Akses dari dan menuju wilayah Amfoang pesisir saat musim hujan relatif terbatas dan sangat sulit. Melalui jalur Sulamu hingga Oepoli, terdapat delapan sungai besar yang harus dilalui.
Begitu hujan mulai rutin, dibutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang besar untuk mencapai empat kecamatan pesisir Amfoang, yakni Amfoang Barat Daya, Amfoang Barat Laut, Amfoang Utara, dan Amfoang Timur.
Ketika hujan deras, pengguna jalan kerap harus menunggu lama, bahkan hingga berhari-hari, untuk dapat menyeberangi sungai-sungai tersebut.

Pada puncak musim hujan, jalur ini hanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Itu pun pengguna jalan harus menyiapkan biaya tambahan untuk menggotong sepeda motornya melewati genangan banjir.
Sementara barang kebutuhan pokok yang biasa dibawa para pedagang harus dipindahkan antar kendaraan secara manual.
Dari delapan sungai besar tersebut, sejak tahun 2021, Sungai Talmanu dan Sungai Kapsali tidak dapat dilewati mobil maupun truk ketika hujan mulai intens. Sebagian badan Jembatan Talmanu telah hanyut terbawa banjir, demikian pula Jembatan Kapsali. Banjir dan tebing tinggi di sekitar sungai semakin menghalangi kendaraan besar melintasi area tersebut.
Meskipun Kepala Dinas PUPR NTT, Benyamin Nahak, bersama tim telah melakukan survei terhadap kondisi Jembatan Numpisa, Bipolo, Termanu, dan beberapa jembatan lainnya di jalur Sulamu–Amfoang pada Rabu, 3 Desember 2025 lalu untuk menjadi prioritas penanganan oleh BPJN NTT pada tahun anggaran 2026, masyarakat Amfoang belum sepenuhnya yakin bahwa pembangunan jembatan akan benar-benar terlaksana.
Pengalaman beberapa tahun terakhir, ketika pengerjaan Jembatan Termanu tidak tuntas, serta pembatalan pengerjaan karena dinamika kebijakan anggaran nasional menjadi alasan masyarakat masih menyimpan keraguan.
Karena itu, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena (Melki) diharapkan turut memberikan perhatian serius pada kondisi aksesibilitas dan mobilitas masyarakat dari dan ke Amfoang, terutama pada musim penghujan.
Keyakinan masyarakat Amfoang pada Gubernur Melki cukup besar karena dianggap memiliki hubungan baik dengan pemangku kepentingan anggaran di pemerintah pusat, sehingga diharapkan dapat membantu para legislator asal NTT menyampaikan aspirasi kebutuhan pembangunan jembatan, sekaligus mengawal hingga tersedianya alokasi anggaran untuk pembangunan tersebut.
Wemfried Musa Daniel Kameo, tokoh muda Amfoang Timur yang juga pengurus Solidaritas Pemuda Amfoang (SUFa) pada Rabu (10/12/2025) siang menyampaikan, masyarakat Amfoang percaya bahwa Gubernur Melki memiliki perhatian terhadap Amfoang karena jauh sebelum menjadi gubernur, ia telah beberapa kali berkunjung dan menunjukkan kepeduliannya.

“Sekarang sudah menjabat gubernur satu tahun, kami berharap Pak Melki bisa mengaspirasikan dan mengawal agar pembangunan jembatan dapat direalisasikan pada tahun 2026 mendatang,” ungkap Kameo.
Kameo yang saat ini menjabat Kepala Desa Netemnanu Selatan mengisahkan bagaimana dirinya bersama perangkat desa dari wilayah lain harus memutar melewati Kabupaten TTU dan Kabupaten TTS apabila memiliki urusan ke Kantor Pemerintah Kabupaten Kupang di Oelamasi.
Untuk mengantisipasi kondisi darurat, ungkap Kameo, beberapa desa bahkan telah mengalokasikan anggaran untuk biaya memikul pasien dalam APBDes sebagai langkah antisipatif apabila ada warga yang dirujuk pada musim hujan. Ketika pasien dibawa, kendaraan harus berganti di setiap titik sungai, dan untuk menyeberangkan pasien maupun keluarga, desa harus menyiapkan biaya untuk membayar warga yang memiliki kemampuan melewati arus sungai sambil membawa beban.
Selain itu, Kameo juga menyampaikan bahwa kebutuhan petani seperti pupuk dan pestisida juga menjadi mahal dan kerap terlambat tiba di Amfoang.
“Pak Melki, tolong perjuangkan kebutuhan kami agar kami juga merasakan kemudahan seperti masyarakat di pinggiran kota yang aman dan mudah mengakses wilayah perkotaan saat musim penghujan,” ungkap Kameo.
Senada, Nimrot Lelis, tokoh muda Amfoang Utara sekaligus pengurus SUFa pada Rabu (10/12/2025) siang menyampaikan bahwa Amfoang sebagai salah satu daerah penghasil ternak sapi di Kabupaten Kupang menghadapi persoalan krusial setiap musim hujan karena akses menuju Ibu Kota Kabupaten maupun Provinsi sulit dilalui, dan rusaknya Jembatan Talmanu serta Jembatan Kapsali yang hingga kini belum diperbaiki memperburuk kondisi Amfoang yang semakin terisolasi.

Lelis berharap Gubernur Melki memberikan perhatian serius karena lumpuhnya akses dari dan ke Amfoang menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, juga memicu kenaikan harga kebutuhan pokok akibat tingginya biaya transportasi.
“Saya berharap ada perhatian serius dari Bapak Melki agar perbaikan infrastruktur menuju Amfoang dapat segera dilakukan sehingga predikat daerah terisolasi yang selama ini melekat pada Amfoang dapat dihapus,” harap Lelis.
(Simon Seffi)








