Persebaran flora-fauna di Indonesia, Amfoang termasuk dalam persebaran flora-fauna tipe peralihan atau tipe Tengah Indonesia. Dari tipe peralihan tersebut ada jenis fauna dan jenis burung tipe Timur Indonesia yang hidup di hutan Amfoang yakni kus-kus dan burung kaka tua (sudah punah) serta rusa Timor (Penyebutan rusa di Timor) yang merupakan jenis fauna tipe Barat Indonesia. Selain jenis fauna tipe Timur dan Barat Indonesia yang hidup di hutan Amfoang ada juga beberapa jenis flora tipe Barat dan Timur Indonesia di Amfoang, Seperti: pohon ketapang, gaharu, rotan, kayu putih dan sebagainya.
Adanya persebaran flora-fauna tipe Barat dan Timur Indonesia di tipe tengah Indonesia (Amfoang) disebabkan oleh pergeseran benua. Menurut Alfret Wegener dalam (Sulistyanto. 2009.Geografi 1 hal. 33) menjelaskan bahwa benua-benua yang ada sekarang awalnya merupakan satu benua besar yang disebut pangea. Hal tersebut menurut Wegener dapat dibuktikan dengan kesamaan fosil hewan dan tumbuhan dan kesamaan struktur, jenis dan usia batuan. (Zain Laili. 2022. Idntimes.com, 24 November 2023).
Persebaran flora-fauna dapat ditemui juga di Indoensia yang identik dengan jenis flora-fauna dunia seperti jenis flora-Fauna tipe barat Indonesia memiliki kesamaan dengan jenis flora-fauna tipe Asiatis, kemudian jenis flora-fauna tipe timur Indonesia memiliki kesamaan dengan jenis flora-fauna tipe Austrialis dan jenis flora-fauna tipe tengah Indonesia (peralihan) memiliki kesamaan dengan tipe Barat dan Timur Indonesia.
Dari sejarah geologis inilah maka daerah-daerah yang termasuk dalam jenis flora-fauna tipe peralihan di Indonesia memiliki keistimewaan, karena sebagian jenis flora-fauna tipe barat dan timur Indonesia dapat hidup dan berkembang di daerah peralihan termasuk Amfoang di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur.
Jadi, Amfoang yang memiliki 6 kecamatan diantaranya, Amfoang Barat Daya, Amfoang Barat Laut, Amfoang Utara, Amfoang Timur, Amfoang Tengah dan Amfoang Selatan selalu didominasi oleh hutan dengan karakteristik hutan muson atau hutan musim, terdapat berbagai Jenis flora-fauna tipe Timur dan Barat Indonesia seperti: kus-kus, rusa timor, kaka tua, nuri, gaharu, rotan, kayu putih, ketapang dan persebaran populasi dari jenis flora-fauna tipe Timur dan Barat Indonesia merata di setiap hutan di Amfoang.
Melalui pengamatan di lapangan, populasi kus-kus dan rusa timor di Amfoang mengalami penurunan populasi akibat aktifitas berburu kus-kus dan rusa timor yang masif dilakukan oleh masyarakat Amfoang. Bahkan rusa Timor yang sudah ditetapkan sebagai hewan langka yang perlu dilindungi, ternyata masih ada perilaku nakal dari masyarakat Amfoang yang selalu memburuh dan menangkap rusa-rusa tersebut. Hal ini bila dibiarkan dan tidak diatasi melalui upaya-upaya pelestarian flora-fauna di Amfoang dari berbagai pihak termasuk lembaga pendidikan, dapat dipastikan bahwa kedua jenis fauna yang berasal dari jenis fauna tipe Barat dan Timur Indonesia akan punah di hutan Amfoang seperti kaka tua yang hilang tanpa jejak.
Untuk itu, dengan semangat kurikulum merdeka yang selalu memberikan ruang yang cukup kepada guru untuk berinovasi maka, penerapan pembelajaran geografi di SMAN 1 Amfoang Barat Laut selalu di fokuskan pada keberlangsungan hidup flora-fauna di Amfoang, sebagai bentuk dari transformasi pembelajaran geografi di SMAN 1 Amfoang Barat Laut.
Refleksi Penerapan Pembelajaran Geografi Masa Depan
Pembelajaran geografi memiliki andil penting dalam upaya menerapkan desain materi pembelajaran oleh guru yang dapat merangsang peserta didik agar sadar terhadap kekayaan alam yang ada disekitar lingkungan peserta didik. Salah satu materi pembelajaran geografi yang dapat diterapkan adalah persebaran flora-fauna di Indonesia, yang dalam penerapannya guru dapat memanfaatkan kegemaran peserta didik seperti menggambar dan bermedia sosial untuk dijadikan sebagai media pembelajaran yang efektif, inovatif, kreatif dan menyenangkan, agar peserta didik dapat dengan mudah memahami dan memaknai serta mengilhami ilmu geografi dalam kehidupan sehari-hari.
SMAN 1 Amfoang Barat Laut sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pelaksanaan pendidikan terdapat beberapa peserta didik yang selalu gemar melukis dan bermedia sosial. Hal ini terlihat jelas di setiap kelas seperti: lukisan-lukisan pada bangku, meja, tembok sekolah, bahkan di baju seragam peserta didik. Di samping itu, di era 4.0 Guru dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang ada. Dengan adanya kegemaran melukis dan bermedia sosial dari peserta didik maka dalam pembelajaran geografi di SMAN 1 Amfoang Barat Laut selalu memanfaatkan potensi dan kegemaran yang dimiliki peserta didik untuk dikembangan menjadi lebih produktif.
Peserta didik yang gemar melukis diminta untuk melukis kus-kus dan rusa timor dengan menulis pesan-pesan menggunakan bahasa dawan Amfoang seperti: Naikam ken kau (jangan tembak saya) dan am pao kau,(lindungi saya) dalam lukisan penyelamatan kus-kus dan rusa timor.
Tentu dalam setiap kelas tidak semua peserta didik gemar melukis dan bermedia sosial. Untuk itu, peserta didik yang gemar bermedia sosial dan tidak gemar melukis diminta untuk lukisan-lukisan tersebut difoto dan diposting ke setiap status Facebook peserta didik, sedangkan yang tidak memiliki Facebook dan tidak gemar menggambar diminta untuk menempelkan setiap lukisan-lukisan tersebut di tembok sekolah sebagai media kampanye penyelamatan kus-kus dan rusa timor bagi masyarakat luas khususnya masyarakat Amfoang.
Dari desain pembelajaran ini, tenyata hasil yang diperoleh adalah perubahan karakter anak-anak yang awalnya menggambar dan bermedia sosial tidak produktif menjadi produktif. Artinya Anak-anak mulai mengkampanyekan gerakan penyelamatan Fauna kepada masyarakat melalui gambar dan status Facebook untuk peduli terhadap kelangsungan hidup fauna yang ada di Amfoang.
Dari hasil yang diperoleh, sebagai Guru mata pelajaran tentu memiliki tantangannya tersendiri yakni bagaimana mempertahankan pola pembelajaran ini. Untuk itu dalam keberlanjutan pembelajaran ini bentuk pembelajarannya tetap dipertahankan dengan membangun iklim pembelajaran yang disesuaikan dengan hobi anak-anak dan disesuaikan dengan materi pembelajaran. Artinya desain pembelajaran ini tidak bisa diterapkan untuk semua materi pembelajaran pada mata pelajaran Geografi.
Daftar rujukan:
Sulistyanto G, Iwan. 2006. Geografi 1. Jakarta: Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Hlm. 33.
Zain Laili. 2022. Idntimes.com, 24 November 2023.
*Penulis adalah Guru di SMAN 1 Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang

