Martha Ndun, Single Mother Jual Es Hidupi Keluarga: Jahit Kembali Sayap yang Pernah Patah

Oleh: Amatus Bhela

Kisah tentang seorang ibu tunggal (single mother) yang jatuh bangun mendampingi, menghidupi dan membesarkan anak-anaknya, selalu menggugah nurani, merangsang inspirasi bagi siapa pun. Sebagai seorang ibu walau tanpa didampingi lagi suami dan ayah dari anak-anak, akan berusaha semaksimal mungkin dan memberikan yang terbaik demi masa depan anak-anaknya. ‘Tak dipungkiri terkadang ia harus menghadapi berbagai tantangan.

Kisah seperti ini juga dialamai seorang wanita tangguh paruh baya, Martha Ndun, seperti diungkapkannya pada penulis yang menemuinya di lapak julan Es Teler Kua Creamy, tepatnya di sisi jalan raya jurusan Kupang- Tablolong Km. 14 Kelurahan Batakte, Sabtu (09/05/2026). Sudah sekian tahun, Martha Ndun berperan sebagai single mother dan harus membesarkan ketiga buah hatinya; Keysa, Rasya dan Messi.

Ada kekwatiran terbesar Martha sejak ditinggal pergi suami adalah finansial untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama anak-anaknya. Ada tantangan lain yang harus ia hadapi adalah bagaimana  memulihkan luka bathin karena harus hidup bersama anak-anak tanpa didampingi suami.

“Saya harus memulai dari titik nol membangun kehidupan, membesarkan anak-anak, memikirkan biaya pendidikan anak-anak dan kebutuhan sehari-hari  yang tidak bisa terhindari.” ujarnya sambil mengusap deraian air mata yang tidak mampu ia bendung. 

Martha saat melayani pembeli.

Ketika ditanya tentang bagaimana mengelola hidup dengan berbagai macam persoalan, apalagi harus mengurus ketiga anaknya, Martha dengan lugas berkisah, bahwa berat ringan masalah, besar kecil persoalan harus dihadapi.

Ada berbagai usaha yang telah ia lakukan. Usaha pertama adalah membeli sayuran (kangkung, bayam, kol) dari petani sayuran di Oenesu, lalu dikemas dalam ikatan-ikatan, kemudian dijualnya kembali di seputaran kampung dan  perumahan Batakte dengan cara memikul, berjalan kaki, ditawari dari rumah ke rumah.

Bagi Martha, perjuangan dalam usaha mempertahakan hidup, apalagi membesarkan ketiga anaknya sungguh luar biasa.

“Tidak gampang menjalani hidup dan tanggung jawab menghudupi ketiga anak. Saya sudah mencoba membangun usaha demi usaha dari hal yang kecil dan sederhana. Seperti usaha menjual sayur dari rumah ke rumah namun tidak bertahan lama, karena sudah banyak yang menjual, baik dengan menggunakan gerobak sepeda motor yang datang dari Kupang, ada pula yang membuka lapak-lapak sayuran di dalam kampung.” cerita Martha dengan ekspresi muram.

Seiring berjalannya waktu, ide lain pun muncul setelah gagal menjadi penjual sayur. Kali ini ia menjajakki usaha baru yakni menjual nasi bungkus dan camilan di SD Inpres Batakte.

Awalnya, usaha ini berjalan lancar dan cukup terbantu untuk memenuhi kebutuhan walau tidak seberapa. Rupanya, dewi fortuna belum memihak pada nasib baik Martha untuk bertahan meraup rezeki di halaman SDI Batakte. Karena persoalan satu dan lain hal yang tidak mau ia ungkapkan, dengan hati gundah gulana, ia terpaksa tinggalkan usaha kecil-kecilannya itu dan mencari peluang lain. Bagi Martha, yang terpenting ia bisa mendapatkan uang  kebutuhan hidupnya bersama anak-anak.

Usaha baru yang Martha lakukan adalah menjula RB atau pakaian bekas. RB ini langsung diambil dari Gudang (distributor) di Kupang. Martha mengakui, alih usaha sebagai penjual RB sebenarnya cukup menjanjikan. Namun seiring berjalannya waktu, semakin hari  semakin bertambah jumlah penjual keliling RB. Sementara daya beli masyarakat di sekitar Kupang Barat itu musiman.

Masyarakat banyak membeli RB hanya pada saat musim panen, atau jika ada even-even yang diadakan pada waktu tertentu.

“Beta berpikir, kalau berpatokan pada menjual RB, sementara kebutuhan setiap hari berjalan, tentu menjadi persoalan.” kenang Martha. Ditambahkan Martha bahwa cara menjual keliling RB, kalau ada even misalnya, ketika masyarakat menerima Bansos, atau  ada even tertentu seperti hari raya nasional.

Martha juga memanfaatkan area Tamnos (Taman Nostalgia) Kota Kuupang, dan di CFD (car free day) setiap Sabtu pagi. Di CFD, selain menjual RB, juga menawarkan Es Teler dan nasi bungkus. Baginya, apa yang dilakukan adalah demi memenuhui kebutuhan minimalis ketiga buah hatinya.

Penulis saat menikmati Es Teler Kua Creamy.

Rupanya usaha menjual keliling RB dan mencoba mengais rezeki di Jalan Eltari setiap Sabtu pagi (CFD) atau di Tamnos mengalami pasang surut. Pada  akhirnya Martha mengalihkan ke usaha yang baru dan belum ada di Batakte. Kini ia membangun usaha kecil dan menarik pembeli yakni minuman segar berprotein tinggi Es Teler Kua Creamy (ETKC). Bahannya terdiri dari es, jelly, cream dan keju. Pembuatan ETKCS, setiap hari ia habiskan modal Rp.300.000. Dari modal ini, ia mendapat keuntungan Rp. 200.000 perhari. Ada dua takaran yang dikemas masing-masing seharga Rp. 10.000 dan Rp, 15.000. Penulis mencoba mencicipinya, dan wao! Lida tidak bisa membohongi seperti ada ungkapan “Seperti Es Cream, hidup punya banyak rasa untuk dinikmati.” kira-kira begitu.

Kepada penulis, Martha mengungkapkan rasa syukurnya, karena  usaha yang  baru ia rintis, keuntungan yang diperoleh dapat ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan, terlebih untuk kebutuhan kuliah anaknya pertama Keysa yang sudah duduk di semester V PGSD Undana. Sebagian ia sisihkan (menabung), karena sebentar lagi anak kedua Marsy akan masuk perguruan tinggi. Sedangkan anak ketiga Messi tahun Pelajaran baru 2027/2028 akan duduk di kelas VI.

“Secara  manusia beta sonde mampu, cuma beta tetap berharap dan mengandalkan Tuhan dalam hidup beta. Tuhan pasti selalu membuka dan memberi jalan keluar terbaik.” ungkap Martha ketika ditanya tentang cara ia menghadapi setiap pergumulan hidup bersama ketiga anaknya.

Sebagai singel mom, Martha mengungkapkan rasa terima kasih kepada pemerintah yang telah menerimanya sebagai peserta program bantuan keluarga harapan (BKH), juga bantuan sosial (Bansos). Bantuan dimaksud diterima setiap triwulan terhitung sejak tahun 2024 berupa uang sebesar Rp. 1.225.000 dan beras 10 kg.

Justin Deely, seorang aktor dan model terkenal Amerika Serikat pernah bilang begini: “Saya selalu mengatakan, siapa pun yang bisa menemukan cara membuat es krim yang sehat, akan menjadi triliuner”.

Yah, Martha sudah  membuat Es Kua Creamy, menjual dan dinikmati pembeli. Penulis kira Martha tidak mengharapkan menjadi seorang triliuner seperti dikatakan Justin Deely, namun setidaknya ia bisa menjadi seorang ibu hebat, yang bisa membahagiakan ketiga anaknya walau tidak bersama seorang ayah layaknya anak-anak yang lain.  Martha, dengan ketegaran hati seorang ibu,  engkau mampu menjahit sayap anganmu yang pernah patah dan terluka! Selamat berjuang semoga sukses  usahmu!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *