Gotong Royong NTT: Saat Iman Menemukan Wajahnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Oleh: Antonius Arnoldus Janssen Sau

Ketika berbicara tentang Nusa Tenggara Timur (NTT), orang-orang sering menyinggung tentang keindahan alamnya, kekayaan budayanya, ataupun keragaman bahasanya. Namun ada satu harta yang jauh lebih dalam dan membentuk denyut kehidupan masyarakat NTT yaitu, budaya gotong royong. Banyak yang memahaminya sebagai kearifan lokal, warisan leluhur yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Namun jika dipandang melalui lensa iman Katolik, gotong royong bukanlah sekadar tradisi sosial namun ia adalah spiritualitas hidup, wujud paling nyata dari Injil yang bekerja dalam kehidupan harian masyarakat.

Di NTT, gotong royong bukan seremonial, bukan pula slogan budaya. Ia adalah napas yang menghidupkan relasi antarmanusia dan menyatukan iman, adat, persaudaraan, dan solidaritas dalam satu gerak sederhana namun mendalam dan saling menolong tanpa pamrih.

Ajaran Katolik menggarisbawahi bahwa inti kehidupan rohani adalah kasih, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (Mat 22:37–39). Namun kasih tidak boleh berhenti di dalam doa atau permenungan semata tetapi ia harus menjelma menjadi tindakan. Hal inilah yang tampak begitu kuat di tengah kehidupan masyarakat NTT. Ketika sebuah keluarga berduka, tetangga berdatangan tanpa menunggu undangan. Ada yang menggali kubur, menyiapkan tenda, memasak, atau membawa hasil kebun dan ternak untuk membantu. Tidak ada aturan tertulis, tidak ada paksaan, yang ada hanyalah hati yang tergerak untuk menghadirkan kasih.

Surat Yakobus menegaskan bahwa “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:17). Di banyak tempat, ayat ini menjadi renungan moral tetapi di NTT, ia menjelma menjadi realitas sehari-hari. Iman tidak berhenti di altar, tetapi bergerak melalui tangan-tangan yang bekerja, bahu yang saling memikul beban, dan langkah yang bersama menguatkan yang rapuh. Membangun rumah, mengurus pesta adat, mendampingi keluarga berduka, hingga menolong korban bencana dan semuanya itu menjadi bentuk ibadah hidup yang memperlihatkan Injil dalam tindakan.

Dalam teologi Katolik, manusia dipanggil untuk hidup dalam communio, yaitu persekutuan yang saling menopang demi kebaikan bersama. Di banyak tempat, istilah ini sering terdengar sebagai konsep yang abstrak. Namun di NTT, communio mengambil bentuk yang sangat konkret. Sebuah pesta adat, misalnya, tidak pernah menjadi tanggungan satu keluarga saja; seluruh kerabat dan komunitas turut ambil bagian sebagai satu kesatuan. Ketika satu orang mengalami penderitaan, seluruh kampung ikut memikul bebannya. Dan ketika satu orang bersukacita, seluruh warga larut dalam kegembiraan bersama. Di sinilah gambaran Santo Paulus tentang Gereja sebagai satu tubuh (1Kor 12:26) menemukan wujudnya dalam kehidupan sosial masyarakat.

Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa budaya lokal adalah tempat di mana Allah sudah lebih dulu menaburkan benih kebaikan-Nya. Karena itu, gotong royong di NTT bukan hanya kebiasaan sosial, tetapi tanda nyata bahwa nilai-nilai Injil hidup dan bekerja dalam budaya masyarakat. Nilai seperti solidaritas, kerja sama, dan persaudaraan bukan sesuatu yang datang dari luar tetapi semua itu sudah ada dan tumbuh dalam tradisi setempat sejak lama, bahkan sebelum kekristenan hadir. Gereja kemudian menegaskan bahwa nilai-nilai ini adalah benih Sabda Allah yang sudah ditanam dan bertumbuh dalam budaya lokal.

Keindahan gotong royong di NTT makin tampak ketika ia melampaui batas-batas agama. Ada banyak kisah nyata seperti umat kristiani ikut membangun masjid, umat Muslim turut membantu pembangunan kapel atau rumah doa Kristen. Semua dilakukan tanpa perdebatan doktrin atau sentimen identitas. Inilah yang disebut dialog kehidupan yaitu dialog yang tidak diucapkan, tetapi diwujudkan melalui tindakan kasih dan penghargaan terhadap martabat sesama.

Praktik lintas iman ini menunjukkan bahwa gotong royong adalah bahasa universal kemanusiaan. Dalam terang iman Kristiani, bahasa itu diperkaya oleh ajaran Kristus tentang persaudaraan sejati yaitu bahwa setiap manusia, apa pun latar belakang agamanya, adalah ciptaan Allah yang patut dicintai.

Karena itu, gotong royong di NTT tidak bisa dilihat hanya sebagai tradisi leluhur. Ia adalah spiritualitas Kristiani yang hidup dan merupakan Injil yang tidak ditulis dengan tinta, tetapi dengan tindakan. Ia adalah “sakramen kehidupan” dan tanda kehadiran Allah dalam relasi antar manusia. Ia adalah communio yang dihidupi, solidaritas yang diwartakan melalui perbuatan, dan kasih yang dinyalakan setiap hari.

Dalam denyut kebersamaan itulah budaya dan iman bertemu. Pada titik perjumpaan tersebut, iman menemukan rumahnya yang hangat, hidup,  dan terus menyalakan harapan bagi siapa pun yang menghidupinya.

 

*Penulis adalah mahasiswa FKIP Matematika Unwira Kupang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *