Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur menyambut kedatangan 56 mahasiswa peserta program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, Senin, 25 Mei 2026.
Penyambutan dilakukan oleh Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, di hadapan mahasiswa yang akan menjalankan program MBKM di Kecamatan Lewolema. Turut hadir Wakil Dekan II FISIP UNWIRA, Urbanus Ola Hurek.
Sebanyak 56 mahasiswa tersebut ditempatkan di tujuh desa, yakni Desa Bantala, Painapang, Riangkotek, Sinar Hading, Balukhering, Ile Padung, dan Lewobelen. Selama masa pengabdian, mereka akan melaksanakan berbagai program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, pendidikan, serta kegiatan sosial yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa.
Dalam sambutannya, Ignasius Boli Uran mengatakan pemerintah daerah menyambut baik keterlibatan mahasiswa dalam program pembangunan masyarakat di tingkat desa.
Menurut dia, kehadiran mahasiswa dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan desa melalui pendekatan pendidikan dan pemberdayaan.
“Kami berharap mahasiswa dapat membangun relasi yang baik dengan masyarakat dan memberikan kontribusi positif selama menjalankan program di desa,” kata Ignasius.
Sementara itu, Urbanus Ola Hurek menilai program MBKM memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar secara langsung dari realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Ia mengatakan pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan karena mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kuliah, tetapi juga memahami dinamika kehidupan masyarakat secara langsung.
“Mahasiswa diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, kerja sama, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Program MBKM di Flores Timur merupakan bagian dari kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung pembelajaran berbasis pengalaman lapangan. Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat sekaligus memperoleh pengalaman praktis yang menunjang proses pendidikan mereka.
(Hans Sahagun)

