Sejumlah 50 relawan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Metina di Kabupaten Rote Ndao menggelar aksi protes pada Senin (9/3/2026). Aksi tersebut dipicu penghentian sementara operasional dapur MBG yang diduga terjadi akibat persoalan internal pengelola. Mereka menyuarakan penolakan terhadap keputusan penghentian operasional yang dinilai merugikan para pekerja.
Dalam aksi tersebut, para relawan juga memasang spanduk berisi penolakan terhadap pimpinan dapur. Spanduk itu menjadi simbol kekecewaan para relawan terhadap pengelolaan dapur MBG setempat.
Koordinator aksi, Ica Amanda, menyampaikan para relawan merasa kecewa karena tidak pernah mendapatkan solusi agar dapur tetap beroperasi. Menurutnya, pimpinan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai tidak mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi.
Ia juga menjelaskan pekerjaan di dapur MBG menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak relawan. Karena itu, penghentian operasional sementara sangat berdampak pada kondisi ekonomi para pekerja.
Selain itu, para relawan mengaku tidak pernah mendapat informasi bahwa pihak pengelola telah mengirimkan surat kepada Badan Gizi Nasional terkait penutupan dapur. Kondisi tersebut menambah kekecewaan karena para relawan merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Para relawan meminta agar persoalan antara kepala SPPG dan pihak yayasan diselesaikan secara internal. Mereka berharap konflik tersebut tidak berdampak pada pekerja dapur maupun penerima manfaat program MBG.
Dalam tuntutannya, para relawan meminta dapur MBG Metina dapat kembali beroperasi setelah kondisi cuaca membaik. Mereka juga menolak keberadaan kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan yang dinilai tidak bijaksana dalam menyelesaikan persoalan.
Meski diikuti puluhan orang, aksi protes berlangsung tertib. Arus lalu lintas di sekitar lokasi tetap lancar dan situasi keamanan terpantau kondusif.
Informasi yang dihimpun menyebutkan aparat kepolisian setempat turut mendatangi lokasi aksi. Kehadiran aparat bertujuan memastikan situasi tetap aman sekaligus meminta keterangan dari para peserta aksi.
Dampak Penghentian Operasional Dapur MBG
Dapur MBG Metina diketahui berhenti beroperasi sejak Januari 2026. Penghentian tersebut berdampak pada para pekerja dapur serta ribuan siswa yang menjadi penerima manfaat program makan bergizi.
Program tersebut sebelumnya melayani sembilan sekolah di wilayah Kecamatan Lobalain, yaitu UPTD SDI Tuabolok, UPTD SDI Mokdale, UPTD SDN 1 Ba’a, UPTD SDN 2 Ba’a, UPTD SDI 3 Ba’a, UPTD SMPN 1 Ba’a, UPTD SMPN 2 Ba’a, UPTD SMPN 3 Ba’a, serta SMA Kristen Siloam Metina.
Para pekerja dapur direkrut oleh Yayasan Maritim Flobamora Nusantara yang bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional.
Salah satu karyawan dapur MBG, Ali Kiah, sebelumnya berharap persoalan internal tersebut segera diselesaikan agar dapur dapat kembali beroperasi.
Ia menjelaskan dapur MBG Metina berhenti beroperasi sejak 15 Januari 2026. Hingga akhir Januari 2026, operasional dapur belum juga berjalan kembali sehingga para karyawan merasa tidak mendapatkan kepastian kerja.
Menurutnya, para pekerja tidak memiliki persoalan dengan Badan Gizi Nasional maupun pihak yayasan. Namun upaya komunikasi dengan pimpinan dapur juga belum mendapatkan tanggapan.
Para pekerja berharap operasional dapur MBG Metina segera kembali berjalan. Mereka menilai keberlangsungan dapur sangat penting bagi para pekerja dan ribuan siswa penerima manfaat program makan bergizi.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan Kepala SPPG Metina Permaisuri Ikbal Abidin, ahli gizi Nofriana Manafe, dan akuntan Fanly Ndaong belum memberikan keterangan resmi terkait persoalan tersebut.
(Rudi Mandala)

