SMAN 1 Pantai Baru Tingkatkan Kualitas Literasi, Karya Tulis Jadi Syarat Lulus Sekolah

Di bawah kepemimpinan Mikhael Kega, S.Pd., sejak tahun 2022, SMA Negeri 1 Pantai Baru di Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, NTT telah mewajibkan setiap siswa kelas XII untuk menulis dan mempresentasikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) sebagai salah satu syarat kelulusan.

Tak sekedar untuk formalitas, kebijakan mewajibkan siswa menulis dan mempresentasikan KTI itu digagas sebagai bagian dari strategi untuk memperbaiki derajat literasi siswa yang sempat berada di zona merah.

“Dari tahun 2022, kita jadikan KTI sebagai bagian dari proses belajar yang berkelanjutan. Ini bukan sekadar tugas akhir, tapi proses panjang sejak mereka duduk di kelas X,” jelas Muhamad Ikhsan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, kepada NTTPos.com pada Selasa (17/06/2025) siang.

Muhamad Ikhsan.

Ikhsan menjelaskan, sejak duduk di bangku kelas X, siswa mulai diarahkan untuk menyusun judul penelitian. Lalu di kelas XI, mereka membuat proposal dengan bimbingan dua guru yang ditentukan berdasarkan bidang ilmu yang relevan. Misalnya, jika judul penelitian berkaitan dengan lingkungan hidup, maka guru biologi yang akan mendampingi. Jika tema mengarah ke ekonomi, maka guru ekonomi akan bertugas menjadi pembimbing.

“Saat kelas XII baru siswa melaksanakan penelitian sederhana, lalu menulis dan mempresentasikannya. Kami mengujinya seperti ujian skripsi, kepala sekolah jadi penguji utama, guru lain sebagai penguji kedua,” terang Ikhsan.

Ikhsan mengungkapkan, bagi sebagian besar siswa, awalnya proses penulisan dan presentasi KTI dianggap sebagai sebuah beban karena aktivitas berliterasi belum mereka akrabi, tetapi pihak sekolah mencoba menggunakan sejumlah pendekatan agar siswa memiliki minat dan motivasi.

Guru pembimbing, ungkap Ikhsan, tidak hanya mengarahkan tetapi juga memotivasi melalui pendampingan yang hampir semuanya dilakukan setelah jam pelajaran, agar tidak mengganggu waktu belajar inti dan tidak membebani siswa di rumah.

“Awalnya banyak yang merasa terbebani. Tapi kami terus dorong agar topik KTI sesuai minat siswa. Ketika tema penelitian menyentuh hal yang mereka sukai, prosesnya jadi lebih menyenangkan,” ungkap Ikhsan.

Ikhsan menjelaskan, saat ujian KTI di kelas XII, mereka upayakan suasananya berlangsung menyenangkan melalui presentasi yang dibuat seperti forum ilmiah santai yang merayakan hasil kerja siswa.

“Untuk memotivasi siswa, kami juga berikan penghargaan bagi presenter terbaik 1 hingga 10,” jelas Ikhsan.

Salah satu siswa kelas XII sementara mempresentasikan KTI di hadapan para penguji.

Sebelumnya, sesuai penjelasan Kepala SMA Negeri 1 Pantai Baru, Mikhael Kega kepada media ini beberapa waktu lalu, meski proses penulisan dan presentasi KTI sebagai syarat kelulusan bagi siswa itu relatif tidak mudah dan penuh tantangan, semangat kolaboratif antara rekan-rekan gurunya bersama para siswa telah menciptakan ekosistem belajar yang tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kemandirian intelektual siswa.

Mikhael menegaskan, kegiatan pendampingan dan pembimbingan siswa dalam penulisan dan presentasi KTI kini tidak dianggap sebagai beban tambahan oleh para rekan gurunya, tetapi  sebagai upaya dan tanggung jawab untuk membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi para siswa.

Mikhael dan rekan-rekan gurunya kini optimis, SMA Negeri 1 Pantai Baru telah membangun budaya literasi yang hidup baik di dalam kelas maupun di luar ruang belajar. Sebab, tak hanya melalui penulisan dan presentasi KTI yang prosesnya berlangsung sejak siswa masih duduk di kelas X, program membaca dan menulis sesuai agenda Gerakan NTT Membaca dan NTT Menulis (Genta Belis) juga telah rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu.

Dan, hasil memang biasanya tak ingin mengkhianati setiap proses yang dibangun sepenuh hati. Saat ini, indikator literasi sekolah yang semula memprihatinkan, telah membaik secara signifikan. Bergerak dari posisi merah, derajat literasi sekolah ada di zona kuning pada tahun 2023, dan kemudian menjadi hijau sesuai hasil asesmen yang dilaksanakan terakhir pada 2024.

Yang lebih penting, agenda literasi sekolah melalui integrasi pembelajaran dengan penulisan dan presentasi KTI juga ikut membentuk kedekatan baru antara guru dan siswa, sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan penuh semangat untuk tumbuh bersama.

Giatkan Literasi Setiap Sabtu

SMA Negeri 1 Pantai Baru sudah mulai rutin melaksanakan kegiatan literasi setiap hari Sabtu. Diberi nama program LISA (Literasi Satu Jam), para siswa diarahkan untuk membaca selama 30 menit, lalu menggunakan sisa waktu 30 menit untuk menuliskan interpretasi mereka terhadap isi/materi bacaan.

Kegiatan ini telah berjalan selama beberapa bulan terakhir sebagai bentuk dukungan terhadap program Genta Belis (Gerakan NTT Membaca dan NTT Menulis) yang diinisiasi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo.

Kegiatan LISA (Literasi Satu Jam) setiap Sabtu.

Mikhael pada Kamis (12/06/2025) mengungkapkan bahwa sebenarnya kegiatan literasi telah dilakukan sejak lama, namun belum berjalan secara konsisten.

“Sejak program Genta Belis digalakkan, kami berusaha memaksimalkan gerakan literasi yang sudah ada agar menjadi kegiatan rutin. Kini, setiap Sabtu, seluruh siswa mengikuti kegiatan membaca dan menulis sebagai bagian dari pembentukan budaya literasi di sekolah,” jelas Mikhael.

Mikhael Kega, S.Pd.

Meski demikian, Mikhael mengakui bahwa tantangan terbesar dalam mengembangkan budaya literasi adalah kebiasaan dan minat baca-tulis siswa yang masih rendah.

“Kita masih berhadapan dengan kenyataan bahwa minat baca siswa belum seperti yang kita harapkan,” ujar Mikhael.

Namun begitu, Mikhael tetap optimis. Menurutnya, perlahan mulai terlihat hasil positif dari kegiatan literasi setiap Sabtu karena sudah ada sekira 20 persen siswa yang menunjukkan perkembangan yang baik dalam kemampuan literasi mereka.

Mikhael menjelaskan, sudah banyak siswa mulai lebih aktif dalam menulis dan membaca dengan pemahaman yang lebih baik, dan perkembangan tersebut juga terlihat dari cara mereka menjelaskan apa yang telah mereka baca, hingga kemampuan mereka dalam membuat kesimpulan.

Karena itu Mikhael menegaskan, dirinya bersama rekan-rekan gurunya di SMA Negeri 1 Pantai Baru berusaha untuk terus meningkatkan kualitas literasi siswa demi menciptakan generasi muda yang cerdas dan berdaya saing.

Punya Bus Sekolah, Siapkan Program Laboratorium Kehidupan

SMAN 1 Pantai Baru memiliki rencana untuk memaksimalkan aktivitas pembelajaran kontekstual setelah menerima bantuan 1 unit bus sekolah dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia pada Maret 2025 lalu. Kini, SMAN 1 Pantai Baru tengah menyiapkan program Laboratorium Kehidupan sebagai program yang mengintegrasikan aktivitas pembelajaran di sekolah dengan aksi study tour untuk mempelajari berbagai hal dalam keseharian masyarakat sekitar sekolah.

Mikhael pada Kamis (12/06/2025) menyampaikan, mulai tahun pembelajaran 2025/2026 yang dimulai Juli mendatang, bus sekolah tidak hanya digunakan sebagai sarana antar-jemput siswa, tetapi juga sebagai fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran luar kelas.

“Bus ini akan kami manfaatkan untuk mendukung pelaksanaan program Laboratorium Kehidupan, program pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran di sekolah dengan realitas kehidupan masyarakat sekitar sekolah,” jelas Mikhael.

Bus sekolah yang diterima pihak SMAN 1 Pantai Baru dari Kementerian Perhubungan RI.

Menurut Mikhael, program Laboratorium Kehidupan bertujuan menjadikan lingkungan sosial dan alam sekitar sebagai sumber belajar sehingga para siswa tidak hanya belajar dari buku atau sumber lain di dalam lingkungan sekolah, tetapi juga langsung dari pengalaman nyata di lapangan.

Sebagai contoh, Mikhael menyebutkan bahwa siswa dapat diajak studi tour ke pasar tradisional untuk mempelajari dinamika aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat, atau mereka bisa mengunjungi tempat budidaya lobster untuk memahami ekosistem laut dan cara budidaya biota laut secara langsung, maupun kegiatan lain yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran kontekstual.

Mikhael menegaskan, dirinya bersama rekan-rekan gurunya di SMAN 1 Pantai Baru memiliki semangat untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual sehingga apa yang dekat dengan kehidupan dan juga bisa menjadi bagian dari prospek kerja para siswa ke depan nanti, juga harus menjadi bagian dari proses belajar. Sehingga, jelas Mikhael, dengan bus sekolah yang sudah ada, mereka bisa membawa para siswa keluar kelas untuk melihat dan belajar situasi lapangan secara langsung.

 

(Simon Seffi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *