Dandim Letkol Kav. Kurnia Santiadi Wicaksono Usung Kepemimpinan Terbuka dan Humanis

Letkol Kav. Kurnia Santiadi Wicaksono, S.H., dalam mengemban amanahnya saat ini sementara menampilkan gambaran pemimpin yang terbuka dan humanis. Di ujung selatan Indonesia, di Pulau Rote yang dikenal sebagai Negeri Sejuta Lontar, Kurnia memimpin Kodim 1627/Rote Ndao dengan gaya kepemimpinan yang tidak hanya tegas, tetapi juga humanis dan menginspirasi. Di tengah tugas yang sarat dengan disiplin militer, ia membawa wajah TNI yang lebih dekat dengan masyarakat.

Sebagai Dandim di wilayah perbatasan, Kurnia memikul tanggung jawab besar menjaga kedaulatan. Namun, ia tidak berhenti hanya pada aspek pertahanan. Ia juga memperlihatkan kepedulian sosial, memperhatikan kebutuhan masyarakat, serta menanamkan nilai kebersamaan. Pendekatan ini membuat TNI bukan hanya sekadar penjaga perbatasan, tetapi juga bagian dari denyut nadi masyarakat setempat.

Keberadaan Kurnia di Rote Ndao menunjukkan bahwa seorang pemimpin militer dapat hadir dengan wajah yang lebih ramah sekaligus membuktikan bahwa kepemimpinan di daerah perbatasan tidak hanya diukur dari kekuatan komando, tetapi juga dari sejauh mana ia bisa membangun kedekatan dengan rakyat yang dipimpinnya.

Letkol Kav. Kurnia Santiadi Wicaksono, S.H.

TNI Sahabat Anak

Salah satu gambaran nyata kepedulian humanis Kurnia adalah kedekatannya dengan anak-anak. Bukan hanya sebagai komandan berseragam, ia juga tampil sebagai seorang ayah yang penuh kasih sayang. Momen saat ia berinteraksi dengan anak-anak di Alun-alun Kota Ba’a pada Selasa (16/9/2025) menjadi contoh sederhana, tetapi penuh makna. Ia menyapa, bercanda, dan membangun komunikasi yang hangat, seolah anak-anak itu adalah bagian dari keluarganya sendiri.

Bagi Kurnia, anak-anak adalah masa depan bangsa yang harus dilindungi sejak dini. Interaksinya bersama mereka bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud perhatian nyata. Ia percaya, dengan menghadirkan sosok TNI yang ramah dan bersahabat, anak-anak akan tumbuh dengan rasa aman sekaligus bangga terhadap bangsanya.

Pendekatan ini juga membantu mengikis stigma lama bahwa tentara adalah sosok menakutkan. Banyak orang tua yang dulu menjadikan tentara sebagai “alat menakut-nakuti” anak kini bisa melihat TNI sebagai sahabat. Program seperti ini juga memperkenalkan disiplin, kerja keras, dan semangat kebangsaan kepada anak-anak sejak dini, namun tetap dengan cara yang menyenangkan.

Kepemimpinan yang Terbuka

Letkol Kav. Kurnia dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang terbuka. Ia percaya bahwa komunikasi adalah kunci keberhasilan sebuah organisasi. Karena itu, ia selalu memberi ruang bagi anggotanya untuk menyampaikan ide, kritik, maupun aspirasi. Forum diskusi yang ia gelar secara rutin, baik formal maupun informal, menjadi sarana membangun hubungan timbal balik antara pemimpin dan bawahan.

Pendekatan ini menciptakan suasana kerja yang sehat. Prajurit merasa dihargai karena suara mereka didengar, sementara Kurnia mendapatkan masukan berharga untuk meningkatkan kinerja satuan. Komunikasi dua arah yang ia bangun menumbuhkan rasa percaya, yang pada gilirannya memperkuat solidaritas dan disiplin di tubuh Kodim.

Dengan cara ini, kepemimpinan tidak lagi dipandang sebagai hubungan satu arah, melainkan sebagai kemitraan. Bawahan tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga ikut merasa memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan misi. Itulah yang membuat gaya kepemimpinan Kurnia lebih diterima dan dihormati oleh para prajuritnya.

Teladan yang Menginspirasi

Kurnia tidak hanya berbicara tentang disiplin dan dedikasi, ia juga menunjukkannya lewat tindakan nyata. Kehadirannya selalu menjadi contoh bagi bawahannya. Ia datang tepat waktu, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menjaga integritas dalam setiap tugas. Dari keteladanan itu, para prajurit belajar bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari diri sendiri.

Bagi Kurnia, menjadi pemimpin berarti memberi teladan, bukan sekadar memberi perintah. Ia menekankan bahwa sikap sehari-hari seorang komandan akan lebih diingat bawahan daripada kata-kata. Karena itu, ia berusaha menampilkan perilaku yang bisa dicontoh, mulai dari kesederhanaan hingga kesungguhan dalam bekerja.

Dampak dari keteladanan ini terlihat dalam semangat kerja para prajurit. Mereka termotivasi untuk bekerja lebih disiplin dan berdedikasi, karena melihat contoh langsung dari komandannya. Budaya kerja yang tercipta bukanlah hasil paksaan, melainkan lahir dari rasa hormat dan inspirasi yang diberikan oleh pemimpin mereka.

Bersama Masyarakat

Selain fokus pada internal TNI, Kurnia juga aktif menjalin kerja sama dengan masyarakat. Ia menyadari bahwa tugas TNI tidak hanya berkaitan dengan pertahanan, tetapi juga dengan pembangunan sosial. Karena itu, ia kerap berkolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan untuk melaksanakan berbagai program.

Program peduli rakyat yang ia jalankan menjadi bukti nyata dari kepedulian tersebut. Mulai dari kegiatan sosial, edukasi, hingga dukungan terhadap pembangunan desa, semua dilakukan untuk mendekatkan TNI dengan masyarakat. Dengan begitu, keberadaan TNI tidak hanya terasa di saat ada ancaman, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan kolaboratif ini membuat masyarakat Rote Ndao merasa memiliki hubungan yang lebih dekat dengan TNI. Mereka tidak lagi memandang TNI hanya sebagai institusi militer, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan mereka. Inilah bentuk nyata sinergi antara militer dan masyarakat dalam membangun kesejahteraan bersama.

Inspirasi bagi Lingkungan Militer dan Sipil

Sosok Letkol Kav. Kurnia Santiadi Wicaksono adalah gambaran seorang pemimpin yang mampu menggabungkan ketegasan militer dengan sentuhan humanis. Ia hadir sebagai komandan yang bisa memimpin dengan wibawa, tetapi sekaligus mampu menyentuh hati dengan kepedulian. Perpaduan inilah yang membuatnya inspiratif, baik bagi prajurit maupun masyarakat sipil.

Kepemimpinan seperti ini jarang ditemui. Biasanya, seorang pemimpin militer identik dengan ketegasan yang kaku. Namun Kurnia membuktikan bahwa ketegasan bisa berjalan beriringan dengan kepedulian. Justru dengan cara itu, pengaruh dan wibawa seorang pemimpin semakin kuat di mata bawahan dan rakyat.

Tindakan humanis yang ia lakukan, kedekatan dengan anak-anak, keterbukaan komunikasi, dan kolaborasi dengan masyarakat menjadikan Kurnia sebagai contoh teladan. Kepemimpinannya tidak hanya relevan di dunia militer, tetapi juga menjadi inspirasi dalam kehidupan sipil. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan untuk peduli sekaligus tegas, mengayomi sekaligus mengarahkan.

 

(Mekris Ruy/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *