Darius Beda Daton, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama satu dekade sejak tahun 2015 hingga 2025 menyampaikan pamit kepada para guru SMA/SMK yang bergabung dalam grup WhatsApp Forum Guru SMA/SMK pada Senin (8/12/2025) malam.
Darius Beda Daton memang telah resmi memasuki masa purna tugas per Senin (1/12/2025) lalu, sesuai Surat Perintah Nomor 1358/KP.07.01/XI/2025 tentang Penunjukan Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan, yang sekaligus menandai berakhirnya masa kepemimpinan Darius setelah satu dekade menjabat sejak 2015.
Dalam penyampainnya dengan judul “MOHON MAAF DAN TERIMA KASIH BANYAK PARA GURU”, Darius menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada para guru atas kerja sama, kolaborasi, koordinasi, konsultasi dan diskusi bersama terkait layanan pendidikan di NTT selama ini.
Darius menyampaikan dirinya telah mendapat banyak ilmu dan pengetahuan tentang pengalaman para guru mengelola sekolah dengan segala plus minusnya. Darius juga menyampaikan, dirinya menyadari bahwa kolaborasi bersama para guru dalam upaya memajukan pendidikan di NTT selama ini terkadang berjalan dalam dinamika yang lembut dan terkadang keras, mulai dari kepentingan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), iuran komite, pemulangan peserta didik, penahanan ijazah, hingga pungutan pendidikan lainnya di sekolah yang saat ini telah berhasil mendorong hingga terbitnya Peraturan Gubernur NTT Nomor 53 Tahun 2025 tentang Pendanaan untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB.
“Saya percaya, semua yg kita lakukan adalah semata-mata rasa cinta kita pada dunia pendidikan; layanan dasar yang menjadi kewajiban negara untuk menyediakan dan hak warga negara untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak,” ungkap Darius.
Darius juga menyampaikan, dirinya memohon maaf apabila dalam proses pengawasan pelayanan pendidikan di sekolah telah menimbulkan luka hati oleh karena kata dan perbuatan atau hasil pengawasan pihaknya menimbulkan sanksi atau hal lain yang menyakitkan bapak/ibu guru.
“Sekali lagi saya atas nama pribadi dan keluarga menyampaikan permohonan maaf. Semoga bapak/ibu guru selalu semangat memajukan pendidikan di NTT.”
Layak Jadi The Next Gubernur NTT
Saya secara pribadi hanya sekali bertemu dengan Darius Beda Daton pada sekira tahun 2012. Saat itu Darius Beda Daton ikut memberi atensi pada kasus illegal logging yang mendakwa empat warga di Desa Silu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Saat itu saya bersama sejumlah teman mahasiswa terlibat mengadvokasi masalah yang menjerat empat warga Silu, yang didakwa melakukan pembalakan di lokasi yang tidak hanya kabur batas fisiknya, tetapi juga terkesan kabur proses penetapan dan penataan kawasan hutan dan batas-batasnya. Darius pernah sekali turun meninjau lokasi penebangan sejumlah pohon jati tersebut, dan saat itu saya juga ada di sana.
Setelah itu, kami baru mulai sering berkomunikasi melalui pesan WhatsApp beberapa tahun terakhir ini. Terakhir, beberapa bulan lalu, saya minta bantuan Darius Beda Daton untuk mengambil ijazah alumni salah satu SMK di Kota Kupang. Ijazah anak tersebut sudah tertahan lebih dua tahun, dan dirinya telah melewatkan beberapa kali seleksi penerimaan anggota TNI/Polri. Tunggakannya yang lebih Rp2 juta membuat pihak sekolah tidak mau memberi bahkan untuk salinan ijazahnya. Saat kami ambil ijazah anak tersebut tanpa bayar tunggakannya, kebijakan untuk pemutihan tunggakan ijazah dan komite belum ada. Ayah dari anak tersebut yang sementara pemulihan stroke ringan begitu terharu ketika ijazah anaknya bisa diambil berkat bantuan komunikasi Darius Beda Daton.
Memang Darius Beda Daton adalah pribadi yang mudah dihubungi, meski hanya melalui pesan singkat. Setiap pesan untuknya akan direspons dengan baik. Semua pekerja media yang berinteraksi dengannya mengakui itu. Membaca balasan pesan Darius Beda Daton, kita akan tahu bahwa dirinya adalah pribadi yang egaliter.
Sikap egaliter Darius Beda Daton terlihat dari setiap kerja-kerja advokasi yang selama ini dilakukannya. Dengan siapapun yang memiliki kaitan dengan masalah yang diawasi atau diadvokasi, Darius Beda Daton bisa secepatnya membangun komunikasi dan berkolaborasi. Baik dengan pihak yang level posisi kuasa dan birokrasinya tinggi, begitu juga dengan pihak media maupun masyarakat kecil yang sama sekali tak memiliki kuasa. Darius Beda Daton merespons dengan baik setiap pesan untuk dirinya.
Ketika menerima pengaduan atau laporan masalah, Darius Beda Daton juga mengawal sampai bisa terselesaikan. Mulai dari masalah di sekolah, masalah di pelabuhan dan di atas kapal laut, masalah pelayanan rumah sakit, masalah pungutan liar, dan masalah apa saja yang diterimanya, pasti disreponi hingga tuntas. Dan, Darius Beda Daton juga melakukan advokasi untuk melahirkan kebijakan sebagai solusi dari masalah yang ada. Jadi, Darius Beda Daton tidak hanya melihat suatu persoalan secara kasuistik dan teknis, tetapi berusaha sampai melahirkan kebijakan solusi jika perlu. Pembaca bisa mencari sendiri dari berbagai sumber, mengenai kerja-kerja pengawasan sampai dengan kerja-kerja advokasi yang diinisiasi Darius Beda Daton selama ini. Yang terakhir adalah Peraturan Gubernur NTT Nomor 53 Tahun 2025 tentang Pendanaan Pendidikan, yang proses awalnya juga diinisiasi oleh Darius Beda Daton.
Fransiskus Pati Herin, wartawan hebat dari media Kompas bahkan menilai, Darius Beda Daton selama menjabat Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi NTT telah menetapkan standar yang tinggi untuk kerja-kerja pengawasan terhadap pelayanan publik di NTT.
Saya sepakat dengan Fransiskus Pati Herin. Darius Beda Daton memiliki kemampuan memahami setiap persoalan di NTT, yang indikasinya terlihat dari pengawasannya terhadap ratusan masalah pada berbagai bidang/sektor pelayanan, untuk kemudian dikawal sampai ada penyelesaian tuntas.
Cara dan kualitas kerja Darius Beda Daton juga menunjukkan bahwa selain memahami kerja dalam situasi yang tersistem, Darius Beda Daton juga memiliki kepekaan terhadap setiap masalah. Karena memiliki kepekaan dan tentu juga ketulusan, Darius Beda Daton, dari bukti kerjanya selama ini, menunjukkan bahwa setiap persoalan tidak hanya dilihat secara teknis dan kasuistis, tetapi juga secara sistem.
Dengan rekam jejak kerjanya yang menunjukkan kepekaan untuk membereskan setiap masalah hingga sumbernya, juga sikapnya yang egaliter, saya menilai figur seperti Darius Beda Daton memiliki kelayakan untuk menjadi the next Gubernur NTT, jika ingin agar secara radikal ada perubahan kualitas pelayanan kemasyarakatan di Provinsi NTT.
Sebab, selain variabel lainnya yang selama ini menjadi syarat bagi siapapun yang menjadi Gubernur NTT, kepekaan untuk memahami masalah hingga mengadvokasi sampai tuntas, dan juga sikap egaliter, yang keduanya dimiliki Darius Beda Daton, sebenarnya adalah faktor dasar yang seharusnya ikut masuk sebagai bagian dari variabel yang dibutuhkan setiap pemimpin.
Di NTT ada banyak orang pintar dan hebat, tetapi mendapatkan pemimpin yang egaliter adalah sesuatu yang sangat mahal. Pemimpin yang egaliter akan menempatkan siapapun dalam posisi yang setara sesuai dengan ajaran Kristus yang diimani hampir semua pemimpin di NTT. Pribadi yang egaliter akan memperlakukan pejabat sama dengan memperlakukan masyarakat sipil yang tak punya kuasa apa-apa. Kalau pejabat yang bertemu gubernur atau pimpinannya (ketua partai, kepala dinas, sekda, dll) rasa-rasanya mau merayap, tetapi terkesan cuek bahkan arogan ketika bertemu bawahan atau orang kecil, itu bukan sikap yang egaliter. Pejabat yang biasa membalas pesan gubernur, atau ketua partai, atau kepala dinas dengan jawaban panjang dan tata bahasanya disusun sedemikian rupa seolah seperti mau menyenangkan tuan, tetapi tidak meresponi pesan bawahan atau masyarakat kecil, itu bukan sikap yang egaliter. Pribadi yang egaliter tidak ‘menjilat ke atas’ lantas ‘menginjak di bawah’.
Pejabat yang egaliter benar-benar memperlakukan siapapun dengan cara dan sikap yang setara. Dan, Darius memiliki sikap egaliter tersebut.
NTT yang memiliki banyak masalah butuh kepemimpinan yang egaliter, agar kualitas pelayanan jadi baik. NTT tidak butuh pemimpin pintar tapi jago menjilat ke atas karena takut kehilangan jabatan, meski atasannya memiliki cara berpikir buruk dan melahirkan kebijakan yang tidak berpihak. NTT butuh kepemimpinan yang bisa meneladankan sikap egaliter, bukan yang sikap egaliter-nya manipulatif karena pencitraan atau karena ada maunya.
Karena itu, saya secara pribadi menilai, dengan dua faktor yang ada, sebagai modal untuk melengkapi variabel yang lain, Darius Beda Daton layak untuk menjadi the next Gubernur NTT di waktu mendatang.
Memang ada yang sering menyampaikan guyon bahwa salah satu faktor paling kuat untuk bisa diberi panggung menjadi pemimpin adalah ‘isi tas’, selain kapasitas, kapabilitas, dan sejumlah faktor lainnya. Darius Beda Daton mungkin kalah untuk faktor ‘isi tas’, tetapi pada yang lain, tentu tidak perlu diragukan.
Dengan modal rekam jejak selama ini, Darius Beda Daton bisa diandalkan untuk menghadirkan perubahan di NTT, asal diberi panggung dan kuasa.
Semoga ke depan Darius Beda Daton bisa dilirik oleh yang punya kuasa untuk menawarkan dan menghadirkan calon pemimpin di NTT, tanpa melihat ‘isi tas’, tetapi pada faktor yang lain, termasuk rekam jejak pelayanannya selama ini.

