BMKG: 611 Gempa Susulan Guncang NTT, Aktivitas Seismik Diperkirakan Berlangsung 2–3 Minggu

Aktivitas gempa susulan masih mengguncang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi 611 gempa susulan hingga Minggu (16/8/2026), dengan aktivitas seismik diperkirakan masih akan berlangsung sebelum berangsur menurun dalam waktu sekitar 2–3 minggu.

BMKG menyatakan tren rekaman gempa susulan tersebut belum menunjukkan peluruhan yang signifikan. Kondisi ini dinilai masih berkaitan dengan proses penyesuaian atau stabilisasi sesar setelah terjadinya gempa utama.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan berdasarkan histori kegempaan dan karakteristik wilayah NTT, proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu tertentu sebelum aktivitas seismik kembali ke kondisi normal.

‎“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu,” ujar Faisal dalam siaran pers yang diterima Minggu (16/8/2026).

Menurut Faisal, perkiraan tersebut mengacu pada pola aktivitas gempa bumi merusak yang pernah terjadi di wilayah Maluku Utara sebelumnya. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

BMKG sebelumnya telah melakukan pemutakhiran parameter gempa utama menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut dikategorikan sebagai gempa bumi dangkal yang terjadi akibat aktivitas Flores Back Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores.

Kedalaman gempa yang relatif dangkal turut menyebabkan guncangan kuat di sejumlah wilayah NTT. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan pada bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memicu tsunami yang terobservasi hingga wilayah pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

‎Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map) BMKG, intensitas maksimum mencapai VII MMI. Guncangan tersebut tercatat di wilayah Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Riung, Kabupaten Ngada, serta Mbay.

Selain itu, hasil observasi langsung melalui pengukuran mikro di lapangan juga menunjukkan adanya dampak guncangan di kawasan Manggarai dan Ruteng.

Dengan masih tingginya aktivitas gempa susulan, masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah. Warga juga diharapkan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa karena berpotensi membahayakan apabila terjadi guncangan susulan.

BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas seismik di wilayah NTT dan akan menyampaikan pembaruan informasi apabila terdapat perkembangan signifikan.

(Hans Sahagun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *