Fenomena Kampus: Ditertawakan atau Dihargai, Tergantung Prestasi ‎

Oleh: Efaldino Lalu

Di ruang-ruang kelas kampus, ada fenomena yang sering terjadi namun jarang disadari: tidak semua pertanyaan diperlakukan sama. Bukan karena kualitasnya, melainkan karena siapa yang mengajukannya.

‎Saya pernah lihat seseorang mahasiswa yang tidak berprestasi mengangkat tangan, mencoba bertanya. Dosen menanggapi dengan serius, bahkan menjelaskan dengan rinci karena pertanyaan tersebut relevan. Namun di sudut-sudut kelas tersebut, tampak reaksi yang berbeda senyum sinis, lirikan antar teman, bahkan ekspresi jengkel seolah pertanyaan itu mengganggu jalannya perkuliahan. Tidak ada yang secara terang-terangan menolak, tetapi suasana itu cukup untuk membuat siapa pun merasa tidak nyaman.

‎Bandingkan dengan situasi ketika mahasiswa yang dikenal “pintar” atau berprestasi melakukan hal yang sama. Pertanyaan yang mungkin tidak jauh berbeda justru disambut dengan keheningan. Teman-teman sekelas memperhatikan, percaya, dan menunjukkan sikap menghargai. Tidak ada tawa, tidak ada gestur meremehkan. Yang berubah bukan isi pertanyaannya, melainkan identitas orang yang menyampaikannya.

‎Perbedaan respons ini menunjukkan satu hal penting: yang dinilai bukan hanya argumen, tetapi juga siapa yang berbicara. Di sinilah letak persoalannya. Kampus, yang seharusnya menjadi ruang bebas untuk berpikir dan berdialog, diam-diam menyimpan hierarki sosial yang halus. Prestasi akademik tidak lagi sekadar hasil dari proses belajar, tetapi berubah menjadi semacam “tiket legitimasi” untuk didengar. Siapa yang berhak dianggap serius, dan siapa yang tidak, sering kali ditentukan bahkan sebelum satu kalimat pun selesai diucapkan.

‎Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada cara kita memandang kecerdasan dan prestasi. Mereka yang sudah dilabeli “pintar” cenderung dipercaya bahkan sebelum argumennya diuji. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki reputasi akademik harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan perhatian yang sama. Penilaian menjadi tidak lagi netral, melainkan dipengaruhi oleh persepsi yang sudah terbentuk sebelumnya.

‎Dampaknya pun bukan sekadar asumsi. Studi tentang classroom participation anxiety menunjukkan bahwa lebih dari 60% mahasiswa pernah merasa takut berbicara di kelas karena khawatir dinilai negatif atau ditertawakan oleh teman. Ini berarti, rasa takut yang tampak sepele itu sebenarnya merupakan pengalaman kolektif. Dalam konteks Indonesia, sejumlah studi pendidikan tinggi juga menegaskan bahwa budaya “takut salah” dan hierarki akademik masih kuat, terutama di kelas-kelas besar. Mahasiswa sering memilih diam bukan karena tidak memiliki pertanyaan, tetapi karena takut dipermalukan.

‎Dampaknya serius. Kelas memang terlihat tertib, tetapi sebenarnya rapuh karena dibangun di atas rasa takut. Diskusi menjadi tidak hidup, partisipasi tidak merata, dan keberanian berpikir perlahan menghilang. Jika kondisi ini terus berlangsung, kampus justru berisiko menghasilkan lulusan yang pasif, tidak kritis, dan takut salah.

‎Untuk lebih dalam, kebiasaan ini juga menciptakan ketimpangan jangka panjang. Mahasiswa yang sering diremehkan akan kehilangan kepercayaan diri dan menarik diri dari diskusi. Sementara mereka yang terus dianggap benar berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang kurang terbuka terhadap kritik. Ini adalah dua sisi dari masalah yang sama: hilangnya ruang dialog yang sehat.

‎Padahal, esensi pendidikan tinggi bukanlah tentang siapa yang paling cepat memahami, tetapi siapa yang berani mempertanyakan. Pertanyaan bahkan yang sederhana adalah pintu masuk menuju pemahaman yang lebih dalam. Ketika pertanyaan mulai diseleksi berdasarkan siapa yang bertanya, maka yang hilang bukan hanya keberanian individu, tetapi juga kualitas pembelajaran itu sendiri.

‎Sudah saatnya kita menata ulang cara kita bersikap di ruang kelas. Menghargai bukan berarti selalu setuju, dan bertanya bukan berarti menunjukkan kelemahan. Justru dari pertanyaan-pertanyaan yang dianggap “biasa” itulah sering muncul pemahaman yang lebih jernih bagi semua.

‎Kampus seharusnya menjadi tempat di mana setiap suara memiliki ruang, bukan tempat di mana nilai seseorang ditentukan oleh reputasinya. Karena pada akhirnya, ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari siapa yang paling dihormati, tetapi dari keberanian untuk berpikir, bertanya, dan saling mendengarkan.

‎Apa yang Harus Diubah?

Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan imbauan moral. Ia membutuhkan perubahan sikap dan juga pengelolaan kelas yang lebih sadar.

  1. Kelas harus dibangun sebagai ruang yang aman secara psikologis.
    ‎Dosen memiliki peran kunci di sini. Bukan hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga menjaga atmosfer. Sikap meremehkan sekecil apa pun perlu ditegur secara langsung agar tidak menjadi budaya.
  2. Mahasiswa perlu mengubah cara pandang terhadap pertanyaan.
    ‎Pertanyaan bukan ajang menunjukkan kecerdasan, tetapi bagian dari proses belajar. Menertawakan pertanyaan orang lain pada dasarnya adalah bentuk ketidakdewasaan akademik.
  3. Orientasi kelas harus bergeser dari prestasi ke proses. ‎Prestasi penting, tetapi tidak boleh menjadi dasar untuk menentukan siapa yang layak didengar. Setiap mahasiswa berada dalam proses belajar yang berbeda, dan ruang kelas harus mengakomodasi itu.
  4. Model pembelajaran perlu lebih partisipatif dan merata.
    ‎Diskusi kelompok kecil, peer learning, atau sistem giliran berbicara dapat membantu mengurangi dominasi individu tertentu dan membuka ruang bagi yang lain.
  5. Perlu ada kesadaran kolektif bahwa diam bukan berarti paham.
    ‎Banyak kelas terlihat tenang, tetapi sebenarnya dipenuhi mahasiswa yang tidak berani berbicara. Ini bukan tanda keberhasilan, melainkan tanda adanya masalah.

‎‎Fenomena “ditertawakan atau dihargai tergantung siapa yang bertanya” bukan sekadar persoalan sikap, tetapi cerminan dari struktur sosial yang tidak adil di dalam ruang akademik. Jika kampus benar-benar ingin menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, maka hal pertama yang harus dijaga adalah keberanian untuk bertanya tanpa takut ditertawakan, tanpa takut diremehkan.

Karena pada akhirnya, ilmu pengetahuan tidak berkembang dari siapa yang paling sering didengar, tetapi dari ruang yang memberi kesempatan bagi semua orang untuk berbicara.

*Penulis adalah mahasiswa Undana Kupang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *