Launching Buku Karya Guru dan Siswa SMAN 2 Taebenu, Ambrosius Kodo: Hidup Adalah Menulis Sejarah

Oleh: Simon Seffi

SMAN 2 Taebenu Launching Buku “Satu Gambar, Seribu Makna”

Pihak SMAN 2 Taebenu di Dusun Sanenu, Desa Bokong, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, NTT telah meluncurkan (launching) buku berjudul “Satu Gambar, Seribu Makna” pada Senin (6/10/2025) lalu.

Peluncuran buku antologi puisi, cerpen, dan pantun karya kolaborasi para guru dan siswa SMA Negeri 2 Taebenu itu dihadiri Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos.,M.M., Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB Kabupaten Kupang, Simon Gasang, S.Pd.,MBA., Pengawas Pembina SMAN 2 Taebenu, Budyana, S.Pd.,MBA., sejumlah Kepala SMA di Kabupaten Kupang, pengurus Komite SMAN 2 Taebenu, beberapa aparat dan anggota BPD Desa Bokong, Bhabinkamtibmas Desa Bokong, Rohaniawan Gereja setempat, serta puluhan orang tua warga sekolah.

Pantauan penulis, selepas acara launching buku yang dipaketkan dengan pembukaan kegiatan IHT (In House Training) para guru SMAN 2 Taebenu selama beberapa hari hingga Rabu (8/10/05) itu, Kadis Ambrosius ditemani Korwas, Pengawas Pembina SMAN 2 Taebenu, para kepala SMA, Komite sekolah dan tamu undangan melakukan penanaman beberapa anakan pohon di halaman sekolah.

Kepala SMAN 2 Taebenu, Konstantinus Nu Nay, S.Pd. kepada penulis selepas kegiatan menyampaikan, dirinya bersyukur karena buku yang berisi kumpulan karya guru dan siswa bisa terbit dan diluncurkan tepat pada bulan kesembilan kehadirannya di SMAN 2 Taebenu.

Plt. Kepala SMAN 2 Taebenu, Konstantinus Nu Nay, S.Pd.

Konstantinus menjelaskan, inisiatif awal untuk menulis dan menerbitkan buku itu bermula ketika dirinya tiba dan prihatin mendapati keadaan perpustakaan sekolah yang relatif kosong, sehingga dirinya kemudian mengajak para guru dan siswa untuk berkolaborasi membuat tulisan antologi berupa puisi, cerpen, pantun, dan juga napak tilas SMAN 2 Taebenu.

Konstantinus juga menjelaskan, dirinya mengajak para guru dan siswa untuk menulis sebagai upaya mewariskan kenangan karena kebiasaan bertutur yang umumnya ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat cenderung mulai hilang, sementara budaya menulis juga belum ditanamkan dengan baik.

Karena itu, tegas Konstantinus, meskipun sejumlah karya tulis yang dihasilkan masih sederhana, dirinya mengaku sangat berbangga hati karena buku “Satu Gambar, Seribu Makna” merupakan hasil karya sendiri yang orisinil, yang bisa meninggalkan jejak untuk dikenang.

“Walaupun sederhana, tetapi itu karya anak-anak kita sendiri, karya para guru sendiri, dan itu bisa dikenang sepanjang waktu.” bangga Konstantinus.

Konstantinus menegaskan, buku yang sudah terbit sebagai hasil dari program literasi sekolah yang sejalan dengan Gerakan NTT Membaca, NTT Menulis  (Genta Belis) yang digaungkan oleh Kadis Ambrosius Kodo itu merupakan pendorong semangat menulis bagi warga sekolah pada sembilan bulan pertama kehadirannya, sehingga dirinya akan terus mendorong para guru dan siswa untuk terus berkarya agar ada buku berikut yang diterbitkan di tahun mendatang.

Sesuai pembacaan penulis, meski jumlah halamannya tak sampai 140, isi buku “Satu Gambar, Seribu Makna” sangat kaya dan beragam. Buku tersebut diberi kata pengantar, masing-masing oleh Konstantinus Nu Nay, S.Pd. selaku Kepala Sekolah, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M. selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, serta Thomas A. Sogen, sebagai pegiat literasi sekaligus editor buku “Satu Gambar, Seribu Makna”.

Ditulis oleh 28 penulis yang terdiri dari para guru dan peserta didik, buku “Satu Gambar, Seribu Makna” tidak hanya meluapkan ekspresi para guru dan siswa terhadap realitas melalui puisi, pantun, dan cerpen, tetapi  juga sekaligus mendokumentasikan perjalanan sejarah sekolah dengan segala keadaannya yang serba terbatas. Isi buku terbagi menjadi lima bagian utama dengan total lebih dari 50 tulisan.

Bagian pertama adalah Goresan Kata, berisi 5 tulisan reflektif dan testimoni dari tokoh pendidikan dan masyarakat sekitar, yakni Simon Gasang, Budyana, Yanrikosta Dully, Maria Takain, dan Nitanel Atimeta, yang menuturkan sejarah berdirinya SMA Negeri 2 Taebenu serta kontribusinya dalam mencerdaskan generasi muda di Bokong sebagai salah satu daerah terpencil.

Bagian kedua buku adalah “SMAN 2 Taebenu dalam Gambar”, menampilkan dokumentasi napak tilas perjalanan sekolah sejak hadirnya Kepala Sekolah Konstantinus Nu Nay, S.Pd. pada akhir tahun 2024. Melalui rangkaian foto dan narasi kegiatan sepanjang 2024–2025, bagian kedua buku tersebut merekam berbagai momen penting dari sejak serah terima jabatan kepala sekolah, hingga kegiatan-kegiatan sekolah seperti kerja bakti, kegiatan pembelajaran, observasi guru, perayaan keagamaan, hingga partisipasi siswa dalam ajang FLS2N. Setiap foto seolah menjadi saksi perubahan nyata yang terjadi di bawah kepemimpinan Konstantinus yang membawa semangat kolaborasi dan pembaruan budaya kerja dalam menggerakkan seluruh warga sekolah untuk bertumbuh bersama dalam semangat literasi dan kemajuan.

Bagian ketiga, keempat, dan kelima buku tersebut berturut-turut berisi 27 puisi, 8 cerita pendek, dan 9 pantun. Puisi-puisi yang ada lekat dengan tema kemanusiaan, pendidikan, perjuangan guru, kecintaan terhadap alam, dan refleksi kehidupan siswa di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Sementara Cerpen-cerpen yang ada menggambarkan semangat pantang menyerah, kerja keras, dan pentingnya pendidikan, sedangkan pantun-pantunnya bernuansa nasihat, motivasi, dan kearifan lokal.

Secara garis besar, keseluruhan isi buku menggambarkan semangat literasi dan pendidikan yang tumbuh dari keterbatasan, sebab, para penulis sepertinya berusaha menghadirkan potret kehidupan nyata di lingkungan sekolah pedesaan melalui kisah guru yang berjuang menembus keterbatasan fasilitas, siswa yang belajar dengan tekun di tengah akses yang sulit, serta lingkungan sekolah yang menjadi pusat harapan dan perubahan sosial. Terbaca juga bahwa buku “Satu Gambar, Seribu Makna” seolah menjadi sebuah catatan sejarah dan refleksi kolektif tentang bagaimana SMAN 2 Taebenu sebagai sebuah lembaga pendidikan di pelosok mampu membangun budaya literasi yang kuat, yang berupaya menjadikan menulis sebagai ruang berekspresi, dan membaca sebagai jendela pembaruan.

Setiap tulisan yang ada dalam buku “Satu Gambar, Seribu Makna” telah berupaya menonjolkan nilai-nilai pendidikan, spiritualitas, dan budaya lokal yang kental. Karena itu, buku tersebut bisa dijadikan sebagai contoh gerakan literasi sekolah berbasis partisipasi warga sekolah, yang memberi inspirasi bahwa literasi dapat tumbuh di mana pun, bahkan di tengah keterbatasan.

Minta Ortu Dukung Pendidikan Anak, Kadis Ambrosius: Urusan Akhlak Sudah Harus Selesai di Rumah

Kadis PK Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., saat menyampaikan sambutan untuk meluncurkan buku “Satu Gambar, Seribu Makna” di SMAN 2 Taebenu mengapresiasi semangat warga sekolah di Desa Bokong yang tetap gigih mengembangkan pendidikan meskipun akses menuju lokasi sekolah tersebut belum sepenuhnya baik. Kadis Ambrosius menyampaikan, semangat yang ditunjukkan oleh warga sekolah merupakan wujud keyakinan bahwa tempat di mana para leluhur menetap adalah tanah terbaik untuk melanjutkan kehidupan dan perjuangan.

