuk melakukan pelayanan-pelayanan. Oleh sebab itu secara geografis, Kabupaten Kupang membutuhkan kita (ASN Kemennag, red) dalam hal melestarikan lingkungan.” Selanjutnya beliau mengingatkan akan tantangan yang dihadapi saat ini. “Kita menghadapi tantangan perubahan iklim, ancaman kekeringan dan penurunan debit mata air ada di depan mata kita semua. Oleh karena itu, aksi nyata menanam pohon yang dilakukan hari ini di lingkungan Stasi Santa Maria Fatima Batakte adalah langkah konkrit kita untuk mengisi kemerdekaan dan merawatnya” tegasnya.

Aktivitas menanam pohon ASN Kemenag Kab. Kupang bersama Umat.

Aleksander mengingatkan kembali pemahaman umat akan ensiklik kedua Paus Fransiskus (almarhum) tentang Laudato Si (Bahasa italia) yang menempatkan bumi sebagai tempat tinggal bersama seluruh umat manusia yang kini terancam akibat eksploitasi serta perubahan iklim. “ Kegiatan ini mengusung tema mendalam ekoteologi. Konsep ini mengingatkan bahwa iman dan teologi tidak boleh tercabik oleh realitas alam semesta. Dijelaskan Aleksander, melalui perspektif iman katolik, kita diajak untuk merenungkan kembali dokumen gereja seperti Ensiklik Laudato Si. Saya pernah baca ini dari almarhum bapak Paus Fransiskus yang menekankan pentingnya merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Oleh sebab itu, bebernya, menjaga alam bukan tugas sampingan, melainkan bagian integral dari perwujudan iman kita kepada Tuhan sang pencipta. Ketika kita sadar merusak alam, kita sedang mencedrai ciptaaNya. Sebaliknya ketika kita menanam dan merawat pohon, kita sedang ikut serta dalam penciptaan dan pemeliharaan alam di atas muka bumi. Pohon yang kita tanam hari ini akan menjadi paru-paru yang mengaliri oksigen, menjadi jangkar yang mengikat di dalam air tanah, dan menjadi warisan kehidupan anak cucu kita. Saya tidak mau kedatangan kita hanya untuk formalitas.” tegasnya mengingatkan.

Selanjutnya, beliau menyampaikan harapan agar selalu terjalin sinergi antara Kementrian Agama, khususnya seksi Bimas Katolik dan gereja untuk bergerak bersama dalam melakukan Gerakan Ekoteologi yang mengusung hubungan antara agama atau keyakinan kepada Tuhan dengan krisis, serta kelestarian lingkungan hidup.

Romo Marselinus Soge (Romo Cello).

Allah mencipta berarti Allah dalam proses penciptaan. Itu tidak berhenti di saat mencipta selama tujuh hari tetapi setiap hari. Allah mencipta setiap hari, maka manusia mengambil bagian dalam karya Allah mencipta atau creationem Custodire (merawat ciptaan, red). Kita memakai videm vivere (menghidupi iman, red), itu adalah proses menghidupi karya penciptaan Allah. Dan aplikasi dari karya penciptaan Allah yang kita hidupi itu lewat nationi savire,artinya melayani bangsa. Ada merawat, melestarikan, mencintai. Ungkap Romo Cello saat menyampaikan sambutannya. Menurut romo Cello, penguatan ekoteologi itu sebenarnya menjadi jiwa atau roh kita dalam mencintai bumi. Kalau kita mencintai alam, mencintai bumi, mencintai ibu pertiwi kita, berarti kita masuk dalam bagian Allah mencipta.

Ia menjelaskan, ada keterkaitan kisah penciptaan dalam Kitab kejadian dengan mukadimah Injil Yohanes. “Pesan ini bukan hanya sinkron dengan Kitab Kejadian, tetapi sinkron juga dengan Pada mulanya adalah Firman dalam Yohanes mukadimah” ujarnya. Lebih lanjut diuraikan bahwa Mukadimahnya Yohanes, “pada mulanya adalah firman”, karena firman itulah yang mencipta. Jadi di dalamnya ada Allah Tritunggal berkarya. Jadi kalau kita mengasihi iman kita, mengasihi buni kita, kita mengasihi Allah Tritunggal, kita bekerja. Kita juga ekoteologi merawat bumi, mencintai alam.

Penyerahan simbolik anakan mangga dari Kakankemenag kepada Romo Cello didampingi dari kiri: Ketua Dewan Stasi, Ketua Panitia, dan Kepala Seksi Bimas Katolik.

Dalam kesempatan itu Romo Cello menyampaikan rasa terima kasih dan bahagia atas kebersamaan ASN Kominitas Katolik Kementrian Agama Kabupaten Kupang yang datang dan membaur bersama umat Stasi Batakte untuk menanam pohon di lahan yang telah tersedia. “Kami atas nama umat sekalian, mengucapkan selamat datang, kami berbangga dan berbahagia atas kehadiran bapak Kepala kantor kementrian agama Kabupaten Kupang. Kami bersuka cita dan bergembira. Terima kasih juga kepada bapak ibu, saudara sekalian, pegawai. Kami bersuka cita juga karena kegiatan ini mengalami proses dua minggu. Dari minggu lalu kita menyiapkan lahan bersama umat. Ada suka cita dan kebersamaan dan hari ini kita rajut juga dalam kebersamaan, cinta kasih. Ada sinergilitas antara kemenag dengan gereja dan juga dengan masyarakat. Semoga buah berlimpah di suatu saat nanti. Kita bersyukur dan berdoa bersama agar apa yang kita tabur hari ini besok kita akan tunai dengan berbuah manis.” harap Romo Cello.

Ketua Panitia Kegiatan, Maksimus Sobe, S.Fil.

Ketua panitia kegiatan, Maksimus Sobe, S.Fil dalam laporannya menggaris bawahi, bahwa Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program prioritas kementrian agama dalam membangun kesadaran ekologis yang berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan. Dilaporkan lebih lanjut, melalaui kegiatan ini para ASN di lingkungan Kementrian Agama Kabupaten Kupang ingin mewujudkan iman yang tidak hanya diucapkan tapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata dengan menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan hidup sebagai anugerah Tuhan.

Lebih lanjut, Maksimus menjelaskan bahwa kegiatan menanam pohon merupakan bentuk komitmen bersama dalam merawat rumah bersama (bumi). “Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai acara sermonia belaka. Tetapi awal dari gerakan nyata untuk mencintai dan melestarikan lingkungan hidup” ungkap ulumnus STFT Ledalero Maumere dengan nada penuh optimis.

Sebagai ketua panitia kegiatan, ia sangat bersyukur dan menyampaikan apresiasi atas sambutan Romo Cello bersama umat Stasi Batakte untuk mendukung dan mensukseskan kegitan menanam pohon di lahan gereja yang telah disiapkan. “Pada kesempatan yang berbahagia ini kami ingin megucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tinginya kepada pastor stasi, ketua dan dewan stasi, serta seluruh umat stasi Santa Maria Fatima Batakte, yang telah dengan tulus menyediakan lahan, memberikan dukungan penuh, sehingga kegiatan kita hari ini dapat terlaksana dengan baik. Semoga kebaikan, keramah tamahan yang telah diberikan, senantiasa mendapat balasan berlimpah dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Disampaikan pula terima kasihnya kepada kepala kantor Kementrian agama Kabupaten Kupang, Kepala seksi Bimas Katolik Agustinus Resi, S.Sos dan seluruh ASN Kementrian Agama Kabupaten Kupang serta semua pihak yang telah berpartisipasi dalam memberikan tenaga, pikiran dan dukungan demi terselenggaranya kegiatan menanam pohon.

Pada akhir laporannya, Maksimus Sobe, S.Fil berharap, momentum kegiatan ini memperkeuat sinergi antara Kementrian Agama, gereja dan masyarakat dalam menjaga kelestarian ciptaan Tuhan. “ Semoga setiap pohon yang kita tanam hari ini menjadi lambang harapan, kehidupan dan warisan yang bermanfaat bagi anak cucu kita di masa yang akan datang” ungkapnya mengakhiri laporannya.

Usai acara seremoni yang berlangsung di teras samping gereja, dilanjutkan dengan aksi penanaman anakan pohon di lahan gereja yang sudah disiapkan bersama oleh ASN Kementrian Agama dan umat setempat pada 7 Agustus lalu. Di penghujung kegiatan sebelum berpisah, ada ramah tama sederhana yang menyajikan makanan lokal (jagung bose, ubi-ubian, pisang)serta lauk ikan, disiapkan oleh Komunitas ASN Katolik dan umat Stasi Batakte.

 

(Amatus Bhela)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *