Irjenpol Krisnandi Hadiri Festival Rote Malole tahun 2025.

Staf khusus menteri bidang pengamanan destinasi dan pengawasan kementerian pariwisata Republik Indonesia, Irjenpol Krisnandi menghadiri Festival Rote Malole tahun 2025 yang bertempat di stadion Nehemia Dillak Ba’a, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao. Selasa (13/8/205).

Gelaran Festival Rote Malole yang dibuka Bupati, Paulus Henuk, SH melalui dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Rote Ndao ini ditandai secara simbolis dengan Penabuhan Gong oleh Staf khusus menteri bidang pengamanan destinasi dan pengawasan kementerian pariwisata Republik Indonesia, Irjenpol Krisnandi sebagai wujud penghormatan terhadap budaya lokal.

Turut hadir mendampingi, Bupati dan wakil Bupati Rote Ndao, Sekda, Forkopimda Kabupaten Rote Ndao, dan sejumlah pimpinan OPD , serta para undangan yang hadir.Tampak ribuan warga hadir memadati kawasan stadion,menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap perayaan budaya yang menjadi bagian penting dalam rangka memperingati HUT RI Ke-80.

Pada Kesempatan itu Staf khusus menteri bidang pengamanan destinasi dan pengawasan kementerian pariwisata Republik Indonesia,Irjenpol Krisnandi dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Rote atas ketidak hadiran Mentri Pariwisata RI dalam Festival Rote Malole.

“Pak Bupati dan Wakil Bupati segenap masyarakat Rote Ndao bahwa Mentri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana tidak bisa hadir bersama kita mudah-mudahan kesempatan yang akan datang bisa hadir disini karena pada tahun ini ada 110 team karena dari Sabang sampai Merauke saya sudah kesana dan dari Miangas sampai pulau rote saya belum sehingga saya memilih rote.” Ujarnya.

Pada Kesempatan itu Irjenpol Krisnandi mengucapkan selamat atas terpilihnya kabupaten Rote Ndao di antaranya 110 kabupaten/Kota pada pelaksanaan event tahun 2025,

“Kerena kita melihat event Nusantara ini banyak kabupaten/kota yang tidak terpilih, karena mintak dukungan Pak Bupati serta penggerak pariwisata dan masyarakat Rote Ndao agar tahun depan dan tahun-tahun berikutnya untuk festival Rote Malole bisa terpilih kembali”pungkasnya.

Dia menambahkan Festival Rote Malole tidak hanya memperkenalkan dan mempertahankan tradisi lokal tapi juga menjadi ajang promosi budaya dan pariwisata karena menurutnya Festival Rote Malole mempunyai peranan penting sebagai penjaga indentitas lokal mempererat ikatan sosial serta sebagai wujud ikatan masyarakat akan warisan budaya.

Dia juga menambahkan dalam Festival Rote Malole ini mengusung tema “Pariwisata maju, Rote Ndao Makmur dan Berdaulat memiliki arti mewujudkan transformasi Rote menuju Indonesia emas melalui sektor pariwisata berdaulat, berogresif, berdaulat adil dan makmur.

“Saya harapkan apa yang sudah di sampaikan agar mendapat bantuan dari semua pihak karena di semua daerah itu masing-masing berlomba untuk bisa menarik wisatawan datang dan kita bersyukur NTT ini sudah ada potensi yang luar biasa, kita ambil contoh di Labuan Bajo sudah cukup lama padahal perkenalannya baru beberapa tahun ini”pungkas.

Lebih lanjut di katakan kepentingan periwisata sangat di dukung melalui event ini dalam rangka pencapaian target kunjungan 14-16 juta wisatawan mancanegara dan 1,8 Miliar pergerakan wisatawan Nusantara serta membuka peluang kerja 25,8 juta tenaga kerja pada sektor pariwisata 2025 ini.

“Diharapkan ini kita kembangkan karena saya dari Kupang ke Rote mengunakan kapal cepat itu sudah banyak sekali wisatawan yang ke sini saya lihat pada membawa alat syuting jadi saya minta agar pro masyarakat bisa menjaga mereka agar mereka bisa datang kembali.”Pinta Irjenpol Krisnandi.

Menyambut Hal itu, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH., dalam sambutannya menyampaikan selamat datang untuk Staf khusus menteri bidang pengamanan destinasi dan pengawasan kementerian pariwisata Republik Indonesia Irjenpol Krisnandi yang telah hadir dalam ajang Festival Rote Malole tahun 2025. “Inilah kami pulau Rote tanah yang kering tapi kami tetap bangga karena kami juga menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari selatan Nusantara”.

Pada Kesempatan itu Bupati menyebutkan Kabupaten Rote Ndao terdiri dari 11 kecamatan, jumlah penduduknya lebih kurang 155 ribu dengan jumlah desa 119 desa/kelurahan.

Bupati Paulus menyampaikan Event yang kita lakukan bukan saja sekedar untuk kita melakukan atau menampilkan berbagai budaya dan dan keindahan alam Rote Ndao tetapi ini sebagai momentum bagi kita untuk mengembangkan sektor pariwisata dan tidak saja berbasis pada keindahan alam tetapi kita juga bisa menampilkan kekayaan budaya kita baik itu budaya yang berbasis tarian atau adat istiadat dan begitu banyak keindahan alam yang ada di Rote Ndao yang belum dieksplor.

“Oleh karena itu pada kesempatan ini menjadi momentum juga untuk kita untuk terus melakukan upaya-upaya dalam meningkatkan ekonomi yang berbasis pada kekayaan dan keindahan alam kita”. Jelas Bupati Paulus.

Pada kesempatan itu Bupati Paulus Henuk berharap ada festival rote melole ini ke depan terus didukung oleh menteri Pariwisata Republik Indonesia agar mampu terus mengembangkan festival ini bisa lebih baik ke depan.

“Demi titip salam buat menteri pariwisata Republik Indonesia dan seraya kami berharap di tahun-tahun yang akan datang festival ini juga terus didukung agar kami mampu dan bisa terus mengembangkan festival ini bisa lebih baik lagi ke depan dan kepada panitia yang menyelenggarakan lebih mempersiapkan diri dengan baik.”Pinta Bupati.

Paulus menambahkan sebagai pemerintah daerah tentu saja mempunyai tugas dan tanggung jawab bagaimana agar upaya-upaya membangkitkan dan menumbuhkan ekonomi di kabupaten ini

“Saya bersama ibu Wakil walaupun baru 6 bulan kurang satu minggu tapi kita juga bersyukur bahwa pada tahun ini kita bisa menyelenggarakan pameran pembangunan dan Expo UMKM yang kita langsungkan selama lebih kurang satu bulan dan kami bisa menyaksikan dan melaporkan kepada menteri Pariwisata bahwa dalam pantauan kami si malang itu peredaran uang mencapai ratusan juta rupiah walaupun belum selesai lebih kurang 2 minggu”bebernya.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Rote Ndao haus atau dahaga terhadap event ini oleh karena itu saya beserta jajaran Forkopimda di Kabupaten Rote ndao akan menjadikan momentum ini juga untuk berkolaborasi bagaimana kemudian ke depan untuk membangun ekonomi di Kabupaten Rote ndao secara kolaboratif.

Lebih lanjut disampaikan festival Rote malole bukan hanya sekedar acara hiburan melainkan wujud nyata komitmen kita untuk melestarikan warisan budaya Rote Ndao yang kaya dan unik di tengah modernisasi dan digitalisasi peradaban yang dapat mengancam eksistensi kebudayaan mempromosikan unggulan destinasi di Nusa Tenggara Timur dan Indonesia.

Festival Rote Malole Paulus menambahkan, dilaksanakan dengan aneka perlombaan diantaranya lomba kebalai, lomba tari tradisional lomba petik sasando dan dan lomba peragaan busana untuk belajar dan masyarakat umum selain itu digelar pula lomba menggambar lomba mewarnai bertema kura-kura berleher ular serta lomba peragaan busana anak yang didukung oleh Wildlife Conservation society IP dan balai besar konservasi sumber daya alam provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Hal ini merupakan salah satu upaya dan bentuk edukasi kepada anak-anak sejak usia dini untuk menjaga keberlangsungan hidup kura-kura berleher ular sehingga kedepannya dapat menjadi ikon wisata kabupaten Rote ndao”. Pungkas Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH.

Sementara dalam laporan panitia pelaksana Festival Rote Malole Yesy Dae Pany Selaku kepala dinas periwisata dan kebudayaan kabupaten Rote Ndao menyebutkan para peserta lomba kegiatan festival Rote Malole ada 4 mata lomba yang di 63 peserta di antaranya lomba kebalai berjumlah 12 peserta, lomba tari tradisional berjumlah 11 peserta, petik sasando 15 peserta dan peragaan busana 26 peserta dan semua eserta lomba merupakan masyarakat umum dan pelajar dari berbagai sekolah yang ada di kabupaten Rote Ndao”. ujarnya.

Selain itu lomba Wildlife Conservation society IP dan balai besar konservasi sumber daya alam provinsi Nusa Tenggara Timur di ikuti oleh 444 peserta di antaranya lomba mewarnai tertema kura-kura berleher ular ada 239 peserta, lomba menggambar dengan tema kura-kura berleher ular ada 94 peserta sementara lomba Fashion show ada 111 peserta, semua peserta merupakan TK/paud, SD,. Ujarnya.

(Mekris)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *