Pelajaran dari Alvin Lie

Catatan: Darius Beda Daton

Sudah lama saya ingin menulis tentang seorang Alvin Lie Ling Piao atau dikenal dengan nama Alvin Lie. Orang yang pernah bekerja bersama kami selama kurang lebih 5 tahun. Tapi baru kali ini keinginan itu kesampaian. Momennya pas. Saat kami sedang gundah gulana.

Bukan apa-apa, dalam catatan dan ingatan saya, beberapa hal yang dilakukan Pak Alvin Lie patut ditulis agar menjadi ingatan generasi muda. Ini pelajaran tentang keteladanan dan bagaimana seharusnya menempatkan diri sebagai pengawas. Paling tidak apa yang saya ingat dari dua kali kunjungannya ke NTT.

Rasanya rugi kalau saya tidak menulis tentang sepak terjang tokoh ini.

 

***

Alvin Lie, bukan orang sembarangan. Dia mantan anggota DPR RI yang sangat vokal di masanya. Pak Alvin menjadi anggota DPR RI selama 10 tahun yaitu periode 1999-2004 dan 2004-2009.

Saya mendapat informasi, dia memang hanya mau menjadi anggota DPR selama dua periode. Tidak mau lagi melanjutkan ke periode berikut. Sudah cukup katanya.

Pada periode itu, wajahnya saban hari nongol di televisi. Sangat populer. Saya sendiri mengenalnya dari televisi.

Pak Alvin punya pengalaman tinggal di Singapura, Inggris dan Skotlandia. Lalu akhirnya menjadi anggota Ombudsman RI periode 2016-2021.

Dia juga seorang instruktur penerbang dan pengamat penerbangan. Jangan ditanya kalau soal dunia penerbangan dan segala seluk beluknya. Beliau sangat paham luar dalam.

***

Alvin Lie memang bukan orang NTT. Dia orang Semarang. Tapi perhatiannya tentang NTT tidak pernah surut.

Jika ada kejadian yang viral tentang NTT, saya kerap menerima pesan WhatsApp darinya. Pesannya, agar saya memastikan bahwa masalah itu telah diselesaikan dengan baik. Tak lupa pesannya agar menjadi pengawas yang baik dan berintegritas. Dan perhatian itu masih terjadi sampai sekarang.

***

Suatu waktu, Pak Alvin mendampingi rombongan Komisi II DPR RI melakukan reses ke NTT. Saya menjemputnya di Bandara Eltari Kupang.

Sebagaimana biasanya kunjungan pejabat negara, saya menunggu di ruang tunggu VIP. Apalagi ini rombongan komisi II DPR RI. Sudah pasti dijamu dulu di ruang tunggu VIP sebelum ke lokasi kegiatan.

Setelah semua rombongan turun, saya tidak melihat Pak Alvin dalam rombongan itu. Tentu saya bingung, jangan-jangan Pak Alvin batal ikut rombongan ke NTT.

Karena tak juga muncul, saya lalu berinisiatif cek ke kedatangan umum. Eh rupanya Pak Alvin memilih turun melalui pintu kedatangan umum. Tidak ikut bersama rombongan pejabat ke ruang VIP.

Beliau datang seorang diri tanpa didampingi staf dan menarik kopernya dengan santai. Saya sedikit kikuk karena tidak menyangka saja seorang tokoh dan pejabat sepertinya memilih tidak melalui ruang VIP.

Setelah bertemu dirinya, saya sampaikan permohonan maaf karena tadi salah menjemputnya ke pintu keluar VIP.

Jawabannya mengagetkan saya: “Kita ini pengawas independen jadi kita tidak perlu ikut rombongan mereka. Sekalipun mereka itu teman-teman saya di DPR. Kita dengan mobil kantor kita saja dan kita bertemu mereka sesuai rundown kegiatan.”

Saya ikut saja kata Pak Alvin. Itu hal prinsip yang wajib saya patuhi. Jadilah saya menyopiri Pak Alvin berpisah dari rombongan.

Hingga saat makan siang pun, kami makan di restoran terpisah. Tidak bergabung bersama rombongan.

Saat saya hendak membayar makan di restoran, Pak Alvin menolak saya membayar. Katanya :”Pak Darius, gaji saya lebih besar dari anda. Selama saya di Kupang, anda jangan membayar saya makan dan memberikan apapun kepada saya. Saya yang akan bayar ya. Semua perjalanan saya dibiayai negara”.

***

Dua peristiwa ini yaitu tentang datang melalui pintu kedatangan umum dan memilih terpisah dari rombongan pejabat, memberi kesan kuat bagi saya bahwa Pak Alvin adalah orang yang sangat independen. Perilakunya dijaga betul agar terhindar dari persepsi negatif dirinya sebagai pengawas pelayanan publik.

Dia memberi contoh dan teladan kepada saya, bagaimana seharusnya saya menempatkan diri dalam posisi seperti ini.Pelajaran penting yang tidak akan saya lupakan.

Belakangan saya diceriterakan kawan-kawan dari provinsi lain bahwa Pak Alvin malah tidak mau dijemput dan diantar ke bandara. Dia menyewa mobil plus sopir sendiri, tanpa merepotkan siapapun.

Saya membayangkan, jika semua pejabat negara mau melakukan hal seperti ini, tentu tidak terjadi pemborosan keuangan negara yang tidak perlu. Efisien dan tidak pakai ribet.

***

Pada kedatangannya yang kedua, dia menjadi instruktur suatu kegiatan yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura. Saya ikut bersamanya menemui GM Angkasa Pura dan bertemu beberapa pilot maskapai batik dan lion air.

Kepada para Pilot, Pak Alvin menyampaikan: “Tolong jelaskan ke Pak Darius, bagaimana sistem keselamatan penerbangan kita. Pak Darius ini takut naik pesawat. Biar dia lebih berani lagi naik pesawat”.

Saya pun mendapat sedikit penjelasan dari sejumlah pilot tentang keamanan penerbangan. Saya jadi sedikit lega, meskipun masih takut naik pesawat hingga saat ini.

***

Menjaga marwah lembaga negara agar tetap independen, non-diskriminasi dan tidak memihak bukan soal gampang. Butuh orang-orang yang punya prinsip dan integritas diri yang kuat. Dan Pak Alvin Lie telah menunjukan itu kepada saya.

Terima kasih banyak Pak Alvin Lie atas semua pembelajarannya. Sehat dan selalu menjadi pembeda di mana pun Pak Alvin bertugas.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *