Tiga sekolah penerima BOS Kinerja terbaik di Kabupaten Kupang tahun 2026 mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Tata Kelola melalui Standar Penjaminan Mutu Internal (SPMI) bagi Gugus Belajar Penerima BOS Kinerja Terbaik Tahun 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 31 Agustus 2026, bertempat di Aula Pelangi Garden. Bimtek ini diikuti tiga sekolah penerima BOS Kinerja terbaik Kabupaten Kupang, yakni SMA Negeri 2 Taebenu, SMA Pandhega Jaya, dan SMA Negeri 2 Kupang Timur.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Kupang, Koordinator Pengawas SMA Kabupaten Kupang, Pengawas Pembina, Fasilitator Daerah, kepala sekolah serta para guru dari tiga sekolah penerima BOS Kinerja terbaik tahun 2026.
SMA Negeri 2 Taebenu dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Kepala SMA Negeri 2 Taebenu, Konstantinus Nu Nay, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya untuk menjadi tuan rumah kegiatan.
Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMA Negeri 2 Taebenu karena dapat memfasilitasi pertemuan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan dari tiga sekolah penerima BOS Kinerja terbaik.

“Kehadiran penerima BOS terbaik merupakan momentum emas. Kita tidak sedang bersaing satu sama lain, melainkan bergandengan tangan untuk membuktikan bahwa sekolah di Kabupaten Kupang sanggup mengimplementasikan tata kelola berbasis SPMI secara unggul dan akuntabel,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan ruang belajar melalui kegiatan Bimtek tersebut secara optimal. Menurutnya, pertemuan tersebut bukan hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat tata kelola dan penjaminan mutu di masing-masing sekolah.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Kupang Provinsi NTT, Anna M. Ivona Beo Killa, S.IP., saat membuka kegiatan mengatakan bahwa pencapaian sebagai tiga sekolah terbaik bukanlah sesuatu yang diperoleh secara instan, tetapi melalui proses yang panjang.
“Menjadi tiga terbaik itu prosesnya sangat panjang,” katanya.
Ia menekankan pentingnya penggunaan data dalam setiap proses perencanaan sekolah. Menurutnya, data menjadi dasar untuk mengetahui berbagai persoalan maupun kekurangan yang masih terdapat di sekolah sebelum kemudian disusun perencanaan untuk menjawab persoalan tersebut.
“Sebelum perencanaan harus punya data. Karena dari situ kita bisa melihat masalah atau kekurangan. Setelah itu baru kita susun perencanaan berdasarkan data yang ada,” jelasnya.
Anna juga menegaskan pentingnya penerapan sistem penjaminan mutu internal di setiap sekolah. Melalui SPMI, sekolah diharapkan mampu mengetahui secara lebih jelas kelemahan yang masih dimiliki sehingga pelatihan maupun program yang dilakukan benar-benar diarahkan untuk menjawab persoalan yang ada.
Ia menjelaskan, hasil evaluasi dan pengalaman pada tahun sebelumnya harus menjadi bahan perbaikan dalam menyusun sistem penjaminan mutu untuk tahun berikutnya.
“Pelatihan yang mereka dapatkan harus menjawab masalah yang ada. Sehingga ketika mereka menyusun sistem penjaminan mutu untuk tahun berikutnya, bisa memperbaiki kesalahan yang terjadi pada tahun sebelumnya,” katanya.
Menurut Anna, tanggung jawab utama dalam menjamin mutu pendidikan berada di sekolah. Karena itu, penerapan SPMI tidak hanya dipandang sebagai kegiatan administratif, tetapi harus menjadi bagian dari proses perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan Bimtek tersebut, tiga sekolah penerima BOS Kinerja terbaik diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, memperkuat tata kelola, serta membangun budaya mutu yang mampu diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah masing-masing.
Hans Sahagun

