NTTPos- Sabu Raijua – Kejadian bencana banjir dan longsor akibat hujan lebat dipicu siklon tropis Senyar yang melanda 3 Provinsi di Pulau Sumatera, Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 lalu masih menyisakan duka mendalam bagi bangsa ini.
Rilis BNPB RI pada 18 Desember 2025, dari 52 kabupaten/kota terdampak, total korban meninggal 1.068 jiwa, hilang 190 jiwa, terluka 7 ribu jiwa, pengungsi mencapai 500an ribu serta kerusakan pada berbagai infrastruktur.
Ditengah duka nasional ini, beragam bentuk dukungan terus diberikan dalam upaya percepatan pemulihan baik oleh pemerintah, stakeholder lainnya hingga relawan dari sejumlah daerah.
Menanggapi kejadian yang memilukan bangsa, ketua FKUB Sabu Raijua, Pdt Anton Himu, S.Th berharap penanganan dilakukan bersama dan meyakini Pemerintah dapat mengatasinya dengan baik.
“Kejadian yang menimpa saudara-saudari kita di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat merupakan peristiwa yang memilukan. Duka yang dialami adalah duka kita bersama sebagai anak bangsa ini”ucapnya
Menurut pendeta anton, Dari wilayah selatan NKRI, kami juga turut merasakan duka mendalam yang dialami para keluarga korban atas peristiwa memilukan tersebut.
“Karena itu sangat penting sekali kita mendukung baik dalam doa maupun tindakan nyata, sehingga dengan pertolongan Tuhan lewat semua pihak yang terlibat dalam penanganan, mereka dapat pulih lebih cepat”. Ucapnya
Dikatakannya, FKUB Sabu Raijua juga mendukung upayah pemulihan yang sementara dikerjakan oleh pemerintah.
“Kami juga mendukung upaya pemulihan yang dilakukan pemerintah baik dari tingkat nasional maupun pemerintah daerah dan semua pihak lainnya”katanya
Kehadiran Presiden Prabowo di lokasi terdampak serta penanganan yang dilakukan , menurut pendeta anton merupakan hal positif dan tepat sehingga penanganan dapat lebih baik.
Ia menegaskan bahwa penanganan oleh pemerintah merupakan hal yang harus dilakukan dengan serius karena korban sangat butuh dukungan, teristimewa dukungan pemerintah pusat.
“Karena kita tahu bahwa pemerintah merupakan perpanjangan tangan Tuhan di dunia ini. Lewat segala kekuatan yang ada kiranya bantuan dapat lebih cepat dinikmati oleh para korban”ujarnya
Ia berharap Pemerintah dapat bercermin dari pengalaman-pengalaman penanganan bencana yang terjadi di masa lalu sehingga pengendalian situasi saat ini bisa berjalan dengan lebih baik.
Dirinya juga menyayangkan terkait maraknya berita hoax yang terkesan mengadu domba masyarakat dengan pemerintah ditengah bencana Sumatera,.
“Hoax yang kian marak beredar di medsos berpotensi melemahkan peran pemerintah. Dan hal ini sangat disayangkan jika terus dibiarkan”.kesalnya
Saat ini, menurut Pendeta anton , yang paling penting adalah kerjasama, sinergitas yang baik antara semua pihak sehingga masyarakat bisa lebih cepat tertolong.
“Bukan saatnya untuk saling menjatuhkan atau menonjolkan diri. Saatnya kita bahu membahu bekerjasama beri pertolongan”. Ungkapnya.
Ia juga menghimbau kepada masyarakat agar jangan mempercayai berita -berita hoaks yang membenturkan pemerintah dan masyarakat dan berharap pihak keamanan bisa menindak oknum-oknum penyebar berita seperti itu.
“Jika ada pihak-pihak yang berupaya menyebarkan informasi hoax, saya pikir perlu peran aparat keamanan untuk menangani hal ini. Kita beri kepercayaan kepada aparat keamanan untuk atasi hal ini. Sehingga bangsa ini tidak terpecah belah”.himbaunya
Sebagai tokoh agama serta ketua FKUB Sabu Raijua, dirinya berpesan agar pemerintah menggandeng semua pihak untuk bekerjasama dalam penanganan bencana.
“Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan unsur lainnya perlu dilibatkan karena Apapun yang dilakukan dalam penanganan, kita perlu bekerjasama sehingga komunikasi berjalan baik, terutama terkait kebutuhan prioritas serta trauma healing”.pungkasnya

