Mahasiswa PAK IAKN Kupang Gelar PKM di GMIT Betesda Kiu’Utenu, Bahas Pergaulan dan Masa Depan Pemuda

Tim mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) Semester VI Kelas A Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di GMIT Betesda Kiu’Utenu, Klasis Amanuban Selatan, pada 15-17 Mei 2026.

Kegiatan itu mengangkat tema “Pemuda di Persimpangan: Lingkungan, Pergaulan, atau Prinsip, Siapa yang Membentuk Siapa?”

‎Kegiatan dimulai pada Jumat sore dengan penyambutan adat oleh jemaat dan pemuda gereja. Selama tiga hari, mahasiswa bersama jemaat mengikuti sejumlah agenda pelayanan, mulai dari bakti sosial, seminar kepemudaan, ibadah refleksi hingga pelayanan Sekolah Minggu.

‎Pada Sabtu pagi, mahasiswa bersama pemuda gereja melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan gereja dan menanam anakan pohon di sekitar lokasi pelayanan. Penanaman pohon itu disebut sebagai simbol kenang-kenangan sekaligus bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

‎Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan seminar pemuda pada Sabtu sore. Empat mahasiswa tampil sebagai pemateri dengan topik yang berfokus pada persoalan generasi muda.

‎Adince Toto membawakan materi tentang pengaruh lingkungan terhadap pembentukan karakter pemuda. Ia menyoroti pentingnya lingkungan kampung yang suportif bagi perkembangan anak muda.

‎Adince Toto membawakan materi tentang pengaruh lingkungan terhadap pembentukan karakter pemuda. Ia menyoroti pentingnya lingkungan kampung yang suportif bagi perkembangan anak muda.

‎Sementara Debora Patolla membahas tekanan pergaulan bebas di tengah kehidupan sosial remaja. Ia menyinggung dampak pergaulan bebas terhadap kesehatan dan masa depan generasi muda, sekaligus pentingnya menjaga batas dalam relasi pertemanan.

‎Materi tentang edukasi seks dibawakan Regina Tesalonika Banunaek. Ia menilai minimnya edukasi seks di lingkungan kampung dapat memicu berbagai persoalan, termasuk kehamilan dini dan penyakit menular seksual.

‎Adapun Oriston Taneo mengajak pemuda gereja untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masyarakat. Menurut dia, generasi muda tidak boleh hanya menjadi pihak yang dipengaruhi lingkungan, tetapi harus mampu memberi pengaruh positif bagi gereja dan kampung.

‎Ketua panitia PKM, Frigen Rinaldy Lay, mengatakan mahasiswa hadir bukan sebagai pihak yang paling mengetahui segala hal, melainkan sebagai sesama anak muda yang ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama proses perkuliahan.

‎“Kami datang bukan sebagai orang yang paling tahu, tetapi sebagai anak muda yang sementara belajar dan ingin berbagi,” kata Frigen dalam sesi seminar.

‎Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberi semangat bagi pemuda dan remaja gereja untuk tetap menjaga pergaulan dan bertahan dalam iman di tengah tantangan zaman.

‎“Pemuda dan remaja gereja harus tetap berjalan di jalur Allah,” ujarnya.

‎Dosen pengampu mata kuliah, Christofel Saetban, mengatakan gereja membutuhkan generasi muda yang tidak hanya aktif dalam kegiatan pelayanan, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial.

‎Menurut dia, mahasiswa dan pemuda gereja merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan misi pelayanan gereja di tengah masyarakat.

‎Sementara itu, pendeta GMIT Betesda Kiu’Utenu menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa dan dosen Institut Agama Kristen Negeri Kupang di tengah jemaat. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi pemuda dan remaja gereja dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman.

‎Kegiatan ditutup pada Minggu pagi melalui kebaktian bersama jemaat. Mahasiswa turut ambil bagian dalam pelayanan melalui paduan suara, vocal group, dan penampilan solo rohani.

‎Melalui kegiatan itu, mahasiswa dan jemaat belajar bahwa gereja harus tetap menjadi ruang aman bagi anak muda untuk bertumbuh, diterima, dan dikuatkan dalam menghadapi masa depan.


‎(Tim)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *