Honor 25 Ribu Sebulan, Guru SMPN 7 Amarasi: Semangat Kadang Redup, tapi tak Padam

Oleh: Simon Seffi

Sebelas perempuan tangguh sementara ini mengabdikan diri mengurus 41 anak bangsa di SMPN 7 Amarasi yang berada di Desa Oesena, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, NTT. Mereka adalah Petronela Nomtanis, Normalina Monas, Sarlota Lay, Yane I. M. Mone, Yanri Mnir, Elti Normalina Rassi, Monika Koro Rini, Jada Noviyana Ome, Marlis Debora Ome, Yomarth Subu Taopan, dan Nelviance Bano.

Penulis bertemu dan berbagi cerita dengan 9 dari mereka pada Jumat (10/05/2024) siang di SMPN 7 Amarasi.

Meski sebenarnya masih waktu libur karena bertepatan dengan perayaan Hari Kenaikan Kristus, sebelumnya, beberapa dari mereka sudah memiliki rencana untuk mencetak perangkat pembelajaran hari itu selepas kebaktian pagi sehingga saat kontak malam sebelumnya, mereka tak keberatan untuk bertemu.

Simon Seffi (penulis). Saat ini mengajar di SMAN 2 Fatuleu Barat.

***

 

Bertemu dan berbagi kisah, ternyata mereka adalah sekelompok perempuan sabar dan tegar.

Dalam segala kekurangan fasilitas dan sarpras (sarana dan prasarana) pembelajaran, mereka menghidupkan semangat anak-anak untuk terus bersekolah dan giat belajar. Bersama sejumlah orang tua dan pemerintah desa setempat, mereka ikut meyakinkan orang tua murid agar sekolah tak mesti tutup karena tak ada lagi murid yang berminat bersekolah di ‘sekolah tak jelas’ itu.

Jauh sebelumnya, ketika sebagian besar dari mereka mendapatkan honor yang tak seberapa, mereka saling memberi harapan untuk tidak menyerah lalu berhenti mengajar. Masing-masing dengan segala kekurangannya, ternyata bisa saling membantu dan melengkapi untuk tetap kuat dan bertahan.

Mereka berusaha menguatkan harapan dalam diri sendiri karena mereka juga ingin memelihara semangat dan kepercayaan para tetua pendiri sekolah. Orang tua, cerita mereka, mendirikan sekolah karena percaya pada mereka yang sudah menjadi sarjana.

Cerita mereka, “Kami tetap semangat hingga hari ini, karena kami ingin menjaga dan memelihara kepercayaan orang tua kami. Mereka berani buka sekolah karena mereka percaya pada kami yang sudah sarjana.”

Karena itu, dalam kondisi seperti belum adanya harapan bagi mereka sendiri untuk mengubah status kepegawaian demi taraf hidup yang lebih baik, mereka selalu saling memberi harapan. Beberapa kali gagal saat mengikuti seleksi pengangkatan sebagai guru ASN (Aparatur Sipil Negara) ataupun sebagai tenaga kontrak daerah tak membuat mereka patah arang untuk pergi dan berhenti menjadi guru.

Meski jalan seperti masih berliku untuk menggapai mimpi sendiri, mereka tahu bahwa mereka sendiri harus selalu punya harapan, karena ada mimpi ratusan anak bangsa yang mesti mereka tumbuhkan. Ada senyum dan mimpi anak bangsa yang harus mereka rawat.

Sekolah Minim Sumber Daya dan Fasilitas

SMPN 7 Amarasi didirikan pada tahun 2017. Saat didirikan, SMPN 7 Amarasi menginduk (filial) pada SMPN 5 Amarasi Satu Atap (Satap) yang berada di Desa Kotabes, sekira 4 kilometer dari Desa Oesena. Sempat meminjam sejumlah ruang kelas di SDN Huko’u selama setahun, baru punya lahan dan bangunan sendiri pada tahun 2018. Bangunan yang ada saat ini, baru dibangun lagi sekira tahun 2021, setelah bangunan sebelumnya yang menggunakan dinding bebak dan atap gewang roboh.

Meski berada tak jauh dari pusat ibukota Provinsi NTT, sekira 50 kilometer dari Kota Kupang, 2 bangunan berukuran sekira 6 m x 20 m dari sekolah yang baru dimandirikan pada Maret 2023 itu masih menggunakan seng bekas sebagai dinding dan sekat ruangan. Mereka memanfaatkan bantuan sejumlah seng bekas dari pemerintah desa setempat serta bantuan 150 lembar seng baru dari salah satu Anggota DPRD Kabupaten Kupang asal daerah pemilihan Amarasi.

Pantauan penulis, 2 bangunan sederhana itu disekat menjadi 5 ruangan. 3 sebagai ruang kelas, 1 ruang guru, dan 1 ruangan untuk perpustakaan. Tak ada buku yang tersedia, juga perlengkapan ATK (Alat Tulis Kantor). Kertas yang mereka gunakan hari itu untuk bekerja dibeli sendiri oleh salah satu dari mereka.

Guru di SMPN 7 Amarasi berusaha menggelar pembelajaran yang menarik meski dukungan sumberdaya dan fasilitas relatif terbatas.

Sesuai pengakuan Petronela yang baru bergabung ke SMPN 7 Amarasi dan menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah sejak September 2023, mereka memang belum mandiri mengelola dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sendiri karena selain baru memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan akun dapodik pada awal tahun 2024, belum ada guru ASN selain Petronela yang bisa menjabat Bendahara BOS sehingga dana BOS masih disalurkan melalui rekening dana BOS SMPN 5 Amarasi Satap sebagai sekolah induk.

Kebetulan ada 2 guru di SMPN 7 Amarasi yang saat ini sementara melengkapi berkas untuk diangkat sebagai guru ASN PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) setelah lulus seleksi sejak tahun 2021 sehingga mereka berharap pada awal tahun pembelajaran baru (2024/2025) nanti mereka sudah punya Bendahara BOS sendiri.

“Biar ada juga sedikit anggaran untuk kepentingan operasional sekolah, terutama untuk mendukung pembelajaran dan asesmen.” harap Plt. Kepala Sekolah Petronela.

Sesuai informasi beberapa guru, selain honor untuk 6 guru yang diambil langsung pada Bendahara BOS di SMPN 5 Amarasi Satap, tak ada lagi dana atau sumber daya lain yang mereka dapatkan. Keadaan di SMPN 5 Amarasi Satap sebagai sekolah induk juga nyaris sama dengan kondisi di SMPN 7 Amarasi. Selain masih menumpang (satu atap) di salah satu SD, jumlah murid di sekolah induk bahkan lebih sedikit dari jumlah murid di SMPN 7 Amarasi.

Sebenarnya ada juga iuran komite sebesar Rp25 ribu tiap anak tiap bulan tetapi tidak lancar dibayarkan sehingga hampir tak ada uang yang mereka kelola. Sejumlah guru mengakui, dukungan penuh orang tua dalam bentuk lain, misalnya dengan tidak menyekolahkan anak-anak mereka di SMP lain terdekat, ternyata membuat para guru juga enggan untuk memaksa anak-anak patuh membayar iuran komite. Akibatnya, nyaris tak ada sepeserpun yang mereka kelola sebagai sumber daya sekolah.

Selain 2 bangunan semi darurat dengan papan tulis di setiap ruangan dan 1 buah WC sumbangan orang tua, tak ada lagi fasilitas dan sarpras lain pendukung aktifitas pembelajaran. Meski ada beberapa bola kaki/voly, tidak ada lapangan yang bisa digunakan para murid untuk menyalurkan bakat dan minat olahraga mereka. Hampir seluruh bidang halaman dipenuhi batu karang sehingga tidak bisa digunakan sebagai lapangan tanah. Butuh belasan hingga puluhan juta rupiah untuk membuatkan sebuah lapangan banyak fungsi (Untuk upacara, latihan baris-berbaris, lapangan futsal, voly, tenis lapangan, maupun basket) bagi para murid.

Anak-anak selalu rajin ke sekolah dan mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan.

Petronela menyampaikan, dari informasi yang didengarnya, sudah ada upaya pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang agar SMPN 7 Amarasi bisa mendapatkan bangunan yang memadai.

Petronela berharap, sekolahnya juga bisa mendapatkan dukungan untuk pembuatan lapangan semen multy fungsi dan pengadaan sarpras seperti bola dan alat musik sehingga anak didiknya bisa berlatih dan berekspresi sesuai bakat dan minat mereka dalam berbagai kegiatan baik intra, ekstra, maupun kokurikuler.

Bawa Pergumulan dalam Doa Mingguan

Bukan karena sudah berkecukupan dan merasa kuat yang mesti membuat kita bersyukur, tetapi dengan bersyukur, kita akan merasa kuat dan berkecukupan dalam segala kelemahan dan kekurangan.

Yane I. M. Mone ingat betul, nasihat yang demikian tepat dengan keadaan mereka di sekolah saat mereka memutuskan untuk melaksanakan ibadat mingguan bersama para murid pada setiap Senin dan Sabtu.

Yane berkisah, saat itu, sekira tahun 2019, mereka merasa seperti tak akan ada lagi harapan untuk bertahan menjadi seorang guru. Bukan soal kesejahteraan mereka karena honor yang tak seberapa yang baru bisa diambil setiap beberapa bulan, tetapi karena anak-anak seperti belajar dalam keadaan yang memprihatinkan. Saat itu bangunan sekolah dalam kondisi reyot dan siap roboh, juga tidak ada buku pendukung pembelajaran apalagi fasilitas dan sarana untuk mendukung anak-anak berekspresi menyalurkan bakat dan minat, bahkan soal untuk ujian kenaikan kelas sering langsung dibacakan oleh setiap guru kepada anak-anak.

‚ÄúLihat keadaan anak-anak saat itu, Kami sedih dan haru. Kami merasa bahwa secara manusia kami tidak akan mampu bertahan. Saat itulah kami memutuskan, setiap pergumulan kami harus dibawa dalam doa. Akhirnya kami mulai gelar ibadat mingguan setiap Senin dan Sabtu. Senin itu buka usbuh, Sabtu untuk tutup usbuh.” cerita Yane. Mereka menduplikasi kebiasaan dalam pekerjaan pelayanan di Gereja Masehi injili di Timor (GMIT) yang memulai dan menutup hari dalam minggu pelayanan sebagai buka dan tutup usbuh.

Hingga kini, ibadat mingguan setiap Senin dan Sabtu sudah rutin mereka gelar. Didampingi para guru, anak-anak secara bergiliran berbagi tugas dalam memimpin ibadat.

Ibadat mingguan rutin digelar setiap Senin dan Sabtu.

Normalina Monas, koordinator SMPN 7 Amarasi sejak tahun 2018 hingga 2023 mengakui, mereka merasakan ada begitu banyak pergumulan mereka yang dijawab satu persatu oleh Tuhan setelah ibadat mingguan mulai rutin digelar.

Perhatian yang lebih baik untuk kesejahteraan sejumlah teman guru honorer, bantuan berbagai pihak dalam melengkapi sejumlah urusan administrasi untuk mendapatkan SK Pemandirian Sekolah, termasuk datangnya kepala sekolah yang merupakan guru ASN, diyakini Normalina sebagai jawaban Tuhan atas permohonan doa mereka.

Para guru memang selalu menetapkan sejumlah hal yang menjadi pokok doa untuk mereka doakan (gumuli) dalam ibadat bersama.

Yane dan teman-temannya juga mengakui, tidak hanya untuk menumbuhkan dan mengembangkan karakter kepemimpinan anak-anak (murid), ibadat mingguan yang mereka gelar ternyata juga memberi manfaat besar bagi kebersamaan para guru.

Beberapa dinamika dalam komunikasi dan relasi antar guru, cerita Yane, mau tidak mau harus selesai karena mereka perlu ada dalam suasana ibadat yang mensyaratkan hati yang damai dan penuh kasih.

“Untuk urusan sekolah, dalam segala keterbatasan dan kekurangan pasti muncul banyak dinamika. Kami sering bertengkar di grup whatsapp ataupun secara langsung di ruang guru. Misalnya biar mama Normalina memarahi kami dengan pesan whatsapp-nya yang panjang sekali, tetapi setiap bertemu, sesuai kebiasaan yang sudah kami bangun, kami harus bersalaman dan berjabatan tangan. Apalagi pas hari untuk ibadat, semarah apapun kami harus saling sapa, senyum, berjabatan tangan dan saling memaafkan. Tidak boleh bawa marah dan emosi negatif dalam ibadat bersama. Dalam segala susah dan keterbatasan kami di sekolah, ibadat dan doa membuat kebersamaan kami jadi kuat.” cerita Yane.

Ada yang honornya Rp25 ribu tiap Bulan

Dari 11 guru yang mengajar di SMPN 7 Amarasi, ada 7 yang masih berstatus honorer komite saat ini. Selain Petronela Nomtanis yang menjabat Plt. Kepala Sekolah, Normalina Monas dan Sarlota Lay juga sementara menunggu waktu saja untuk mendapatkan SK sebagai guru ASN PPPK setelah lolos seleksi ASN PPPK pada 2021 lalu. Yomarth Subu Taopan yang honor pada tahun 2019 sudah diakomodir sebagai guru kontrak kabupaten sejak 2022 lalu.

Para guru di SMPN 7 Amarasi saat ini.

Tujuh guru yang masih berstatus honorer komite saat ini adalah; Yane I. M. Mone, Yanri Mnir, Elti Normalina Rassi, Monika Koro Rini, Jada Noviyana Ome, Marlis Debora Ome, dan Nelviance Bano.

Yane I. M. Mone, Yanri Mnir, dan Monika Koro Rini sudah mengabdi sebagai guru honorer komite sejak tahun 2014 di SDN Huko’u dan ikut mengajar di SMPN 7 Amarasi sejak mulai didirikan pada 2017. Elti Normalina Rassi dan Marlis Debora Ome mulai mengajar pada 2017, Jada Novriyana Ome pada 2019, sementara Nelviance Bano baru bergabung pada Maret 2023.

Sejak tahun 2014 hingga saat ini, 6 dari mereka, selain Nelviance bano, menerima honor yang bersumber dari dana BOS sebesar Rp200-250 ribu setiap bulan. Pada tahun 2017, 3 dari mereka mulai menerima tambahan dana transport dari Pemkab Kupang sebesar Rp500 ribu. Pada 2023, 3 lagi yang ikut menerima dana transport sehingga saat ini mereka berenam sudah menerima sebesar sekira Rp750 ribu setiap bulan.

Sementara Nelviance Bano belum menerima honor dari dana BOS. Sejak bergabung dari Maret tahun lalu, setiap bulan Nelviance menerima honor hanya dari dana komite sebesar Rp25 ribu.

Semangat Kadang Redup, tapi tak Padam

Meski sudah mengabdi bertahun-tahun sebagai guru honorer komite dengan honor yang relatif sedikit, Yane dan teman-temannya selalu berusaha menguatkan hati untuk tegar dan tak lantas patah semangat saat beberapa kali gagal ketika mengikuti seleksi untuk pengangkatan sebagai guru ASN.

Yane mengakui, meski penyelenggaraan sekolah juga seperti tak didukung fasilitas dan sarpras yang memadai, dirinya dan teman-temannya tak memiliki pilihan saat ini untuk berhenti mengajar karena sudah terlanjur dekat dengan anak-anak.

Mereka juga ingin menjaga kepercayaan yang diberikan oleh para tetua dan orang tua murid kepada mereka.

“Kami sudah berproses bersama dari nol saat mulai buka sekolah sampai dengan posisi saat ini sehingga kami tidak tega jika meninggalkan anak-anak. Kami sebagai anak dari daerah sini merasa orang tua sudah begitu percaya pada kami untuk mengurusi anak-anak. Hanya kami yang bisa bertahan dengan kondisi begini. Kalau kami memutuskan mundur dari dulu, pasti sekolah tidak jalan. Kalau bukan kami yang mau bersama dengan anak-anak kami, mau siapa lagi?” ungkap Yane.

Nelviance juga begitu. Meski hanya diberi honor sebesar Rp25 ribu setiap bulan, Nelviance yang sebelumnya mengajar di salah satu sekolah swasta di Kota Kupang meyakini bahwa segala sesuatu yang baik bagi diri dan masa depannya harus didapatkan melalui sebuah proses yang tidak instan.

Nelviance mengakui jika keluarganya juga mendukung penuh pengabdiannya di SMPN 7 Amarasi sehingga saat ini dirinya memiliki motivasi yang tinggi untuk terlibat bersama teman-temannya yang sudah lebih dulu mengabdi.

Hingga akhir diskusi, Yane dan Nelviance percaya bahwa akan ada sesuatu yang baik bagi mereka meski prosesnya seperti berliku. Karena itu, mereka mesti tetap memelihara semangat meski keadaan seperti tak berpihak bagi anak-anak bangsa yang mereka didik, juga seperti tak berpihak bagi kesejahteraan mereka sendiri.

Meski kadang semangat yang dirasakan hampir seperti lilin yang redup, mereka yakin bahwa mereka tidak akan mudah padam. Sebab, mereka memang harus tetap memiliki semangat jika ingin membuat anak-anak berani memiliki mimpi yang besar.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Dedikasi dan semangat seorang guru tak ternilai harganya.
    Guru memiliki peran penting dalam mencerdaskan bangsa.
    Pemerintah perlu memperhatikan kesejahteraan para guru di Indonesia.
    Masyarakat perlu memberikan apresiasi dan dukungan kepada para guru.

  2. Nyalakan terus semangat rekan-rekan Guru yang ada di SMPN 7 Amarasi, berjuang meski dalam keterbatasan, mengabdi untuk anak bangsa sebagaimana yang diamanatkan Tetua. jagalah lilin-lilin kecil yang mulai berpijar… agar dapat menerangi jalan kehidupannya.
    Salam sukses buat penulis, teruslah bergerak dan menggerakkan komunitas, untuk kualitas pendidikan yang lebih baik.