Ayah tangguh adalah sosok yang memiliki semangat luar biasa menjaga, melindungi kehidupan keluarga, khususnya merancang dan membangun masa depan anak-anak tercinta. Bahkan ia selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit dan kecewa, mana kala ada kegagalan, apalagi mengeluh di hadapan anak-anak. Ia akan selalu terlihat tegar dan semangat walau sesungguhnya menyimpan banyak persoalan. Itu sedikit gambaran sosok seorang ayah sejati.
Tersentuh kisah dan jejak hidup seorang ayah tangguh, saya tergoda menulis kisah seorang ayah yang saya jumpai di sebuah tempat miliknya yang diberi nama KAFE 639.
Kafe yang sedang dalam proses penataan, terletak di sisi kanan jalan raya Kupang Bolok, tepatnya antara Pelabuhan Pertamina dan “Pelabuhan Ikan” di Tenau Kota Kupang. Ia berdiri di atas ketinggian sekira 30an meter dari tepian laut yang berkarang di teluk Kupang.
Di bawah atap dan ruang berukuran lebih kurang 12 m x 10 m, saya sempat memotret dan mengulik kisah perjuangan hidup seorang ayah dan mantan direktur di anak Perusahaan PT. Semen Kupang.
Dia adalah Ir. Karolus Hadjon. Pria tangguh 63 tahun, biasa dipanggil pak Karel adalah mantan karyawan PT. Semen Kupang yang pernah menduduki beberapa posisi penting dalam manajemen pabrik semen yang pernah menjadi ikon kebanggaan masyarakat NTT sejak tahun 1980an hingga 2000an. Kini, pabrik itu tinggal cerobong raksasa yang dikelilingi gedung-gedung bisu yang tidak lagi mengepul asap, mencoret birunya cakrawala di atas koota Kupang dan sekitarnya. Pabrik itu bukan mati suri, tapi tak bernyawa, membawa duka ratusan bahkan mungkin seribuan orang yang harus dirumahkan dan kehilangan pekerjaan. Salah satunya pak Karel yang saya jumpai kali ini.
Karel lahir di Makasar Sulawesi Selatan 63 tahun silam dari seorang ayah bermarga Hadjon dari Larantuka Flores Timur dan ibu dari etnis Toraja. Ayahnya merantau di Makasar dan berkuliah hingga menjadi sarjana dan diangkat menjadi PNS pada Departemen Sosial Provinsi Sulawesi Selatan. Karel adalah anak sulung dari enam bersaudara. Ketika pemerintah membentuk Departemen Parpostel, ayahnya meminta lolos butuh mutasi dari department sosial ke Departemen Parapostel di Kupang NTT, mengingat waktu itu dibutuhkan tenaga dari putra daerah. permohonannya dikabulkan, maka mereka harus pindah ke Kupang. Di departemen Parapostel NTT. Di Parpostel NTT, ayahnya mendapat posisi sebagai kepala Tata Usaha atau KTU. Sedangkan Karel harus tetap di Makasar karena sedang berkuliah di Universitas Veteran Makasar jurusan Teknik Pertambangan.
Seiring berjalannya waktu, tahun 1988, Karel memilih PT. Semen Kupang sebagai obyek penelitiannya untuk menyelesaikan studinya. Kesempatan ini membuka peluang baginya diterima menjadi Karyawan Semen Kupang di kemuadian hari, setelah mendapat gelar Insinur Pertambangan pada tahun 1992. Bagi Karel, bekerja di Semen Kupang, sekaligus memenuhi harapan ayahnya agar putra sulungnya itu suatu waktu bisa kembali mengabdi di tanah leluhurnya Flobamor (NTT).
“Menjelang pension, bapak saya bilang, kamu (Karel) selesai studi nanti harus kembali mengabdi di tanah leluhur, tanah asal orang tua (NTT).” kenang Karel.
Menjadi Karyawan Pabrik Semen Kupang adalah sebuah kebanggaan, apalagi dapat memenuhi harapan ayah tercinta. Yang membanggakan lagi, Karel adalah satu-satunya sarjana pertambangan, selain seorang seniornya bernama pak Sardi yang menduduki posisi kepala bagian pertambangan (anak perusahan) khusus pertambangan tanah liat dan batu kapur. Kala itu Karel dipercayakan sebagai wakilnya. Namun tak berselang lama, pak Sardi pindah ke pemda provinsi NTT tepatnya di Bapeda. Posisi lowong ini langsung ditempati Ir. Karolus Hadjon. Kariernya di Perusahaan ini terus merangkak naik. 10 tahun kemudian (2002) ia diangkat menjadi salah satu direktur anak Perusahaan sebagai direktur operasi penambangan PT. Semen Kupang.
Menghadapi Prahara Hidup
Kejayaan Pabrik Semen Kupang ternyata tidak sekokoh semen itu sendiri. Pada tahun 2006, pabrik kebanggaan dan ikon industry di NTT bangkrut. Gaji pegawai/karyawan tidak mampu dibayar.
“Tahun 2006 semen kupang kolaps. Saya sudah punya anak lima orang; Arnold Luis Hadjon, George Hadjon, putri kembar Yulia Herda Hadjon dan Yulita Silvia Hadjon, serta si bungsu Johan Heuibert Hadjon. Mereka masih kecil. Sedikit terhibur, sebelumnya saya sudah pegang beberapa perusahaan lokal sebagai kepala tambang. Ada teman-teman yang dulu saya pernah bantu panggil saya. Salah satunya, saya diminta mengajar juga di STIKOM(Uyelindo) Kupang. Ada juruan pertambangan di situ, dan saya direkomendasikan oleh Dinas Pertambangan untuk bantu di sana. Sayangnya, saya bertahan hanya 6 bulan, padahal saya sampai mencari materi kuliah hingga ke Bandung. Persoalannya adalah saya sudah terbiasa di lapangan (pabrik semen) harus beralih ke ruang kelas, ruang kuliah, sungguh beda.” ujarnya sambil tertawa lepas.
Kondisi seperti itu mendorongnya harus mencari lowongan pekerjaan lain demi menafkahi kehidupan keluarga. Ketika meninggalkan Stikom sebagai staf pengajar, tidak membuatnya patah arang. Waktu itu ada perusahaan yang mempromosikan produk makanan suplemen berbahan dasar rumput laut. Nama produk itu JENORY. Ia mengambil kesempatan itu sebagai distributor produk. Kantor pusatnya di Jakarta. Kala itu belum ada HP android. Untuk promosikan Jonory pada konsumen, jalan satu-satunya adalah menyampaikan testimoni lewat ruang iklan Pos Kupang.
“Dari Jakarta minta saya buat testimoni. Dulu koran Pos Kupang masih bisa dan saya manfaatkan ruang iklan 8 kolom. Banyak orang membaca testimoni dan tersugesti untuk memiliki.” Karel mengenang betapa larisnya produk Jonory waktu itu.
Diakuinya, produk suplemen Jonory sungguh membooming selama 5 bulan dan berhasil meraup pemasukan mencapai 5 M.
“Karena boomingnya Jonory, saya sampai dipanggil untuk live di TVRI Kupang, bahkan TV Bali untuk memberikan testimoni tentang Jonory.” ceritanya dengan bangga mengenang capaian prestasi bisnis Jonory yang ia tangani.
Ternyata, menjalankan bisnis tidak selamanya berjalan mulus. Usaha meraup keuntungan dari bisnis Jonory hanya bertahan lima bulan. Tepatnya tahun 2010 ayah dari ke lima anak ini kembali down. Ia merasa terpuruk seakan kembali ke titik nol. Di titik ini, Tuhan tidak membiarkan anaknya terabaikan. Oleh kemurahanNya, suami dari Cherly James ini dipanggil kembali oleh Perusahaan Pertambangan Batu Mangan di Soe TTS.
Bekerja di Perusahaan Batu Mangan berjalan sekitar satu tahun, sambil mengurus nasib para karyawan PT. Semen Kupang yang di rumahkan atau PHK.
“Waktu itu saya diangkat sebagai ketua Serikat Pekerja Semen Kupang. Dengan kepercayaan yang diberikan, saya memiliki kewajiban moral dan tanggung jawab mengurus hak-hak karyawan di pengadilan P4P (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuan Pusat).” kenangnya.
Perjuangannya membuahkan hasil, walau memakan waktu selama tiga tahun. “Walau perjuangan kami memakan waktu dan biaya, namun akhirnya kami mendapat apa yang menjadi hak kami.” ujarnya dengan nada Syukur.

Berhenti dari pabrik Semen Kupang, walau mendapat pesangon yang diperjuangkan selama tiga tahun, namun ia tidak mendapatkan pensiun. Untuk itu ia harus terus berjuang bagaimana membiayai hidup keluarga, membiayai pendidikan anak-anak yang sudah ada mulai memasuki usia kuliah dengan tidak hanya mengandalkan uang pesangon.
“Saya kadang menangis juga. Anak-anak masih kecil dan belum mandiri. Namun di balik kesulitan itu, ada rasa syukur terpatri dalam hati. Selama bekerja di perusahaan, saya sudah investasi beberapa bidang tanah, salah satunya di lahan Kafe ini pada tahun 1994 seluas 5000 meter persegi. Memang dalam rencana, saya cari tanah di daerah pantai. Tanah ini saya beli waktu itu harganya 4 juta. Dulu masih setengah mati, makanya dicicil. Setiap bulan saya bayar 1,7 juta. Dalam tempo tiga bulan saya selesaikan.” kenang pria yang penampilannya selalu enerjik ini.
Selain memiliki lahan yang menjadi tempat usaha kafe, ia juga menginvestasi tanah di beberapa lokasi seperi di depan pabrik semen kupang seluas 33 ribu meter persegi, tanah berlokasi di jalur 40 seluas 4 hektar. Masih ada lagi lahan yang dimiliki berlokasi di belakang perumahan kota, dekat Alak seluas satu hektar. Khusus lahan terakhir ini, ia telah mengkapling menjadi dua bagian besar, masing-masing bagian terbagi atas 17 kapling berukuran 10 m x 25 m, dengan harga yang bervariasi seusai berjalannya waktu. Awalnya sekitar tahun 2012, dilepas dengan harga 2,5 juta per kapling. Beberapa tahun kemudian melonjak harganya menjadi 25 juta per kapling. Dan kini sudah menyentuh 50 juta per kapling. Seperti kata pepatah” Untung tak dpat diraih, malang tak dapat ditolak”, lahan yang telah dikapling ini ludes terjual, walau dengan cara dicicil. Tapi sertifikatnya telah tersedia dan siap diserahkan ketika transaksi pembelian lunas dibayar.
Tahun 2020, ayah lima anak ini ingin membuka usaha buat putra sulungnya yakni ternak babi berlokasi di depan bekas Pabrik Semen Kupang dan membuka Kafe di tempat di mana kami duduk ngobrol. Sayangnya, apa yang ditawarkan bukanlah bidang yang diminati putra sulungnya. Kini si anak Sulung yang diberi nama Arnol Luis Hadjon telah memilih jalannya sendiri yakni bekerja di Makasar sebagai karyawan swasta.
Kembali menyinggung tentang usaha Kafe 639 yang sedang ia rintis saat ini, bukan hanya sekedar dijadikan tempat usaha dari aspek bisnis, melainkan sebagai media yang dapat ia manfaatkan untuk menenangkan jiwa dalam menjalani hari tuanya.

Ada kelegaan ketika anak-anaknya kini sudah ada yang bisa hidup mandiri. Putri kembarnya, satu menjadi PNS pada Dinas Kesehatan di Manado dan kembarannya bekerja di Perusahaan Kimia di Karawang Jawa Barat. Si sulung karyawan swata di Makasar, dan putra nomor dua wiraswata, sedangkan si bungsu sedang berkuliah di Unwira Kupang.
Kini pak Karel tengah menata Kafenya secara bertahap, sesuai ketersediaan anggaran yang dimiliki. Ada prospek yang sedang ia garap yakni sebuah Kafe yang menyediakan menu sesuai selera masyarakat lokal seperti ikan bakar, sop ubi, minuman kopi murni asal Toraja jenis arabicca dan robusta. Saat ini pengunjung bisa menikmati kopi jenis ini dengan harga terjangkau Rp. 10.000 per gelas ukuran sedang, jika ditambah susu harganya Rp. 15.000 per gelas. Tersedia juga kripik singkong rsa manis, asin, serta minuman ringan lainnya. Waktu buka Kafe, pagi antara pukul 06.00 – 11.00 dan pkl. 16.00 – pkl. 22.00 Wita.
Pembaca tentu ingin tahu, mengapa kafe ini diberi nama Kafe 639. Terungkap, tiga angka ini diambil dari tahun lahirnya 1963 dan tahun kelahiran sang istri tercinta 1969. Diambil dua angka terakhir tahun lahir untuk disatukan sebagai angka yang tak terpisahkan. Simbol keutuhan sebagai suami-istri. “Angka ini saya ambil dari angka keberuntungan menurut budaya Cina.” jelasnya.
Obrolan kami berakhir. Hari sudah menjelang siang. Angin laut menghembus perlahan, membawa kesejukan di bukit Kafe 639. Saya segera menghabiskan segelas air seduh campuran kayu manis dan jahe ditemani kripik singkong manis. Ini sudah cukup menghangatkan tubuh. Saya pamit dan tinggalkan janji untuk kembali lagi menikmati indahnya kemilau lautan biru teluk Kupang dari atas bukit Kafe 639. Sampai jumpa!!
Batakte, 14 Mei 2026.

