Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (IKEBANA) Kupang, mengadakan Syukuran Natal dan Tahun Baru (Nataru) sekaligus Pengukuhan Badan Pengurus (BP) Baru Periode 2026-2031, Sabtu (17/01/2026) bertempat di Aula Eltari Kupang. Tema yang diusung adalah “Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga”. Sub Tema diangkat dari kearifan local: “ To’o Jogho Waga Sama, Kolo Sa Toko Tali Sa Tebu, Tetin Pu’un Wangkas Lobhon”. Makna yang tersirat di dalamnya adalah nilai gotong royong, bangun bersama, persatuan yang tak dapat dipisahkan, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Syukuran diawali dengan perayaan ekaristi (misa) yang dipimpin oleh P. Dr. Stefanus Lio, SVD, S.Fil.MA, didampingi lima imam konselebran. Pater Stef, demikian biasa disapa, dalam kotbahnya menggarisbawahi, bahwa Natal adalah peristiwa Allah yang akbar menjadi Allah yang akrab dengan manusia. “Natal tak dapat dipungkiri lagi dan telah menjadi kebenaran iman yang kita akui bersama adalah peristiwa Allah yang akbar menjadi Allah yang akrab dengan manusia”. Lebih lanjut diuraikan, bahwa Allah datang mendekat dan masuk ke dalam realitas hidup kita manusia. Ia hadir dan tinggal menetap dalam keluarga di dalam kegelisahan-kegelisahan, dalam keterbatasan-keterbatasan kita, dalam kerapuhan kemanusiaan kita, dan juga dalam setiap harapan kita umat manusia. Hari ini di tempat ini, lanjut pater Setef, perayaan Natal keluarga besar Ikebana, menjadi semakin bermakna, karena kita juga merayakan pelantikan pengurus baru Ikebana. Ini bukan sekedar pergantian struktur, kalau memang ada pengurus berwajah baru, atau pun mantan struktur, melainkan tanda bahwa Allah terus berkarya, melalui keluarga-keluarga yang mau melayani, ujarnya.

Mengutip kisah dalam kitab suci tentang Saul, rektor Unwira Kupang ini menyampaikan permenungan, bahwa Saul melakukan hal yang pada awalnya terkesan sepele namun menjadi hal yang luar biasa yakni berawal dari urusan keluarga. “Dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah Saul, ia berangkat dari rumahnya untuk mencari keledai yang hilang, sebuah urusan keluarga yang sederhana dan bahkan tampak sepele, namun justru dari perjalanan biasa itulah, Allah menyingkapkan rencana keselamatan yang besar. Saul dipimpin oleh uparapan menjadi raja Israel. Hal yang biasa menjadi luar biasa, karena Allah berkarya di dalamnya” ujarnya.
Menurutnya, pesan penting bagi kita untuk direnungkan dan diakui adalah bahwa Allah sering mengalihkan karya keselamatan-Nya dari urusan keluarga yang sederhana. Dengan ini keluarga bukan hanya tempat bertumbuh secara biologis, tetapi juga ruang panggilan dan perutusan.
Di dalam keluarga, Allah membentuk iman, karakter, dan persiapan kita semua untuk melayani. Karenanya Ikebana, sebagai komunitas keluarga, dipanggil untuk menyadari, bahwa setiap keluarga merupakan ladang karya Allah.
Menurut pater Stef, Yesus datang bukan untuk keluarga yang sempurna, juga bukan untuk orang sehat. “Yesus menegaskan, bukan orang sehat yang membutuhkan tabib tapi orang sakit. Pernyataan ini menunjukkan, bahwa Yesus datang bukan untuk keluarga yang sempurna, tetapi untuk keluarga yang rapuh, relasi yang terluka, iman yang lemah dan pelayanan yang mungkin terasa berat”ungkapnya di hadapan hadirin yang memenuhi Aula Eltari.
Menyinggung tentang Natal dan Ikebana, ia mengharapkan agar komunitas ini menjadi organisasi yang memainkan peran penting dalam kehidupan sebagai pembawa khabar sukacita dan panggilan rohani. “Ikebana terpanggil menjadi komunitas yang merangkul, bukan menghakimi, keluarga yang menyembuhkan, bukan menyingkirkan, komunikasi yang hadir bukan menjauh. Pelantikan pengurus baru Ikebana, bukan hanya amanat organisasi, tetapi sebuah panggilan Rohani. Seperti Saul yang diurapi, para pengurus diurapi secara batin untuk melayani dengan kerendahan hati, menjadi teladan dalam perbuatan, menguatkan keluarga-keluarga yang lemah, dan menjadikan Ikebana rumah yang aman, nyaman, damai dan penuh kasih”, pintanya.
Gubernur Lakalena: Ada masalah Stunting dan program One Village One Product

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam sambutan tertulisnya, dibacakan oleh Asisten I, Kanisius Rahmat,M.Si menyampaikan harapan pada Ikebana sebagai organisasi diaspora untuk mendukung program pemerintah provinsi. “Saya ingin mengajak kita merefleksikan kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Meski daerah kita sudah mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik, kita perlu juga menyadari, bahwa daerah kita masih menghadapi berbagai tantangan yang serius.
Dalam perpektif kita hari ini, menurut gubernur, ada tantangan yang serius yakni masalah stunting. “Mari kita secara bersama-sama memberi perhatian kepada beberapa tantangan yang serius, di antaranya stunting. Stunting bukan sekedar persoalan kesehatan, tetapi menyangkut masa depan NTT, teristimewa hari ini dalam atau kebersamaan Ikebana, maka ini juga menyangkut masa depan generasi Nagekeo. Di sinilah peran diaspora menjadi sangat penting melalui dukungan edukasi gizi, pendampingan keluarga, penguatan ekonomi rumah tangga, serta aplikasi terhadap kesehatan ibu dan anak” pintanya.
Selain itu, gubernur Lakalena menyoroti masalah perlindungan perempuan dan anak yang harus menajadi komitmen moral kita bersama. Kekerasan dalam rumah tangga, dan lingkungan sosial adalah luka manusia yang tidak boleh ditolerir. Kita semua termasuk ikatan keluarga Nagekeo, dipanggil untuk menjadi teladan dalam membangun relasi yang saling menghormati, melindungi dan menjunjung martabat manusia. Di bidang pendidikan, kita perlu menghidupkan kembali semangat gotong royong. Salah satu nilai dari motto itu tidak boleh ada anak Nagekeo yang kehilangan masa depan karena keterbatasan ekonomi, atau kurangnya pendampingan. Diaspora dapat berperan melalui dukungan beasiswa, mentoring, motivasi belajar, serta jejaring pendidikan dan ketrampilan bagi generasi muda.

Selanjutnya, gubernur ke 9 Provinsi NTT, ini mendorong penguatan ekonomi lokal melalui program one village one product. Membangun satu produk unggulan setiap desa berbasis potensi lokal dan kearifan budaya. Banyak anggota Ikebana yang telah berkarya dalam sektor UKM dan ekonomi kreatif. Ia mengharapkan diaspora untuk terlibat aktif dalam program ini sebagai pendamping, penghubung pasar, penguat manajemen usaha, maupun promotor produk unggulan Nagekeo, harapnya. Menurut Lakalena, kekuatan jejaring diaspora bila disinerjikkan dengan potensi desa, akan mempercepat kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat. Diharapkan, Ikebana berdayaupaya memproduksi produk-produk lokal yang khas untuk dapat dipasarkan di berbagai NTTmart yang telah dibangun di beberapa kabupaten dan akan segera diwujudnyatakan di seluruh Nusa Tenggara Timur.
Selain menjadi produk bernilai ekonomis, harap gubernur, produk-produk tersebut memperkaya ragam identitas kita sebagai orang NTT dan sebagai orang Nagekeo.
“Saya berharap, Ikebana harus menjadi rumah besar yang mempersatukan diaspora, menumbuhkan solidaritas, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun Nusa Tenggara Timur yang lebih sejahtera, berkeadilan dan bermartabat” tegasnya.
Wali Kota Kupang: Keluarga Bukan hanya Fisik tetapi Ruang Bermakna.

“Slamat untuk pengurus baru yang dilantik, selamat bertugas! Semoga selalu amanah penuh integritas, dan selalu mengurus Ikebana dalam kerangka besar kebersamaan. Selamat Natal Tahun baru”, ungkap wali kota Kupang dr. Christian Widodo, mengawali sambutannya. Lebih lanjut beliau memaknai tema natal menurut perpektif pribadinya. “Tema Natal kita tahun 2025 adalah Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga. Kalau saya maknai lebih jauh dan lebih dalam, ungkapnya, keluarga bukan hanya soal fisik, atau soal ikatan batin bapak, ibu, anak. keluarga adalah tempat di mana kita berkeluh kesah, tempat kita setelah seharian bekerja kita tahu, ke mana kita harus berpulang kembali, tempat kita saling menguatkan, tempat kita saling menyayang, tempat kita saling bertumbuh. Itu bisa disebut keluarga”jelasnya.
Menurut dr. Christian, keluarga bukan sekedar fisik tetapi juga ruang yang bermakna lebih dalam. “Bagi saya, keluarga itu bukan hanya fisik, tapi sebuah ruang yang punya makna lebih dalam. Keluarga itu bisa hadir di mana saja. Tidak harus di rumah, bisa hadir di lingkungan kerja, bisa hadir di komunitas, bisa hadir di kelompok arisan, bisa hadir di diaspora-diaspora, dan salah satunya seperti malam hari ini yang ada di ruangan ini, keluarga besar Ikebana” ujarnya. Ini cocok dengan tema Keluarga Hadir Menyelamatkan Keluarga. Jadi bagi saya, semuanya dimulai dari keluarga. Kalau kota Kupang mau kuat, maka keluarga-keluarga yang ada di kota Kupang juga harus kuat. Dan saya menyaksikan sendiri, bahwa keluarga kecil Ikebana sudah banyak bersubangsih bagi pembangunan kota Kupang hari ini. Saya kira ini kesempatan yang baik. Atas nama pemerintah kota Kupang, saya mengucapkan limpah terima kasih, memberikan apresiasi yang tinggi untuk Ikebana karena telah banyak membantu pemerintah kota Kupang” ungkapnya. Beliau juga menyampaikan berbagai preastasi yang telah diraih pemerintah kota kupang selama tahun 2025, di antaranya penghargaan 10 besar sebagai kota toleransi, Cipta Kota Damai dan Inklusif, penghargaan terbaik Tim percepatan Perluasan Digitslisasi Daerah/TP2D untuk wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Selain itu ada penghargaan Program Perencanaan Tertinggi tingakt nasional. Kota Kupang juga mendapat penghargaan terbaik bidang pengelola transport terbaik se NTT, selain dianugerahi penghargaan Standar Pelayanan Publik terbaik se NTT. Menurutnya, raihan sejumlah penghargaan ini bukan karena kehebatanya tetapi dukungan dari seluruh warga kota Kupang. “Tentu ini bukan kehebatan saya dan wakil walikota. Tentu ini karena seijin Tuhan dan karena dukungan seluruh warga kota Kupang, terkhusus keluarga Ikebana. Ini tidak membuat kami menjadi jumawa. Di satu sisi menjadi motovasi untuk 2026 kami harus lebih baik. Saya secara pribdi merasa pekerjaan saya masih banyak sekali, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mohon dukungan dari Ikebana, agar kita bisa terus berlari kencang. Intinya adalah pemerintah kota Kupang terus melakukan cara-cara yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Saya ingat Albert Einstain bilang dalam sebuah buku dia bilang “hanya orang gila yang menginginkan hasil yang berbeda tapi melakukannya dengan cara yang sama”. Ya itu gila, tidak mungkin! Kalau mau hasil yang berbeda harus melakukannya dengan cara yang berbeda. Mari kita terus saling menguatkan sebagai satu keluarga. Kalau hari ini lihat kota Kupang bercahaya, bukan karena obor yang dinyalakan di balai kota atau di kantor wali kota, tapi karena lilin-lilin kecil yang dinyalakan di komunitas-komunitas di tingkat kecamatan, kelurahan, di RW, RT bahkan lilin-lilin kecil yang dinyalakan di keluarga-keluarga yang ada di kota Kupang” ungkapnya penuh bangga.
Ketua Ikebana : Saya minta pengurus beri waktu lima persen untuk Ikebana.

Ketua Umum Ikebana, Drs. Marsianus Jawa, M.Si, dalam sambutan setelah dikukuhkan bersama Badan Pengurus lainnya oleh ketua Dewan Penasehat, Pater Dr. Stefanus Lio, SVD, S.Fil.MA mengatakan, bahwa ia telah dipilih untuk ketiga kalinya dalam periode ini bukan karena kehebatan dirinya. “Hari ini saya dikukuhkan untuk yang ke tiga kali. Saya bukan yang terbaik, saya bukan orang hebat. Saya tidak punya apa-apa. Tetapi karena kepercayaan dari ka’e-ka’e senior, (kakak-kakak) ade-ade ketua paguyuban yang masih memberikan beban kepada saya sebenarnya” ungkapnya merendah. Menurutnya, kepercayaan itu terlalu simple. memberikan beban kepada saya, kenapa? Semua mereka (anggota Ikebana) bersepakat, bahwa karena ada program yang belum bapa dan pengurus selesaikan, maka kamu lanjut, kisahnya sambil tertawa kecil. “Saya pikir-pikir rupanya program ini salah. Kenapa sampai tiga periode. Saya tidak tahu, yang salah itu ketua-ketua paguyuban dan senior-senior, bukan saya yang tahu. Oleh karena itu, dari tempat ini kepada pengurus, saya cuma titip satu hal. Kajian SMERU Institut beberapa tahun yang lalu mengelompokkan persentase aktivitas orang dewasa aktif. Ada yang mulai bekerja 45 sampai 50 persen, keluarga 20 sampai 25, aktivitas dan lain sebagainya. Saya minta (waktu) badan pengurus hanya 5 persen urus Ikebana. Tidak perlu hebat-hebat. Lima persen luangkan waktu teman-teman ka’e azi (kakak adik) semua, kita urus Ikebana. Apa yang kita mau urus. Kalau dana sosial selama ini sepuluh ribu per kk aman terkendali. Masuk rekening aman, kalau ada kedukaan kita tinggal tarik dan setor. Yang sedikit kendala, TPU kita yang agak sendat. Pak wali kota, mungkin pak wali kota sudah tahu, Ikebana kini ada sebuah tempat pemakaman umum khusus Ikebana. Tanah kami sudah beli, tetapi uangnya baru 75 juta kami bayar kepada tuan tanah, ada di Tilong, jelasnya. “Kami sudah petakan lokasi secara baik. Ada parkirnya, kalau mau kubur tinggal pasang-pasang, sudah jadi. Kita masih butuh tigaratus juta. Karena rekening kita 70an juta hari ini. Itu kita butuh satu kk satu juta. cicil. Yang lain sudah lunas. Karena covid kemarin maka kita baru mulai lagi di 2022. Oleh karena itu, kepada badan pengurus, saya butuh bapak-bapak, adik-adik, kakak-kakak semua, selesai ini apa yang kita harus buat. Konsep kita, kalau mau kumpul keluarga, kumpul keluarga. Kita bereskan supaya kita tambah 125 juta kepada pemilik tanah, supaya kita boleh pakai lahan itu. Karena dia sudah janji. Sekali lagi, kepada ketua-ketua paguyuban dukungan ka’e azi yang luar biasa untuk kegiatan hari ini. Mudah-mudahan Ikebana semakin baik ke depan, dan saya mohon maaf, kalau ada hal-hal yang tidak berkenan, ujar Marsianus menutup sambutannya.
Acara, selain diwarnai dengan ramah tamah bersama, hadirin dihibur dengan tarian dan penampilan para penyanyi oleh mahasiswa asal Nagekeo.
Turut hadir dalam acara ini, beberapa anggota DPRD kota Kupang dan Provinsi NTT, Ketua Forum Pembangunan Kebangsaan Ir. Theo Widodo, Dirut PDAM kota Kupang Isidorus Lilijawa,S.Fil, Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, Haji Darwis, seta undangan dari ikatan keluarga diaspora lainnya.
(Amatus Bhela)