Kadis Ambrosius mengakui, meski kondisi geografis di wilayah Desa Bokong cukup menantang, masyarakat tetap menunjukkan tekad untuk maju dan tidak menyerah pada keadaan. Ambrosius bahkan mengenang kisah istrinya yang semasa SMP harus menempuh perjalanan sulit melewati sungai saat musim hujan karena sang ayah mengajar di daerah Taebenu.

Dari pengalaman istrinya, Kadis Ambrosius menilai bahwa perjuangan masyarakat Taebenu patut dihargai karena tetap bersemangat meski di tengah keterbatasan.

“Nah, ini keadaan kita, tapi apakah kita akan menangisi keadaan seperti ini? Tidak. Kita mesti tetap bersemangat, bahwa dari tempat yang terpencil seperti ini, akan tumbuh generasi-generasi muda yang siap untuk Kabupaten Kupang, untuk Provinsi NTT, dan untuk Indonesia,” gugah Kadis Ambrosius.

Lebih lanjut, Kadis Ambrosius menjelaskan bahwa setiap manusia diberikan waktu yang sama, yakni 24 jam setiap hari, sehingga pemanfaatan waktu menjadi faktor penting dalam membangun masa depan. Ambrosius mengingatkan bahwa generasi muda hari ini harus disiapkan untuk menghadapi masa Indonesia Emas 2045, di mana mereka akan berada pada usia produktif.

Karena itu, Kadis Ambrosius menegaskan pentingnya peran orang tua dalam membimbing anak-anak belajar dan berlatih sejak dini, bukan sekadar menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada pihak sekolah. Orang tua, tegas Ambrosius, harus hadir sebagai pendamping utama dalam pembentukan kepribadian anak.

Kadis Ambrosius juga menegaskan bahwa pendidikan karakter dan akhlak bukanlah tanggung jawab sekolah semata. Ia menilai, sembilan puluh persen pembentukan etika dan akhlak anak berasal dari rumah, sementara sekolah hanya memperkuat dan menyempurnakan sisanya. Ia mengingatkan agar para orang tua tidak bersikap lepas tangan terhadap perkembangan anak-anak mereka.

“Untuk urusan karakter, akhlak, itu mesti datang dari rumah. Etika dan akhlak itu sudah selesai di rumah, sudah tuntas di rumah. Oleh karena itu, dukungan bapak mama sekalian menjadi penting. Ajar anak-anak kita untuk beretika, untuk beradab dari rumah,” tegas Kadis Ambrosius.

Kadis Ambrosius menjelaskan, sekolah hanya berperan melengkapi aspek pengetahuan dan keterampilan siswa, sedangkan fondasi utama karakter harus tertanam di lingkungan keluarga. Ia mencontohkan bahwa dunia kerja kini lebih menilai seseorang dari karakternya dibanding kecerdasan semata. Menurut Kadis Ambrosius, kecerdasan tanpa kejujuran dan kerendahan hati justru dapat menimbulkan kerugian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, Kadis Ambrosius mengajak para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai moral sejak dini, seperti kejujuran, kedisiplinan, kesopanan, dan rasa hormat terhadap sesama.

Kadis Ambrosius juga menekankan pentingnya keluarga sebagai tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar tentang karakter sehingga Ia mendorong agar anak-anak dibiasakan berinteraksi dengan lingkungan sosial, mengikuti kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan, serta belajar menghormati orang tua dan guru.

IHT, Momentum Guru Refleksi Pelaksanaan Tugas KBM

Saat meluncurkan buku “Satu Gambar, Seribu Makna” yang dirangkai dengan pembukaan kegiatan IHT (In House Training) bagi para guru di SMAN 2 Taebenu, Kadis Ambrosius meminta para guru di SMA Negeri 2 Taebenu untuk menjadikan kegiatan In House Training (IHT) sebagai momentum refleksi dan perbaikan diri dalam menjalankan tugas-tugas pembelajaran. Kadis Ambrosius menekankan bahwa IHT bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang belajar bersama untuk memperbarui wawasan dan meningkatkan profesionalisme dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas.

Kadis Ambrosius mengharapkan agar IHT bisa membawa perubahan nyata dalam sikap dan kinerja para guru setelah kegiatan selesai dilaksanakan sehingga Ia menegaskan, kegiatan IHT harus menjadi sarana untuk memperkaya pengetahuan, memperluas wawasan, dan menumbuhkan semangat baru dalam melaksanakan tugas pendidikan di semester berikutnya.

“Kalau sebelum IHT masih malas, setelah IHT mesti rajin. Baik, lebih baik, bae sonde bae, di Sanenu masih lebih baik daripada di Amfoang. Bapak ibu jalan kaki mungkin satu jam bisa sampai di Baumata, kalau ke Amfoang? Jadi, jangan menggerutu bagi teman guru yang sudah di sini. Saya kira ini harus disyukuri di tempat ini. Kerja dengan baik, rajin, fokus pada tugas dan pekerjaan, jangan sibuk dengan yang lain.” pinta Kadis Ambrosius.

Kadis Ambrosius menegaskan pentingnya disiplin dan tanggung jawab guru terhadap pekerjaan utama sehingga tidak teralihkan oleh hal-hal di luar tugas pokok, terutama aktivitas yang tidak produktif di media sosial.

“Guru jangan sibuk kritik bupati, kritik camat, tidak usah! kalau pekerjaan kita belum beres, perhatikan. Mari kritik diri sendiri karena ada guru yang sibuk sekali, gatal tangannya di media sosial menilai kinerja bupati segala macam, tiap hari posting di facebook. Saya pikir ini guru ada kerja atau tidak? Saya kasi tahu kepala sekolah, dicek jam mengajarnya di kelas. Dicek jangan sampai dia tidak mengajar,  jangan sampai masuk kasih tugas lalu kemudian dia sibuk dengan yang lain. Tapi itu tidak terjadi di SMA 2 Taebenu, itu terjadi di sekolah lain dan bukan di NTT. Di NTT baik-baik semua.” tekan Kadis Ambroius.

Literasi, Kunci Menuju Peradaban yang Lebih Baik

Kadis Ambrosius juga menegaskan, literasi merupakan kunci utama untuk membawa bangsa menuju peradaban yang lebih baik. Kadis Ambrosius mengaitkan kegiatan literasi sekolah dengan gerakan yang ia gagas tahun sebelumnya, yakni Gerakan Nusa Tenggara Timur Membaca dan Menulis (Gerta Belis) sebagai upaya bersama untuk menumbuhkan budaya literasi di seluruh satuan pendidikan di NTT.

Kadis Ambrosius menyampaikan bahwa membaca dan menulis adalah dua hal mendasar dalam membangun peradaban manusia sebab melalui kegiatan membaca, seseorang memperoleh pengetahuan dan memperluas wawasan, sementara melalui menulis, pengetahuan itu dibagikan kepada orang lain agar tidak berhenti pada diri sendiri. Ambrosius menilai, kebiasaan menulis akan menciptakan warisan intelektual yang berguna bagi generasi berikutnya sebab ketika pengetahuan, pengalaman, dan gagasan dituangkan dalam tulisan, maka nilai dan prestasi sebuah lembaga akan terekam dan dapat menjadi inspirasi bagi penerusnya.

Lebih lanjut Kadis Ambrosius menjelaskan, dokumentasi melalui tulisan juga menjadi cara untuk menumbuhkan semangat berprestasi dan keberlanjutan di lingkungan sekolah sehingga, jika setiap kepala sekolah menuliskan capaian dan inovasi selama masa kepemimpinannya, maka generasi berikutnya dapat melihat sejarah dan hasil kerja tersebut sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik. Tradisi literasi seperti ini, jelas Kadis Ambrosius, akan membantu sekolah membangun identitas, kesinambungan, serta budaya reflektif yang positif.

Kadis Ambrosius juga menegaskan bahwa jika seseorang belum mampu membuat inovasi besar, ia dapat memulai dengan melakukan pembeda kecil yang bermakna sebab perubahan sederhana sekalipun dapat menjadi tanda kemajuan dan bentuk konsistensi untuk terus berkembang. Kadis Ambrosius mencontohkan, sekadar mengubah susunan pot bunga di sekolah pun dapat memberi pesan bahwa ada pergerakan menuju arah yang lebih baik.

Kadis Ambrosius lantas mengutip pemikiran tokoh John Naisbitt yang menyebut bahwa untuk dikenal dan diingat, seseorang harus berani tampil berbeda, tidak terlalu mundur hingga tertinggal, dan juga tidak terlalu maju hingga terlepas dari bingkai zaman, sehingga guru dan siswa perlu terus berinovasi dan meninggalkan jejak positif dalam sejarah sekolah mereka.

Ambrosius Kodo: Hidup Adalah Menulis Sejarah

Kadis Ambrosius menegaskan bahwa setiap manusia sedang menulis sejarah hidupnya melalui apa yang ia lakukan setiap hari sehingga ia mengajak seluruh guru dan siswa untuk memandang kehidupan sebagai proses menorehkan jejak berarti yang akan dikenang oleh orang lain.

“Ketika usia kita sampai pada batas, SK itu datang, dan kita akan pulang, apakah yang dikenang dari kita? Apa yang diingat dari kita? Maka mari kita menulis sejarah.” ajak Kadis Ambrosius.

Kadis Ambrosius menjelaskan bahwa kegiatan peluncuran buku karya guru dan siswa di SMA Negeri 2 Taebenu merupakan bagian dari proses menulis sejarah sekolah. Melalui karya tersebut, nilai Kadis Ambrosius, sekolah sedang meninggalkan catatan penting bagi generasi berikutnya agar kelak dapat membaca bahwa pernah ada semangat besar dan karya hebat yang lahir dari SMAN 2 Taebenu sehingga ia mendorong kepala sekolah, guru, serta siswa untuk bersama-sama menulis sejarah melalui tindakan nyata, bukan hanya lewat kata-kata.

Menurut Kadis Ambrosius, bila seseorang belum mampu menorehkan sejarah sendiri, maka ia perlu mendukung orang lain yang sedang berusaha menciptakannya, agar tetap menjadi bagian dari sejarah itu sendiri, sehingga dirinya mengharapkan warga sekolah tidak kehilangan semangat hanya karena muncul pandangan pesimis atau cibiran dari lingkungan sekitar.

Kadis Ambrosius mengingatkan agar para guru tidak menolak gagasan baru yang dibawa oleh kepala sekolah atau guru tertentu hanya karena sudah terbiasa dengan keadaan lama.

“Jangan sampai ada semangat baru untuk perubahan, kita bilang, ko ini kepsek bikin apa lai? Sama sa pak, ko katong di sini mau bikin apa ju andia begini sa. Tidak boleh begitu. Tetap semangat kita bisa melakukan perubahan, dan perubahan yang besar itu hanya bisa kita lakukan kalau kita mulai dari diri sendiri.” Tegas Kadis Ambrosius.

Di akhir sambutannya, Kadis Ambrosius juga menyampaikan pesan inspiratif bagi para siswa agar menata masa depan sejak dini dengan mengutip kalimat bijak yang mengingatkan pentingnya memulai perubahan dari hal kecil.

“Ada orang bijak menulis begini untuk anak-anak kita: Jangan bermimpi untuk merubah dunia, kalau anda bangun dari tidur, tempat tidurmu belum bisa anda rapihkan, jangan mimpi untuk merubah dunia. Jadi bangun pagi itu, pastikan kalau mau merubah dunia, melakukan segala sesuatu, turun dari tempat tidur, berdoa, habis atur kasih rapi tempat tidur. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil, anda bisa mengerjakan yang besar.” pesan Kadis Ambrosius.

Menutup sambutannya, Kadis Ambrosius memberi penekanan pada para siswa bahwa masa depan mereka ditentukan oleh diri mereka sendiri. Sebab, tekan Kadis Ambrosius, guru dan orang tua hanya berperan membantu, memfasilitasi, dan mendukung, sementara keputusan untuk belajar dan berjuang ada di tangan masing-masing.

Kadis Ambrosius lantas mengingatkan agar siswa tidak menunggu sampai lulus sekolah atau kuliah untuk memikirkan masa depan, karena proses itu harus dimulai dari sekarang.

“Masa depanmu anda mulai tulis dari hari ini. Dengan cara apa? Belajar. Dengan cara apa? Baca.” tegas Kadis Ambrosius.

 

 

*Penulis, Simon Seffi saat ini mengajar di SMAN 2 Fatuleu Barat sambil mengelola media NTTPos.com dan SuaraAmfoang.com.

 

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar