Dugaan keterlambatan penanganan pasien di Puskesmas Eahun yang berujung pada kematian ibu hamil (bumil) Sulfryana Bulan pada Rabu (27/08/2025) pagi kini menjadi sorotan berbagai pihak terkait di Kabupaten Rote Ndao.
Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Rote Ndao, Meksy Mooy menanggapinya dengan mengakui akan secepatnya menjadwalkan pemanggilan terhadap manajemen puskesmas Eahun setelah usai dari tugas di luar daerah.
“Saya posisi di Kupang, nanti kita pulang kita coba koordinasi kembali dengan Puskesmas supaya lain kali jangan seperti itu. Kasihan nyawa jadi taruhan itu. Nanti kami pulang baru kami panggil.” ujar Meksy Mooy kepada media NTT Pos pada Rabu (27/8/2025) sore.
Meksy Mooy juga menyampaikan, pihaknya belum menerima laporan resmi dan lengkap terkait kronologi kejadian, namun dirinya menegaskan bahwa lembaga DPRD Kabupaten Rote Ndao melalui komisi yang dipimpinnya memiliki komitmen untuk menjalankan fungsi pengawasan secara menyeluruh.
“Ini kan kita belum tahu duduk persoalannya seperti apa sehingga mereka lambat penanganan untuk rujuk ke Ba’a, tapi kalau memang ini semata-mata keterlambatan dari puskesmas atau tenaga kesehatan yang di puskesmas untuk berkomunikasi ke rumah sakit umum, ini bagi saya secara pribadi dan lembaga sebagai komisi 2 kami sesalkan itu.” tegas Meksy.
Meksy juga mengakui bahwa isu soal pelayanan medis baik di puskesmas maupun rumah sakit umum bukan hal baru di masyarakat sebab keluhan serupa pernah muncul sebelumnya, sehingga peristiwa kali ini menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
“Karena kita sudah bicara ulang-ulang terkait dengan persoalan ini, dan memang untuk pelayanan kesehatan di puskesmas maupun rumah sakit umum ada SOP-nya. Tapi apapun itu, penegasan dari Bupati Rote Ndao terkait dengan masalah administrasi atau kendala teknis atau komunikasi lain-lain sebagainya itu kan penyelamatan, nyawa pasien itu paling utama.” tegas politisi muda dari fraksi Golkar ini.
Sebelumnya, seperti diberitakan media ini, ibu hamil (bumil) bernama Sulfryana Bulan asal Desa Faifua, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, NTT dikabarkan meninggal dunia dalam perjalanan saat dirujuk dari UPTD Puskesmas Eahun ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ba’a pada Rabu (27/08/2025) pagi.
Suami Sulfryana, Ferdy Asa menduga kuat istrinya meninggal akibat lambannya penanganan pihak UPTD Puskesmas Eahun karena alasan kesiapan administrasi serta tak tersedianya tempat tidur Pasien.
Ferdy kepada media NTT Pos menyampaikan, dirinya bersama istri serta keluarga mendatangi Puskesmas Eahun pada Rabu (27/8/2025), sekira pukul 03 dini hari, namun baru sekira pukul 10 istrinya yang dalam kondisi gawat darurat dirujuk ke RSUD Ba’a.
“Kita sampai puskesmas Eahun hampir jam 4 hampir siang, sekitar jam 5 pagi istri saya mengeluh karena kondisinya sudah lemah, jadi saya bilang ke bidan kalau bisa bikin rujukan saja biar rujuk ke Ba’a tapi bidan bilang tunggu karena masih konsultasi ke Ba’a.” ungkap Ferdy.
Ferdy juga menyesalkan sikap pihak Puskesmas Eahun yang terkesan lamban menangani istrinya yang sudah dalam kondisi lemah dan tak berdaya.
Menurut Ferdy, seharusnya penanganan pasien dengan kondisi gawat darurat menjadi prioritas utama, namun keterlambatan proses rujukan serta miskomunikasi membuat istrinya harus meregang nyawa.
“Jam 9 saya punya istri mulai keluarkan busa dari mulut serta kondisi semakin lemah, saya tanya lagi ke bidan namun jawaban bidan tunggu hasil konfirmasi dari Ba’a karena tempat tidur di rumah sakit umum tidak ada hingga hampir jam 11 siang baru istri saya dirujuk ke Ba’a.” cerita Ferdy.
Ferdy melanjutkan, saat dalam perjalanan ke RSUD Ba’a itu istrinya sudah tidak lagi bernapas sehingga dinyatakan sudah meninggal oleh petugas saat mereka tiba.
“Saat tiba saya lansung tanya ke petugas soal alasan pihak Puskesmas Eahun terkait tempat tidur, petugas menyampaikan kalau keterlambatan informasi dari pihak puskesmas Eahun.” tambah Ferdy.
Fersy berharap Bupati Rote Ndao dan Anggota DPRD kabupaten Rote Ndao dapat mengambil tindakan keras terhadap pihak puskesmas Eahun karena kinerja pelayanan yang diduga tidak memenuhi standar operasional pelayanan sehingga tidak siap siaga dalam menangani pasien gawat darurat.
Terpisah, Kepala UPTD Puskesmas Eahun, Oktofina P. Polin, S.Si,. T.M.KM., membantah tudingan Ferdy saat dikonfirmasi mengenai ketersediaan tempat tidur dan lambannya rujukan terhadap pasien.
Oktofina menegaskan, tidak ada petugas di UPTD Puskesmas Eahun yang memberi informasi seperti yang disampaikan Ferdy.
“Pasien tiba di Puskesmas jam 06:16, karena masih persiapan untuk rujuk to Kak dan kalau terkait tempat tidur, tidak ada petugas yang beri informasi seperti itu.” bantah Oktofina.
(Mekris Ruy)








