Spiritualitas yang Ritualistik, Bukan Reflektif

Oleh: Ilhamsyah Muhammad Nurdin

Apakah pengamatan singkat dari orang luar cukup adil untuk menilai kehidupan batin suatu masyarakat? Sejauh mana seseorang yang bukan lahir dan besar di Sikka berhak berbicara tentang spiritualitas masyarakatnya? Dan mungkinkah refleksi dari sudut pandang orang yang datang, tinggal, dan belajar bersama masyarakat justru membuka ruang dialog yang lebih jujur, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami?

Tulisan ini tidak lahir dari posisi orang dalam yang tumbuh bersama nilai-nilai Sikka sejak kecil. Tulisan ini lahir dari pengalaman seseorang yang datang dari luar, kemudian hidup, mengajar, dan berinteraksi sehari-hari dengan mahasiswa, keluarga, dan ruang sosial di Maumere. Apa yang ditulis di sini bukan klaim kebenaran tentang masyarakat Sikka, melainkan catatan reflektif dari pengamatan yang terbatas, parsial, dan sangat mungkin keliru. Namun justru karena keterbatasan itu, refleksi ini penting untuk dibuka sebagai bahan diskusi, bukan sebagai vonis sosial.

Dari pengamatan tersebut, kehidupan spiritual di Sikka tampak begitu hadir dalam ruang publik. Rumah ibadah ramai, ritus keagamaan dijalani dengan khidmat, dan bahasa iman sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Spiritualitas terlihat hidup, mengakar, dan menjadi identitas sosial yang kuat. Namun pada saat yang sama, dalam ruang-ruang kecil seperti kelas, obrolan mahasiswa, cerita keluarga, dan dinamika sosial muncul cerita tentang kelelahan hidup, konflik relasi, tekanan ekonomi, kekerasan yang dinormalisasi, serta luka batin yang jarang mendapatkan ruang bicara.

Sebagai orang luar, sulit untuk tidak bertanya: mengapa spiritualitas yang begitu hadir secara ritual belum sepenuhnya menjadi ruang refleksi psikologis? Mengapa doa dan ibadah yang dijalani secara rutin belum selalu membantu individu memahami emosi, mengelola konflik, atau memulihkan luka relasi? Pertanyaan ini bukan tuduhan, melainkan kegelisahan seorang pendatang yang mencoba belajar membaca realitas sosial dengan kacamata psikologis.

Dalam banyak percakapan informal, terlihat bahwa beragama sering kali dijalani sebagai kewajiban sosial. Hadir dalam ibadah menjadi bagian dari kepatuhan komunal. Ketidakhadiran mudah dinilai sebagai penyimpangan. Dalam situasi seperti ini, spiritualitas berisiko dijalani lebih sebagai identitas dan rutinitas, bukan sebagai proses refleksi batin. Ibadah tetap berjalan, tetapi ruang untuk jujur terhadap diri sendiri baik itu tentang marah, kecewa, takut, dan lelah sering kali tidak tersedia.

Ketika persoalan hidup muncul, respons yang sering terdengar adalah ajakan untuk bersabar dan berdoa. Dari luar, ini tampak sebagai kekuatan iman. Namun dari kacamata psikologi, ada risiko ketika doa menjadi satu-satunya jawaban atas persoalan psikologis yang kompleks. Bukan karena doa keliru, tetapi karena doa kadang digunakan untuk menghindari proses refleksi, komunikasi emosional, dan pencarian bantuan. Luka batin tidak diproses, hanya diterima sebagai bagian dari nasib.

Sebagai pengajar yang berinteraksi dengan mahasiswa, kegelisahan ini semakin terasa. Ada mahasiswa yang rajin beribadah, tetapi kebingungan dengan arah hidupnya. Ada yang taat secara ritual, tetapi menyimpan kecemasan, kemarahan, dan rasa tidak berharga. Dalam ruang akademik, persoalan ini jarang dibicarakan. Dalam ruang spiritual, ia sering disederhanakan. Akibatnya, banyak anak muda belajar untuk diam dan bertahan, bukan memahami dan bertumbuh.

Pengamatan dari luar juga melihat adanya jarak antara ritual dan relasi. Spiritualitas tampak kuat di ruang ibadah, tetapi tidak selalu hadir dalam relasi keluarga dan sosial. Kekerasan masih dimaklumi, alkohol menjadi pelarian, dan konflik sering diwariskan tanpa disadari. Ini bukan ciri khas Sikka semata, tetapi fenomena sosial yang menjadi lebih terasa ketika spiritualitas belum sepenuhnya reflektif.

Nilai kepasrahan yang dijunjung tinggi dalam budaya lokal, dari sudut pandang orang luar, terlihat sangat mulia. Namun ada kalanya kepasrahan itu bergeser menjadi sikap diam terhadap penderitaan yang seharusnya dibicarakan. Bukan karena masyarakat tidak peduli, tetapi karena tidak tersedia bahasa psikologis untuk membedakan antara menerima dan menyerah.

Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa spiritualitas masyarakat Sikka salah atau gagal. Sebaliknya, justru karena spiritualitas begitu kuat, muncul harapan besar bahwa ia dapat menjadi ruang penyembuhan yang lebih dalam. Spiritualitas yang tidak hanya ritualistik, tetapi juga reflektif yang memberi ruang untuk bertanya, merasakan, dan bertanggung jawab secara emosional.

Sebagai orang luar, harapan itu disampaikan dengan rendah hati. Bukan untuk mengajari, melainkan untuk mengajak berdialog. Karena sering kali, pandangan dari luar bukan untuk menggantikan suara orang dalam, tetapi untuk memantik refleksi bersama.

Pada akhirnya, tulisan ini adalah undangan agar spiritualitas tidak berhenti pada kesalehan simbolik, tetapi berani masuk ke ruang refleksi psikologis, dimana ruang di mana manusia Sikka, dengan segala kekuatan dan lukanya, dapat dipahami secara lebih utuh dan manusiawi.

 

*Penulis adalah Dosen di Universitas Muhammadiyah Maumere.

 

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *