Ina Bunga, Gadis Pantai yang Mengayuh Cinta di Amfoang

Oleh: Simon Seffi

Tahun 2008, ketika penulis masih bermahasiswa dan bersama sejumlah teman mahasiswa Amfoang menyelenggarakan kegiatan perlombaan matematika bagi adik-adik pelajar SD di Amfoang Timur saat agustusan, sejumlah tetua di Desa Nunuanah, Kecamatan Amfoang Timur menginformasikan keberadaan salah satu keluarga yang mereka nilai sebagai pendatang berbeda suku dan dituding melakukan penyerobotan lahan milik suku tertentu di Amfoang. Persoalan mengenai kepemilikan tanah memang agak sensitif bagi warga Amfoang.

Yang menarik bagi penulis dan kawan-kawan saat itu, nama anak gadis keluarga pendatang itu disebut sebagai Ina Bunga. Nama yang menarik, begitu komentar beberapa kawan mahasiswa saat itu. Kecantikan masa remajanya (saat itu Ina Bunga masih duduk di bangku SMP) ikut mendukung daya tarik namanya.

Dia menjadi perhatian beberapa kawan mahasiswa saat itu. Meski begitu, segala macam jenis salam yang disampaikan lewat ‘jembatan’ (kawan dari target yang dimintai bantuan untuk menyampaikan salam) tidak pernah sampai kepadanya.

Beberapa waktu lalu, ketika penulis beberapa kali berkunjung ke Desa Nunuanah, keberadaan keluarga tersebut diceritakan oleh warga Leomanu, dusun kecil di Desa Nunuanah dengan citra yang positif. Ina Bunga, anak gadis mereka, meski sudah melewati masa remajanya yang menarik itu, memiliki tempat yang baik dalam hati mereka. Pergaulannya bersama warga, keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial bersama warga, pembawaan dirinya, menjadi bahan yang baik dalam cerita mereka. Pembawaan dirinya menyentuh hati warga. Keberadaan keluarga mereka tidak lagi dipersoalkan. Mereka telah diterima dengan baik.

Yang menarik bagi penulis, selain segala pembawaan baiknya sesuai cerita warga, Ina Bunga diceritakan sering sendirian bersampan mengarungi laut Leomanu untuk memancing dan menjala ikan. Hal yang tidak biasa bagi warga Amfoang yang umumnya masih mengenal pembagian kerja sesuai jenis kelamin dalam keseharian mereka. Melaut bukan aktivitas yang cocok bagi kaum perempuan, begitu penilaian mereka. Apalagi, laut dalam yang berwarna biru umumnya juga ditakuti banyak lelaki (termasuk penulis), perempuan dirasa sangat tidak cocok duduk di atas sampan (perahu kecil) yang langsung bersentuhan dengan permukaan air laut.

Penulis kemudian bertemu dengannya pada beberapa waktu lalu di rumahnya yang terletak di ujung Desa Bakuin, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang. Rumah mereka jauh, sekitar 2 kilometer dari perumahan warga Bakuin dan lebih dekat dengan perumahan warga Dusun Leomanu di Desa Nunuanah, sekitar 500 meter, sehingga Ina Bunga dan keluarganya lebih banyak berinteraksi dengan warga Leomanu.

 

***

 

Dibesarkan di lingkungan yang langsung berciuman dengan bibir pantai, keseharian pemilik nama lengkap Mercy Haryati Radja yang akrab disapa Ina Bunga ini kuat disekap hawa laut. Rumah mereka berjarak tidak lebih dari 30 meter dari garis pantai. Karena lebar pantai di belakang rumahnya tidak sampai 20 meter, deburan ombak adalah musik yang menemani keluarganya sepanjang waktu. Aroma laut dihirup setiap saat.

Bagi gadis manis alumni Politeknik Kesehatan Negeri Kupang pada tahun 2018 ini, pantai dan laut adalah sebagian belahan hatinya. Setiap senja, pantai selalu menjadi tempat baginya melakukan ritual untuk menghantar mentari yang akan menghilang di kaki langit.

Kepada penulis, Ina Bunga mengakui, sebagian malamnya juga dihabiskan di pantai untuk menemani bulan menerangi hamparan laut sekaligus untuk bersosial media dan internetan karena sinyal kualitas 4G hanya ada di sekitar pantai dan biasanya lebih kuat ketika malam hari.

“Kadang ditemani beberapa teman cilik saya yang masih SD, tetapi lebih banyak sendiri.” cerita Ina Bunga menjawab penulis yang ingin tahu dengan siapa dirinya menghabiskan sebagian malam di pantai.

Ina Bunga memang akrab dengan anak-anak. Cerita warga Leomanu, anak-anak mereka biasanya girang dan memeluk Ina Bunga setiap kali bertemu. Beberapa malah sering bermalam di rumahnya. Ada beberapa yang biasa ikut melaut bersama Ina Bunga. Mereka juga sukarela membantu Ina Bunga ketika mengerjakan sejumlah pekerjaan. Orang tua mereka tidak keberatan.

“Dia selalu mengajarkan hal yang baik untuk anak-anak kami. Ketika kami punya hajatan apa saja, pasti Dia terlibat dan membantu sehingga kami juga senang anak-anak kami akrab dengannya.” cerita beberapa warga.

Ketika penulis berkunjung ke rumahnya, beberapa anak sementara asyik membantu Ina Bunga mengangkut pasir menggunakan gerobak dari sungai kecil yang jaraknya hampir sekilo dari rumah. Mamanya bercerita, Ina Bunga akan membuat batako untuk memperbaiki kamar mandi mereka.

“Apa saja yang bisa Dia kerjakan, pasti dibuatnya. Selain pekerjaan rumah, semua pekerjaan Ayahnya juga Dia kerjakan. Bertukang, ambil kayu bakar, dan lainnya. Untung Ayahnya berkeras agar Dia tidak naik pohon lontar. Padahal Dia ngotot untuk membantu Ayahnya mengiris buah lontar.” cerita Mamanya.

Ina Bunga memang sangat mencintai kedua orang tuanya. Setelah selesai kuliah dan menunggu untuk mengikuti ujian kompetensi agar mengantongi STR (Surat Tanda Registrasi), Dia kembali ke kampung dan selalu ingin mengerjakan banyak hal agar meringankan beban kerja mereka.

“Kami hidup sangat sederhana. Bapak membawa kami sekeluarga ke sini saat saya masih bayi dan kami tidak memiliki apapun. Dengan segala kesederhanaan mereka, Bapak dan Mama mau agar saya dan adik lelaki bisa jadi sarjana. Sebenarnya ini hal yang berat, mimpi yang terlalu tinggi untuk mereka. Tetapi mereka berdua bekerja sangat keras untuk itu sehingga saya sudah selesai kuliah. Adik lelaki saya masih sementara kuliah saat ini sehingga Bapak dan Mama masih terus banting tulang untuk kami.” haru Ina Bunga.

Bagi Ina Bunga, Bapak dan Mamanya adalah sosok yang sangat istimewa, sempurna, dan hebat dalam pandangannya.

Saban hari, cerita Ina Bunga, Bapak dan Mamanya sudah mulai membanting tulang saat hari masih remang. Bapaknya, di usia hampir 60 tahun dan sering terlihat letih, sudah naik pohon lontar yang tingginya lebih dari 10 meter untuk mengiris buahnya sejak pagi hingga pukul 10. Air buah lontar (tuak) yang terkumpul dari belasan pohon lontar kemudian dimasak hingga mengental untuk dicetak menjadi gula merah (lempeng). Proses memasak tuak hingga dicetak menjadi gula merah itu berlangsung hingga sore hari. Begitu gula merah dari air buah lontar yang diambil pagi selesai dicetak, Bapak Bunga sudah kembali memanjat pohon lontar. Proses mengiris buah lontar berlangsung hingga hari sudah gelap. Tuak yang ditampung kemudian dipanaskan agar tidak asam dan menjadi cuka dan baru dimasak bersama tuak yang diambil esok paginya.

Bapak dan Mama Bunga sementara mencetak gula merah.

Mama Bunga juga tidak kalah sibuk. Selain membantu suaminya memasak dan mencetak gula merah, Ia juga membuat garam laut dengan cara tradisional untuk dijual. Dari hasil penjualan gula merah dan garam, Ina Bunga bisa membiayai kuliah dan biaya hidupnya di Kota Kupang. Adik lelakinya yang kuliah di Jurusan Perikanan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang juga membiayai kuliah dan ongkos hidupnya dari hasil penjualan gula merah dan garam yang dikerjakan kedua orang tua mereka.

Bapak Paulus Bunga sementara memasak air buah lontar (tuak) untuk dicetak menjadi gula merah.

Malam hari, ketika mama Bunga sibuk mengepak gula maupun garam yang akan dijual, bapak Bunga masih menyempatkan diri untuk mengerjakan sejumlah perabot seperti meja, kursi, lemari, dan tempat tidur untuk dijual. Saat penulis berkunjung, sejumlah meja, tempat tidur, dan lemari yang dipesan warga sementara dipajang di halaman rumah mereka. Hasil kerja bapak Bunga sangat halus dan rapi. Tidak kalah dengan hasil kerja usaha meubel profesional.

Bapak dan Mama Bunga memang pekerja keras. Keduanya ulet. Hidup mereka yang sederhana tidak mengurung impian mereka untuk menyekolahkan kedua anak mereka hingga menjadi sarjana. Kedua orang tua ini mengaku senang karena anak-anak mereka mengerti keadaan mereka sehingga tidak menuntut hal yang tidak bisa mereka penuhi.

“Ina Bunga sebagai kakak sangat memahami kondisi kami sehingga Dia tidak minta macam-macam yang memberatkan kami.” bangga Mama Bunga.

Mama Bunga bercerita, suatu kali suaminya sakit selama 2 bulan sehingga tidak bisa mengiris buah lontar. Ternyata, diam-diam Ina Bunga berusaha memanjat pohon lontar untuk menggantikan ayahnya megambil tuak. Meski kesulitan, Ina Bunga berhasil memanjat hingga mencapai bagian bebak. Saat hendak berpindah dari batang pohon ke bebak lontar, tumit kakinya menjatuhkan pengait penampung tuak yang diikat pada pinggangnya. Dia turun mengambil kembali pengait dan penampung tuak lalu kembali memanjat tetapi tumit kakinya kembali menjatuhkan barang tersebut. Ina Bunga memang tidak mengetahui teknik agar tumit kaki tidak menyentuh pengait saat berpindah dari batang pohon ke bebak lontar.

“Setelah beberapa kali mencoba, dan gagal, Dia akhirnya menyerah tetapi sangat sedih karena tidak bisa membantu bapaknya.” mata Mamanya berkaca ketika bercerita.

Bagi Ina Bunga, Bapaknya juga sekaligus menjadi sahabat dan guru yang hebat untuknya.

“Saya suka menulis puisi, tetapi malu untuk posting di media sosial atau blog. Bapak yang biasa saya ajak untuk mendengarkan saya membaca puisi yang saya buat.” cerita Ina Bunga sambil tertawa lepas.

Ina Bunga menambahkan, sang bapak juga yang membuatnya mencintai lautan. Bagi Ina Bunga, lautan adalah tempat yang tepat untuk dirinya meleburkan segala cerita yang tidak jelas. Tempat baginya meleburkan segala emosi negatif yang mengganggu hati. Karena itu, dengan sampan kecilnya, Ina Bunga sering sendirian mengarungi laut di belakang rumahnya untuk memancing atau menjala ikan. Kadang pagi ketika lautan menghampar begitu tenang seperti danau, kadang sore ketika semburat senja mewarnai horizon.

Awalnya, cerita Ina Bunga, dirinya sering menemani sang bapak ketika melaut. Dia yang ingin ikut dan sang bapak mengijinkan. Dimulai ketika usianya belum 12 tahun saat itu. Di Leomanu, laut memang menyediakan berkat bagi siapapun yang akrab dengannya. Di sana, para nelayan tradisional juga mengandalkan laut untuk menopang hidup mereka. Hasil panen ladang sangat sedikit akibat ketiadaan tanah sawah yang subur dan kurangnya air hujan. Lautan memberi cukup rezeki untuk melengkapi kebutuhan mereka.

Setiap tahun, masing-masing nelayan di Leomanu mendapat sekitar 5 hingga 10 juta rupiah dari hasil melaut. Ikan halus putih yang mahal harganya selalu mereka dapat. Pada waktu tertentu, laut Fatu Ike yang dekat dengan mereka selalu menyediakan ikan halus putih dalam jumlah banyak. Menyerok (sorok) adalah cara mereka menangkap ikan halus putih. Ikan yang didapat dengan cara menjala (pukat) dan memancing juga banyak.

Bapak Bunga sering melaut ditemani anak gadisnya dari saat masih belia hingga remaja. Dia baru beralih dan fokus mengurus belasan pohon lontar di dekat rumah mereka setelah Ina Bunga duduk di bangku SMA. Sebelumnya, belasan pohon lontar itu belum berbuah untuk diambil airnya (tuak) sehingga bapak Bunga memiliki banyak waktu untuk melaut setelah selesai mengiris buah lontar dari beberapa pohon lain di dalam kampung Poanbaun milik salah satu temannya. Hasil kebun dan gula merah yang sedikit dari beberapa pohon lontar saat itu tidak bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Hingga saat ini, jika ada waktu luang, bapak dan anak itu masih sering melaut bersama. Hasil melaut juga mereka jual untuk mendapat tambahan uang. Jika ayahnya sibuk, Ina Bunga sendirian melaut. Bapak Bunga tidak khawatir anaknya sendirian di dalam laut.

“Dia bisa sendiri. Sejak kecil, Dia selalu ingin melakukan hal baru yang menantang bagi dirinya. Mulai dari masuk laut, naik pohon lontar untuk iris tuak, dan hal-hal lainnya. Bagi saya, sepanjang tidak merugikan, biasanya saya dukung. Hanya untuk naik pohon lontar, saya tidak mau.” cerita bapak Bunga.

Bapak Bunga juga bercerita, saat masih duduk di bangku SD kelas 5, anak gadisnya yang sementara melaut bersamanya itu ngotot untuk dibiarkan sendirian berenang dari dalam laut menuju pantai padahal jarak ke pantai masih jauh saat itu.

“Akhirnya saya ijinkan Dia untuk berenang. Saya awasi dari atas sampan. Dia berenang sepanjang hampir 100 meter waktu itu.” cerita Bapak Bunga.

***

 

Ina Bunga memang istimewa. Terlibat dalam setiap kegiatan sosial di lingkungan mereka, juga mudah bergaul dengan siapapun. Orang tua yang jauh berbeda usia dengannya dikawani. Kanak-kanak yang kadang dianggap sebelah mata oleh orang dewasa diakrabi olehnya dengan santun dan penuh hormat. Mereka menyayangi Ina Bunga. Tak heran, dirinya dan keluarga mereka diterima dengan baik. Tidak ada lagi yang mempersoalkan keberadaan mereka.

Kepada penulis, Ina Bunga mengungkapkan pendapatnya bahwa banyak perempuan Amfoang yang menganggur di kampung karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang dapat mengakomodir tenaga dan kemampuan mereka. Akibatnya, kata Ina Bunga, banyak yang merantau untuk bekerja di luar daerah, sementara yang lainnya memilih bertahan dan akhirnya terjebak dalam ruang domestik keluarga yang umumnya patriarkal ketika menikah.

Bagi Ina Bunga, penganggaran dari dana desa yang besar di desa-desa di Amfoang saat ini  bisa diarahkan agar prospektif menciptakan lapangan kerja dan juga menyentuh kepentingan perempuan sehingga mereka juga mudah mengakses modal untuk berusaha.

“Dengan begitu, perempuan juga mendapat ruang yang maksimal dalam kegiatan pembangunan di desa-desa di Amfoang.” harap Ina Bunga.

Hingga hari menjelang sore, penulisi dan keluarga pekerja keras yang ulet dan ramah itu bercerita banyak hal. Penulis ikut melihat proses pembuatan gula merah yang dilakukan bapak dan mama Bunga.

Menjelang magrib, setelah menikmati makanan yang ditemani lauk ayam kampung yang dipanggang, Penulis mengajak Ina Bunga untuk melaut menggunakan sampan kecil miliknya. Ombak yang tidak terlalu deras menyambut kami, dan, seperti kata Ina Bunga, penulis kemudian ikut meleburkan segala rasa yang tidak jelas di dalam laut Leomanu saat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *