Cahaya dari Perbatasan: Unimor Menuai Buah Ilmu di Usia Seperempat Abad

Oleh: Yohanis Ndapa Deda, S.Pd., M.Si

Pengantar: Momen yang Menguatkan Harapan

Hari ini, Universitas Timor (Unimor) mengukuhkan dua Guru Besar: Prof. Dr. Ir. Charles Venirius Lisnahan, S.Pt., M.P., IPU (Ilmu Ternak Unggas/Usaha Budidaya Unggas) dan Prof. Dr. Ir. Paulus Klau Tahuk, S.Pt., M.P., IPU (Ilmu Produksi Ternak Potong). Bersama Prof. Dr. Sirilius Seran, SE, MS yang dikukuhkan pada 7 Oktober 2017. Unimor kini memiliki tiga profesor aktif. Pengukuhan Prof. Sirilius pada 2017 terdokumentasi pada liputan Pos Kupang saat rapat senat terbuka di Aula Biinmaffo, Sabtu (7/10/2017).

Pengukuhan ini menegaskan arah perjalanan Unimor: kampus yang bertumbuh dari perbatasan NKRI–RDTL dengan pijakan pada kebutuhan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan cakrawala nasional. Keilmuan peternakan unggas dan ternak potong yang berhubungan langsung dengan dapur rumah tangga dan nadi ekonomi lokal, sehingga setiap kemajuan di kampus berpotensi cepat terasa di desa-desa.

Bagi sivitas akademika, momen ini menyulut optimisme: komitmen panjang pada penelitian, pengajaran, dan pengabdian memang menemukan puncaknya. Bagi masyarakat umum, pengukuhan hari ini adalah bukti bahwa investasi pada pendidikan tinggi tetap berbuah di titik-titik terluar negeri.

Yohanis Ndapa Deda, S.Pd., M.Si (Penulis)

Sejarah Singkat Unimor: Dari Ujian Menjadi Kekuatan

Unimor berakar dari perjalanan Universitas Timor Timur (Untim) yang berpindah ke wilayah Indonesia pasca jajak pendapat di Timor Timur, sebuah transisi sejarah yang melahirkan tekad menata “rumah ilmu” di tapal batas.

Secara kelembagaan, Unimor lahir sebagai perguruan tinggi swasta; dokumen internal Unimor (Fakultas Peternakan) mencatat SK Mendiknas No. 67/D/O/2000 tentang status terdaftar dan SK Yayasan Pendidikan Cendana Wangi No. 01/P/YS/VI/2000 terkait pendirian Universitas Timor.

Selanjutnya, Peraturan Presiden Nomor 119 Tahun 2014 secara resmi menetapkan pendirian Unimor sebagai perguruan tinggi negeri (ditetapkan di Jakarta pada 6 Oktober 2014, diundangkan 9 Oktober 2014). Dokumen resmi ini tersedia pada basis data peraturan BPK dan portal peraturan pemerintah.

Dua Tokoh, Dua Keahlian yang Relevan

Prof. Charles Venirius Lisnahan adalah putra Amarasi (Kabupaten Kupang). Jejak akademiknya terekam di SINTA/Google Scholar di bidang Poultry Science serta kiprahnya sebagai editor dan tim pengabdian berbasis unggas; beberapa rujukan institusional dan media lokal menuliskan namanya lengkap dengan gelar IPU.

Prof. Dr. Ir. Charles Venirius Lisnahan, S.Pt., M.P., IPU.

Prof. Paulus Klau Tahuk, putra Malaka, fokus pada produksi ternak potong; produktivitas ilmiahnya mudah ditelusuri melalui profil Google Scholar. Kabar mengenai penetapannya sebagai Profesor (jafung Guru Besar) bidang Produksi Ternak Potong diberitakan oleh Kabar-Malaka pada 2025.

Prof. Dr. Ir. Paulus Klau Tahuk, S.Pt., M.P., IPU.

Bagi masyarakat, maknanya gamblang: kepakaran unggas dan ternak potong berdampak pada ketersediaan protein hewani, stabilitas harga, dan peluang usaha. Bagi mahasiswa, hadirnya dua profesor memperkaya kelas, memperluas akses riset, dan menambah jejaring akademik.

Mengapa Pengukuhan Ini Penting untuk NTT

NTT memiliki modal sosial yang besar, etos kerja, jejaring komunitas, dan sumber daya lokal yang khas. Di banyak desa, unggas dan ternak potong adalah tulang punggung ekonomi rumah tangga. Dengan hadirnya dua Guru Besar di bidang ini, riset menjadi lebih terarah, uji terapan lapangan lebih cepat, dan transfer pengetahuan ke peternak rakyat lebih mulus.

Penguatan keilmuan di kampus memberi pijakan data bagi kebijakan daerah dan program pemberdayaan. Kolaborasi lintas sector pemerintah, koperasi, UMKM, dan industry menjadi lebih mudah karena basisnya jelas: metode, data, dan publikasi yang kredibel.

Dalam jangka panjang, reputasi NTT sebagai laboratorium peternakan tropis kering akan kian menonjol. Reputasi ini mengundang kerja sama, memperbesar kepercayaan mitra, dan pada akhirnya mempercepat peningkatan kesejahteraan.

Makna bagi 311 Dosen Unimor

Per 16 Oktober 2025, profil afiliasi SINTA untuk Universitas Timor (ID: 524) menampilkan 311 Authors indikator Science and Technology Index (SINTA). Angka ini bersifat dinamis namun dapat diverifikasi langsung pada laman afiliasi SINTA.

Tiga profesor hari ini bukan tanda kurangnya capaian, melainkan bukti bahwa rute menuju puncak itu nyata. Jalannya sudah dibuka dan bisa ditempuh ulang. Setiap draf artikel yang tuntas, kelas yang rapi, dan proposal hibah yang berangkat adalah anak tangga kecil menuju lompatan besar.

Kita tidak harus ahli pada bidang yang sama dengan para profesor; yang perlu diambil adalah pola kerjanya: fokus pada masalah yang jelas, tekun menuntaskan tahap demi tahap, terbuka pada masukan, dan siap diperiksa. Dengan ritme seperti ini, 311 potensi bisa menjelma 311 sumber cahaya.

Budaya Mutu: Bahasa Sederhana, Dampak Nyata

Mutu bukan slogan di spanduk atau sertifikat di dinding; mutu adalah kebiasaan yang terlihat: menyiapkan perkuliahan, menata administrasi, dan menutup hari dengan refleksi jujur. Ketika tindakan-tindakan kecil dilakukan konsisten, ekosistem kampus menjadi kondusif untuk keunggulan.

Dalam ekosistem yang sehat, dosen saling belajar dan saling jaga. Revisi naskah adalah ruang tumbuh, diskusi metodologi menjadi kebiasaan, dan mahasiswa merasakan kelas yang lebih tertata serta umpan balik yang lebih jelas.

Dalam ekosistem seperti itu, Guru Besar bertindak sebagai pelita yang memberi arah, menjaga integritas, dan menguatkan standar. Sementara gerak harian seluruh sivitas adalah layar yang menangkap angin perubahan.

Ilmu yang Membumi, Manfaat yang Terasa

Keunggulan Unimor adalah kedekatannya dengan realitas NTT: musim kering, harga pakan yang fluktuatif, akses pasar yang menantang, dan ketangguhan keluarga petani–peternak. Karena itu, ilmu yang membumi sangat penting, relevan, terukur, dan bisa dipraktikkan.

Ketika dosen meneliti persoalan nyata, menyusun metode rapi, mengolah data jujur, dan menuliskannya dengan jelas, manfaatnya cepat tampak: kandang lebih higienis, pakan lebih efisien, mortalitas menurun, dan pendapatan lebih stabil. Dampak seperti ini membuat riset tidak berhenti di jurnal, tetapi berbuah di kehidupan sehari-hari.

Ilmu yang membumi juga membangun kepercayaan publik kepada kampus. Kepercayaan itulah yang memperlancar adopsi inovasi dari kandang ke pasar, dari pasar ke kebijakan.

Integritas: Fondasi yang Tidak Boleh Retak

Prestasi akademik tanpa integritas ibarat bangunan tanpa pondasi. Karena itu, kita tegakkan etika penelitian, kejujuran data, disiplin sitasi, dan kepatuhan prosedur. Integritas bukan beban administratif; ia adalah martabat kita sebagai pendidik dan peneliti.

Di tengah target dan tenggat, godaan jalan pintas selalu ada. Di sinilah peran komunitas: saling mengingatkan, menyediakan ruang konsultasi, dan memastikan sistem pencegahan bekerja dari pelatihan etika hingga pemeriksaan orisinalitas naskah.

Dengan integritas, karya kita tahan kritik, bermanfaat jangka panjang, dan patut dibanggakan. Tanpa integritas, capaian setinggi apa pun mudah runtuh dan kepercayaan publik sulit dipulihkan.

Dari Perbatasan untuk Nusantara

Kefamenanu, Amarasi, dan Malaka mungkin terdengar jauh di telinga sebagian orang. Namun dari tempat yang kerap dicap “pinggiran” inilah kita mengirim pesan: asal-usul bukan batas. Akar lokal memperkuat pijakan, sementara ilmu memungkinkan kita menjangkau lebih jauh.

Unimor layak disebut mercusuar yang menyinari sekitar sekaligus memberi arah. Mercusuar tidak berpindah tempat, tetapi cahayanya menjangkau luas. Demikian pula kampus perbatasan: teguh di lokusnya, namun pengaruhnya bisa dirasakan di banyak tempat.

Ketika cahaya itu menyambung ke desa-desa, ruang kelas, laboratorium, hingga kantor-kantor pelayanan publik, garis batas bukan lagi pemisah, melainkan jembatan pengetahuan.

Penutup: Menyalakan dan Menjaga Nyala

Selamat kepada Prof. Charles V. Lisnahan dan Prof. Paulus K. Tahuk atas pengukuhan sebagai Guru Besar Universitas Timor. Terima kasih kepada dua profesor yang dikukuhkan Prof. Charles dan Prof. Paulus karena telah menunjukkan bahwa jalan itu ada dan bisa ditempuh dari perbatasan. Teladan mereka menjadi kompas bagi kita semua untuk terus melangkah.

Kepada 311 dosen Unimor, mari jadikan hari ini titik tolak kebiasaan baru: memilih menulis daripada menunda, berdiskusi daripada berjalan sendiri, memeriksa data daripada berasumsi. Dengan begitu, capaian hari ini tidak padam menjadi berita satu hari, melainkan tumbuh menjadi budaya.

Seperempat abad telah kita lalui; seperempat abad berikutnya menunggu untuk ditulis. Ketika sejarah itu kelak dibacakan, semoga nama-nama dari timur disebut bukan sebagai pinggiran, melainkan sebagai penanda arah. Hari ini kita menuai buah ilmu; besok kita menanam benih harapan yang lebih besar.

 

*Penulis saat ini menjabat Kepala Pusat Penjaminan Mutu, LPMPP Universitas Timor

 

Daftar Rujukan 

SK pendirian & status terdaftar (internal Unimor/Fakultas Peternakan): memuat SK Mendiknas No. 67/D/O/2000 dan SK Yayasan No. 01/P/YS/VI/2000 (https://unimor.ac.id/peternakan/).

Perpres No. 119 Tahun 2014 (Pendirian Universitas Timor): naskah/metadata resmi (https://peraturan.bpk.go.id/Details/41616/perpres-no-119-tahun-2014). 

Pengukuhan Guru Besar pertama (Prof. Sirilius Seran), 7 Okt 2017: dokumentasi Pos Kupang (video/liputan: https://kupang.tribunnews.com/2017/10/08/video-rektor-unimor-dikukuhkan-jadi-guru-besar). 

Profil & kiprah Prof. Charles V. Lisnahan: Google Scholar/SINTA: https://scholar.google.com/citations?user=Y6Boe1oAAAAJ&hl=en

Profil & penetapan Prof. Paulus Klau Tahuk: Google Scholar: https://scholar.google.co.id/citations?user=1VT2c2YAAAAJ&hl=en 

Data afiliasi SINTA Unimor (jumlah penulis/author 311): laman afiliasi SINTA ID 524: https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/affiliations/profile/524 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar